Produk Industri Karoseri Didominasi Model Kendaraan Niaga Truk

Kendaraan niaga truk merupakan kendaraan niaga dengan komposisi terbesar yang dikerjakan oleh para pelaku usaha karoseri, yakni lebih dari 80%.
Yudi Supriyanto | 24 Mei 2018 21:20 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH

Bisnis.com, JAKARTA—Kendaraan niaga truk merupakan kendaraan niaga dengan komposisi terbesar yang dikerjakan oleh para pelaku usaha karoseri, yakni lebih dari 80%.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) T.Y. Subagio mengatakan, komposisi produksi kendaraan niaga truk yang dilakukan oleh para pelaku usaha karoseri menjadi dominan lantaran penjualan bus pada periode Januari—April 2018 tidak terlalu besar.

“[Komposisi] 80% [truk] karena untuk bus sendiri tidak begitu besar, yang banyak untuk truk,” kata Subagio kepada Bisnis, Kamis (24/5/2018).

Subagio menuturkan, lebih tingginya produksi kendaraan niaga truk yang dilakukan oleh para pelaku usaha industri karoseri tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang tengah dikerjakan oleh pemerintah.

Kemudian, perkembangan industri di dalam negeri juga menjadi salah satu penyebab pemesanan kendaraan niaga truk dapat terjadi pada empat bulan pertama tahun ini.

Tidak hanya itu, komposisi kendaraan niaga truk yang lebih tinggi juga dapat terlihat dari penjualan ritel data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Berdasarkan data Gaikindo yang bisnis lihat, total penjualan ritel kendaraan niaga truk pada Januari—April 2018 mencapai 35.634 unit. Pencapaian tersebut lebih tinggi 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 26.790 unit.

Penjualan ritel truk dengan ukuran GVW 5—10 ton masih menjadi yang terbanyak pada empat bulan pertama tahun ini.

Sementara penjualan ritel truk dengan GVW di atas 24 ton menjadi yang terbanyak kedua. Adapun truk dengan GVW 10—24 ton tercatat menempati posisi kedua terbanyak dalam penjualan ritelnya pada empat bulan pertama tahun ini.

Masih dalam data Gaikindo, total penjualan kendaraan niaga truk pada Januari—April 2018 lebih tinggi jika dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu.

Berbeda dengan truk, penjualan kendaraan niaga bus dari Januari 2018 sampai April 2018 tercatat lebih rendah jika dibandingkan empat bulan pertama tahun lalu, yakni dari 1.499 unit menjadi 1.215 unit.

Penjualan ritel kendaraan niaga bus, baik dengan ukuran GVW 5—10 ton, 10—24 ton, dan di atas 24 ton, menunjukkan penurunan pada empat bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, baik bus dan truk, penjualan ritel kendaraan niaga pada Januari—April 2018 tumbuh 30,26% dibandingkan periode Januari--April 2017.

Meskipun pertumbuhan penjualan ritel kendaraan niaga mengalami pertumbuhan sebesar 30,26%, Subagio memperkirakan, pertumbuhan produksi kendaraan niaga yang dikerjakan oleh para pelaku usaha karoseri dalam anggota Askarindo berkisar antara 5%—10%.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat terjadi lantaran tidak semua pelaku usaha karoseri menjadi anggota Askarindo. Sementara itu, data Gaikindo merupakan data keseluruhan tentang kendaraan niaga yang ada di dalam negeri.

“Tapi, memang data Gaikindo bisa mewakili apa yang dilakukan karoseri. Prinsip bisnis karoseri, yang memesan ke karoseri diler bukan konsumen langsung,” katanya. Oleh karena itu, lanjutnya, data yang dijual oleh diler dapat menunjukkan jumlah kendaraan yang dikerjakan para pelaku usaha karoseri.

Tag : Askarindo, Karoseri Gunung Mas, Kendaraan Niaga Truk
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top