Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Jangan Cuma BEV, Pelaku Usaha Berharap Mobil Hybrid Dapat Insentif

Pemberian insentif untuk kendaraan listrik di Indonesia dinilai perlu menyentuh segmen kendaraan listrik hybrid.
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 02 Desember 2022  |  14:54 WIB
Jangan Cuma BEV, Pelaku Usaha Berharap Mobil Hybrid Dapat Insentif
Ilustrasi kendaraan listrik. - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri otomotif berharap pemerintah dapat memberikan insentif fiskal yang merata bagi seluruh segmen kendaraan listrik.

Direktur Corporate & External Affairs PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai pemberian insentif semestinya juga menyentuh segmen kendaraan listrik hybrid, tak hanya untuk kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV).

“Mobil listrik kan bukan BEV saja, ada hybrid juga. Saat ini kan, BEV masih mahal, kalau dari kami berharap yang hybrid juga bisa dapat insentif,” ujar Bob disela-sela Seminar Nasional Toyota di ITB, dikutip Jumat (2/12/2022).

Menurutnya, insentif yang merata pada semua jenis mobil listrik akan mendorong lebih jauh lagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

“Karena prinsipnya seluruh lapisan masyarakat ingin partisipasi mengurangi emisi dan menghemat bahan bakar,” lanjut Bob.

Bob menambahkan, mobil hybrid juga dapat menghemat BBM dan menekan emisi bisa mencapai sebanyak 50 persen.

“Walaupun Hybrid tidak sampai nol, tapi 50 persen kan bisa. Dengan Zenix ini kami ingin sampaikan ke publik bahwa dengan teknologi hybrid pun kita bisa hemat bahan bakar 50 persen. Kalau seluruh mobil bisa hemat 50 persen kan, luar biasa kontribusinya bagi penghematan BBM,” imbuhnya.

Adapun, Staf Khusus Menko Perekonomian Bidang Pengembangan Industri dan Kawasan I Gusti Putu Surya Wirawan mengatakan, hingga saat ini kebijakan nonfiskal pun masih belum seimbang untuk segala jenis mobil listrik.

“Ada juga insenstif nonfiskal, seperti kendaraan berbasis listrik yang bisa masuk ganjil genap. Sayangnya, ini yang berbasis listrik masih diskriminasi, ya hanya yang full listrik yang boleh ganjil genap harusnya kendaraan-kendaran half listrik, seperti HEV dan PHEV harus diberikan insentif nonfiskal juga,” ungkap Putu.

Oleh sebab itu, menurut Putu, kajian-kajian untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik tidak hanya mengkaji dari sisi industri saja, melainkan dari kebijakannya juga.

“Jadi tidak hanya melakukan kajian-kajian dari sisi industri manufaktur, tapi juga kajian berkaitan dengan insentif,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik toyota motor manufacturing indonesia Insentif Mobil Listrik
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top