Kendati Sudah Ekspor, Produk Aftermarket Sulit Raih Pasar Lokal

Salah satu hambatan dalam pengembangan produk aftermarket lokal adalah kesadaran dari konsumen yang masih menilai produk impor lebih baik.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  21:32 WIB
Kendati Sudah Ekspor, Produk Aftermarket Sulit Raih Pasar Lokal
Pengunjung mengamati mobil modifikasi saat pameran mobil aftermarket dan modifikasi di JCC, Jakarta, Kamis (23/2/2017). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Produk modifikasi dan aftermarket di industri otomotif nasional dinilai masih kesulitan untuk mengembangkan pasar lokal kendati sudah mulai melebarkan sayapnya ke pasar ekspor.

Founder National Modificator & Aftermarket Association (NMAA) Andre Mulyadi menyatakan salah satu hambatan dalam pengembangan produk aftermarket lokal adalah kesadaran dari konsumen. Menurut dia, konsumen lokal masih memiliki stigma bahwa produk impor lebih baik dari produk lokal.

“Sebenarnya kan di Indonesia  justru konsumen berpikir bahwa  produk luar lebih baik ketimbang produk lokal,” kata Andre kepada Bisnis, Rabu (5/2/2020).

Hal itu juga diakui oleh Founder Karma Body Kit, produsen body kit dalam negeri, Kiki Anugraha. Menurutnya, salah satu kesulitan dalam mengembangkan produk aftermarket di Indonesia adalah kepercayaan konsumen.

Konsumen di Indonesia masih cenderung ragu dengan kualitas produk buatan lokal. Padahal, menurut Kiki kualitas produk aftermarket lokal sudah dapat disandingkan dengan produk luar negeri.

Misalnya saja, produk body kit miliknya sudah diekspor ke Amerika Serikat. Bahkan, dari 17 unit yang sudah dipasarkan sejak 2018, 80 persen di antaranya dikirim ke luar negeri. Selebihnya, jelas dia, terjual di pasar lokal.

Menurut Kiki rendahnya minat konsumen lokal menggunakan produk aftermarket lokal lantaran harganya yang berbeda tipis dengan produk impor. Padahal, kualitas yang ditawarkan oleh produk aftermarket lokal sudah setara dengan produk-produk luar negeri.

“Jadi, produk dengan bahan lokal kualitasnya sama dengan tuner aftermarket di luar,” ujar Kiki kepada Bisnis.

Selain kurangnya edukasi, biaya pengiriman juga menjadi salah satu hambatan dalam berkembangnya produk aftermarket lokal. Hal ini, kata Kiki kerap kali membuat konsumennya dari luar negeri urung membeli produk miliknya.

“Harusnya 90 unit terjual setiap bulan, tetapi tidak tercapai? Pasalnya, harga shipping terlalu tinggi, terlalu mahal,” ucapnya.

Andre mengatakan salah satu solusi yang dilakukan terkait dengan kurangnya kepercayaan konsumen yakni dengan cara terus melakukan edukasi. Salah satunya dengan menempatkan produk-produk lokal di pameran modifikasi seperti Indonesia Modification Expo (IMX).

Menurut dia, keterlibatan produk-produk aftermarket lokal ke pameran-pameran dapat meruntuhkan stigma produk impor lebih baik. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya produk lokal yang mengikuti pameran di IMX tiap tahunnya.

Pada tahun pertama IMX, Andre mengatakan ada sekitar 15 produk lokal. Jumlah itu bertumbuh pada 2019 menjadi 20 produk. Harapannya pada tahun ini paling sedikit 50 produk lokal dapat ikut ambil bagian di IMX 2020.

“Produknya semakin banyak dan di lokalnya sudah mau terima. Jika sebelumnya market tidak mau menyerap, maka dengan adanya edukasi, pengguna lokal sudah mau menyerap,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
modifikasi mobil, IMX 2019

Editor : Oktaviano DB Hana
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top