Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI ALAT TRANSPORTASI : PMDN Naik PMA Turun, Pabrik Onderdil Tambah Kapasitas?

Penanaman modal dalam negeri di sektor industri alat transportasi dan alat angkutan lainnya pada semester pertama tahun ini bertumbuh, sedangkan investasi asing mengalami penurunan. Industri komponen otomotif diduga mulai meningkatkan kapasitas.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  13:15 WIB
UMKM Binaan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) Juga Memproduksi Komponen Otomotif. Ilustrasi - JIBI
UMKM Binaan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) Juga Memproduksi Komponen Otomotif. Ilustrasi - JIBI

JAKARTA—Penanaman modal dalam negeri di sektor industri alat transportasi dan alat angkutan lainnya pada semester pertama tahun ini bertumbuh, sedangkan investasi asing mengalami penurunan. Industri komponen otomotif diduga mulai meningkatkan kapasitas.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), penanaman modal dalam negeri (PMDN) industri alat angkutan dan transportasi lain pada semester pertama 2018 bertumbuh 27,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp926,4 miliar. Adapun jumlah proyek bertambah 60% menjadi 117 unit.

Sebaliknya, investasi asing di sektor ini merosot 59,6% dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu menjadi hanya US$343,6 juta. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya jumlah proyek sekitar 4,7% menjadi hanya 603 unit.

Pada saat yang bersamaan, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), produksi kendaraan bermotor mobil meningkat 4,4% dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu menjadi 624.408 unit.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Azhar Lubis mengatakan bahwa yang termasuk investasi sektor industri alat angkutan dan transportasi lain ialah industri komponen dan suku cadang.

“Peningkatan kapasitas produksi kendaraan dalam negeri ikut mengerek investasi pada komponen dan suku cadang,” ujar Lubis, Selasa (20/8).

Sejumlah merek pabrikan mobil menaikkan kapasitas pabriknya, dan meluncurkan produk terbaru mereka dalam setahun terakhir, seperti Mitsubishi, Toyota, Daihatsu, dan Suzuki.

Mitsubishi telah menaikkan kapasitas produksi Xpander secara bertahap dari semula 5.000 unit per bulan menjadi 10.000 unit. Mitsubishi juga telah memindahkan keseluruhan produksi Pajero Sport ke pabrik di Indonesia.

Adapun Toyota pada Februari 2018 meluncurkan model hatchback-nya all-new Yaris. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia menyatakan telah berinvestasi sekurangnya Rp2 triliun untuk melahirkan model terbaru Yaris yang diproduksi di pabrik Karawang.

Sebelumnya, generasi terbaru Toyota Rush dan Daihatsu Terios diluncurkan pada Kamis (23/11/2017). Dua produk kembar yang diproduksi di pabrik Astra Daihatsu Motor di Sunter, Jakarta Utara.

Suzuki tidak ketinggalan dengan andalannya Ertiga. Suzuki meluncurkan secara perdana all-new Ertiga pada di arena Indonesia International Motor Show (IIMS), April 2018. Selain laris di pasar domestik, Ertiga didedikasikan untuk memenuhi pasar global.

Lubis mengatakan bahwa peningkatan produksi kendaraan telah menarik industri komponen menambah investasinya. “Industri komponen dan suku cadang yang tidak mencapai skala ekonomis, sekarang menjadi tercapai skala keekonomiannya.”

Dia mengungkapkan contoh baja yang sebelumnya hampir semuanya diimpor sekarang terdapat dua perusahaan yang memproduksi baja otomotif. Pendalaman ini mendorong pemain baru untuk masuk industri kendaraan bermotor.

Namun, Asosiasi komponen otomotif skala kecil menilai peningkatan produksi mobil tidak terlalu berdampak pada permintaan komponen produksi industri kecil. Peningkatan investasi sektor alat angkut diduga itu diduga dilakukan oleh pabrikan dan pemasok lapis (tier) pertama yang mulai mengadopsi industi 4.0.

“Tidak ada yang mengatakan kelebihan pesanan, masih seperti biasa," ujar Wan Fauzi, anggota Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (Pikko) Indonesia, Selasa (21/8).

Dia menuturkan, pelaku IKM belum menambah investasi karena permintaan belum naik signifikan. "Kalau volume naik baru kami investasi. Tantangan sekarang memang otomatisasi dari industri 4.0," tambahnya.

Pasalnya, upah tenaga kerja di beberapa lokasi pabrik seperti di Bekasi, Cikarang, ataupun Kerawang sudah cukup tinggi. "Tuntutan memang sudah ke otomatisasi. Mereka mungkin sudah melihat itu sehingga berinvestasi duluan," jelasnya.

Realisasi Investasi Sektor Industri Alat Angkutan dan Transportasi lain

Termasuk dalam realisasi investasi sektor industri alat angkutan dan transportasi lainnnya ialah industri komponen dan suku cadang. Peningkatan kapasitas produksi kendaraan dalam negeri ikut mengerek investasi pada komponen dan suku cadang.

PeriodePMDN Nilai (Rp Miliar)Jumlah ProyekPMA (US$ Juta)Jumlah Proyek
Triwulan II/2018554,881121,7483
Triwulan I/2018371,636221,9120
Triwulan IV/2017229,882121,9506
Triwulan III/2017374,024208,0136
Triwulan II/2017531,853348,0481
Triwulan I/2017195,120503,5152

Sumber: BKPM, 2018

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Investasi Otomotif Industri Komponen

Sumber : Bisnis Indonesia, Edisi Kamis (23/7/2018)

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top