Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Faisal Basri Sebut Pengembangan Ekosistem EV Bakal Gagal

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik atau EV tidak bisa berjalan sendirian, apalagi dengan daya riset dan pengembangan yang minim.
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai cita-cita pemerintah untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir di Indonesia tidak akan terlaksana.

Ekonom senior Indef Faisal Basri menyebutkan bahwa dalam membuat sebuah produk kendaraan listrik, Indonesia tidak bisa sendirian, terlebih komponen kendaraan yang digadang-gadang bisa kurangi emisi karbon ini tidak sedikit.

“Ingin mengembangkan industri, memang Indonesia punya sampai bijih nikel itu, tapi ingin punya ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir di Indonesia, tidak ada satu negara pun yang memproduksi 100 persen komponennya yang ribuan itu dari negaranya sendiri, jadi ya tidak bisa,” tutur Faisal, Minggu (21/5/2023).

Terlebih menurut Faisal, saat ini Indonesia tengah menjajaki gejala dini deindustrialisasi atau penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap PDB.

Selain dari kinerja manufaktur, deindustrialisasi juga bisa dilihat dari semakin besarnya porsi pekerja informal dalam struktur pekerjaan di Indonesia. “Harusnya berkaca jika Indonesia sedang mengalami gejala dini deindustrialisasi,” tambah Faisal.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian menampik adanya gejala dini deindustrialisasi di Indonesia dengan alasan industri manufaktur Indonesia tetap bertumbuh.

Di sisi lain, Faisal juga menyebut pengembangan banyaknya komponen kendaraan listrik membutuhkan penelitian atau research and development (RnD) yang memadai. Sementara kini, menurutnya RnD Indonesia hanya 0,28 persen dari PDB.

“Jadi dengan RnD rendah inovasi pun rendah, terlebih industri ini kecepatan perubahan teknologi ini sangat cepat. Nanti ditakutkan Indonesia tertinggal, ketika dunia telah menggunakan sodium ion yang jauh lebih murah, pabrik baterai Indonesia masih menggunakan nikel, lithium ion,” jelas Faisal.

Sejauh ini, pemerintah telah memulai pengembangan industri kendaraan listrik yang dinilai komprehensif. Dari sisi baterai, pemerintah menugaskan konsorsium IBC menggandeng korporasi besar yakni LG Energy dan CATL guna mengolah bijih nikel hingga menjadi sel baterai untuk kemudian digunakan manufaktur baterai.

Dari sisi hilir, pemerintah berupaya memperbesar populasi kendaraan listrik baik roda dua maupun empat, melalui berbagai stimulus fiskal hingga subsidi. Persoalannya, untuk membangun ekosistem yang besar tersebut, sampai sekarang beberapa mineral krusial seperti litium masih perlu diimpor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Widya Islamiati
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper