Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengintip Kesiapan Isuzu Astra (IAMI) Menghadapi Standar Euro-4

Setelah standar Euro 4 untuk mobil bensin diberlakukan pada 2018, kebijakan serupa untuk mesin diesel semestinya mulai berlaku 7 April 2021. Namun, dampak pandemi Covid-19 membuat pemerintah memundurkan jadwal 1 tahun. Bagaimana kesiapan pabrikan mobil diesel?
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 29 April 2021  |  08:05 WIB
Truk logistik melewati jalan tol di Tb Simatupang, Jakarta, Rabu (28/4/2021).   Implementasi standar Euro 4 akan menguntungkan para pemilik kendaraan niaga dan logistik, termasuk Isuzu. Selain kian hemat BBM, kendaraan juga makin mudah perawatannya.  - Bisnis.com
Truk logistik melewati jalan tol di Tb Simatupang, Jakarta, Rabu (28/4/2021). Implementasi standar Euro 4 akan menguntungkan para pemilik kendaraan niaga dan logistik, termasuk Isuzu. Selain kian hemat BBM, kendaraan juga makin mudah perawatannya. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah standar Euro 4 untuk kendaraan bensin diberlakukan pada 2018, kebijakan serupa untuk mesin diesel semestinya mulai berlaku pada 7 April 2021. Namun, dampak pandemi Covid-19 membuat pemerintah memundurkan jadwal 1 tahun. Bagaimana kesiapan pabrikan mobil diesel?

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyatakan kesiapannya menerapkan standar emisi Euro 4 yang diminta pemerintah. Bahkan, pabrikan spesialis mobil bermesin diesel ini jauh-jauh hari telah menyiapkan teknologi produknya untuk menghadapi era standar baru.

“Kami sangat siap. Karena sejak 2011, kendaraan Isuzu sudah menggunakan teknologi common rail yang kompatibel dengan BBM solar Euro 4,” ujar Product Development Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Tonton Eko saat menjadi pembicara pada acara Isuzu Talkshow: Peluang Indonesia di Pasar Global dengan Implementasi Euro 4 via daring dari Jakarta, Rabu (28/4/2021).

Hadir juga sebagai pembicara, Kasubdit Ilmate Kementerian Perindustrian Dodiet Prasetyo.

Tonton menjelaskan, pihaknya sudah siap menyambut pemberlakuan standar emisi Euro 4 untuk tiga kategori baik produk, layanan after sales atau purna jual, serta fasilitas pendukungnya.

Dari sisi produk, Isuzu Giga sudah memiliki mesin common rail sejak 2011, kemudian Isuzu Elf pada 2018, dan terakhir pada 2019 produk Isuzu Traga yang diekspor, sudah bermesin common rail.

Kemudian untuk layanan purna jual servis dan suku cadang, Isuzu diperkuat 2.403 partshop, 45 bengkel mitra Isuzu, dan 139 unit bengkel Isuzu Berjalan. Sedangkan untuk fasilitas pendukung baik perusahaan dan karoseri juga sudah disiapkan, termasuk dukungan enam mitra perusahaan pembiayaan.

Ia menambahkan, BBM untuk standar emisi Euro 4 nantinya tentu akan lebih tinggi ketimbang Euro 2 yang saat ini ada di Indonesia. Namun, kendaraan Isuzu sudah memiliki mesin yang dirancang dengan BBM spesifikasi Euro 4.

Tonton menjelaskan, jika bicara kendaraan komersial, pasti bicara pada logistic cost yang terus meningkat. Hal itu tentu akan menambah beban bagi pelaku usaha. Apalagi, 30 persen biaya kendaraan adalah di BBM.

“Makanya, Isuzu yang kendaraannya nomor satu di 39 negara, tentu kami punya kelebihan-kelebihan. Makanya kami berikan solusinya, kita tekankan ke konsumen bahwa kendaraan Isuzu mesinnya irit bahan bakar, awet, dan tahan lama. Tentu itu membantu menekan cost,” tutur Tonton.

Ia menjelaskan, penerapan standar emisi Euro 4 itu terkait produksi. Artinya, mulai 7 April 2021, seluruh pabrikan harus memproduksi unit yang sesuai standar Euro 4, standar yang berlaku secara global.

Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu meminta para menteri terkait agar segera menuntaskan regulasi soal penurunan emisi gas rumah kaca. Hal ini terkait komitmen Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen pada 2020 dan naik menjadi 29 persen pada 2030 sesuai konvensi perubahan iklim yang telah diratifikasi Indonesia.

Itulah mengapa pemerintah mengharuskan kendaraan menerapkan standar emisi Euro 4 dan pengembangan biodiesel 30 persen (B30) yang diresmikan Presiden akhir tahun lalu. Standar Euro 4 mensyaratkan RON minimal 92 dan kandungan sulfur maksimum 50 ppm. Dengan demikian BBM lebih berkualitas dan efisien. Keuntungan lainnya adalah kualitas udara semakin baik yang berkontribusi positif bagi kesehatan masyarakat.

Menurut Dodiet Prasetyo, penerapan Euro 4 adalah suatu keharusan. “Pemerintah ingin industri nasional menerapkan standar yang sesuai standar global. Industri otomotif kita harus mengacu standar global. Jadi tidak hanya mampu menjadi tuan rumah di negera sendiri, tapi juga mampu ekspor,” tutur Dodiet.

Ditambahkan, penerapan Euro 4 untuk kendaraan diesel ditunda hingga 7 April 2022 karena terkendala pandemi Covid-19. Sedangkan, standar Euro 4 untuk kendaraan berbahan bakar bensin telah dilakukan pada 2018.

Ia menjelaskan, kebijakan penerapan standar Euro 4 untuk kendaraan diesel itu sebenarnya sudah dicanangkan lama. Pemerintah memberi waktu agar industri bersiap, selain itu pemeritah juga berusaha memastikan ketersediaan BBM yang sesuai standar Euro 4 di seluruh Indonesia.

Dodiet optimistis industri otomotif nasional akan terus tumbuh. Saat ini saja, penjualan otomotif yang sempat terpuruk karena pandemi, sudah mulai tumbuh. Penjualan ritel otomotif pada Maret 2021 telah di atas 77.000 unit, sedangkan bulan sebelumnya sekitar 46.000 unit.

“Kenaikan 65 persen ini merupakan optimisme pasar, bagaimana sektor otomotif mulai tumbuh, bisa jadi jump start pemulihan sektor otomotif,” tutur dia.

EKSPOR

Ia juga optimistis, penerapan Euro 4 tahun depan juga akan diikuti peningkatan ekspor otomotif. Target yang ditetapkan pemerintah, sesuai apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat melepas ekspor Isuzu Traga pada 2019 lampau. Ketika itu Presiden menargetkan pada 2025, Indonesia harus mampu mengekspor 1 juta unit kendaraan.

Ia mengakui, target Presiden itu disampaikan sebelum pandemi Covid-19. Namun, kata Dodiet, dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai baik saat ini, pemerintah optimistis target itu bisa tercapai.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor di Indonesia (Gaikindo), volume ekspor industri otomotif nasional sepanjang Januari hingga Maret 2021 sebanyak 78.820 unit, atau naik 0,3 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu 78.576 unit.

Tonton juga mengungkapkan optimismenya terkait ekspor mobil Isuzu. Ia menargetkan, tahun depan pihaknya akan mengekspor Isuzu Traga sekitar 5.000 hingga 6.000 unit. Sebelumnya, Isuzu Traga sudah diekspor sebanyak 2.689 unit dengan nilai total sekitar US$28 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

isuzu astra motor indonesia Standard Euro 4 Isuzu Traga
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top