Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Dia Alasan Toyota Tempuh Ragam Jalan Turunkan Emisi Alias Multipathway  

pemasaran EV saat ini masih terbatas dari sisi merk maupun jumlah. Penguasa pasar seperti Toyota belum memasarkan model EV setelah memamerkan prototipe Innova BEV.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  15:10 WIB
Tampilan mobil listrik baterai bergaya futuristik, Toyota LQ Concept - Istimewa
Tampilan mobil listrik baterai bergaya futuristik, Toyota LQ Concept - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Antusiasme terhadap electric vehicle (EV) bergulir di tengah transisi energi secara global. Kampanye penggunaan EV telah merasuk ke dalam kebijakan tiap negara di dunia. 

Di sisi lain, dari dalam negeri, pemasaran EV saat ini masih terbatas dari sisi merk maupun jumlah. Penguasa pasar seperti Toyota belum memasarkan model EV setelah memamerkan prototipe Innova BEV.

Bahkan, Toyota lebih memilih mengkampanyekan program transisi energi dan penurunan emisi karbon melalui ragam jalan alias multipathway yang menyajikan berbagai produk bukan hanya EV.

Sebagaimana disampaikan Indra Chandra Setiawan, Project General ManagerToyota Daihatsu Engineering & Manufacturing Co. Ltd (TDEM ZEV). Dia mengungkapkan Toyota memang telah  berkomitmen untuk memproduksi 3,5 juta unit BEV pada 2030, 1 juta unit di antaranya merupakan merk premium Lexus.

“Hanya saja, prioritas pasar produk-produk tersebut mencakup Amerika Utara, Eropa, dan China,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional di Universitas Diponegoro, Rabu (25/5/2022).

Sebaliknya, Toyota melihat peluang lebih realistis untuk mengejar penurunan emisi, khususnya di kawasan Asia dengan memproduksi multiteknologi listrik. Mulai dari HEV, PHEV, BEV, hingga FCEV.

Alasannya, jelas Indra, setiap wilayah dan kawasan memiliki keragaman selera, daya beli, hingga geografis. Semisal, untuk produk HEV, bakal lebih diterima masyarakat karena tidak mengubah apapun dari cara berkendara, tanpa pembangunan ifnrasturktur pendukung, dan memugkinkan untuk produksi massal dalam waktu singkat.

Sedangkan produk teknologi PHEV dan BEV, sejauh ini hanya bisa dijangkau segmen masyrakat yang berdaya beli tinggi. Alasannya, para konsumen harus mempunyai akses charging pribadi, serta harga yang tinggi dari produk lantaran penyematan baterai.

Sementara teknologi FCEV sangat cocok untuk moda transprotasi public mulai dari truk hingga bus. Lasannya, dengan teknologi sel listrik, maka bus dan truk tidak lagi dibebani baterai yang cukup berat.

Bahkan saat ini, China pun telah melirik pengembangan multipathway tersebut tanpa mendiskriminasi teknologi selain BEV. Selama satu dekade, China telah menghabiskan sekitar US$105 miliar untuk pengembangan EV.

“Namun tingkat kepemilikan EV masih sedikit juga di sana, sehingga harus lebih signifikan dengan adanya ragam teknologi. Tahun ini China mulai melihat kebijakan multipathway tersebut,” jelas Indra.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top