Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menjala Investasi Tesla, Jangan Jadi Sia-sia. Lihat Fakta Berikut Ini

Tawaran pemerintah kepada Elon Musk selaku pemilik Tesla Inc. dan SpaceX yaitu investasi di kawasan Kalimantan Utara (Kaltara). Tanpa pasar dan rantai pasok material kendaraan listrik yang efisien, sepertinya sulit menggaet investasi Elon.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  17:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA- Momentum pertemuan CEO Tesla Elon Musk dengan para petinggi negeri ini membuat harapan membuncah akan hadirnya investasi raksasa otomotif listrik tersebut di Tanah Air. Para pejabat hingga Presiden Joko Widodo bergiliran menyambangi Musk.

Sambutan hangat Elon, baik saat meladeni rombongan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan beserta Pandu Sjahjrir (Wakil Direktur Utama TOBA sekaligus Komisaris BEI) maupun menjamu kunjungan khusus Presiden Joko Widodo, telah menyiratkan lembaran baru hubungan Tesla dan Indonesia.

Maklum saja, sebelumnya Tesla yang telah digadang-gadang bakal mendirikan pabrik malah bergeming hingga sekarang. Lebih mengecewakan, Tesla malah sesumbar menanamkan modal besar untuk pembangunan pabrik mobil di India, serta mengandalkan pasokan nikel Australia. Indonesia ternyata belum mendapat tempat di hati Elon.

Dengan pertemuan yang berlangsung dalam dua episode di markas Tesla, antara Elon dan pejabat tinggi negeri ini, maka harapan kehadiran investasi teknologi tinggi seperti mobil listrik kembali terbuka. Ingat, lobi ini bukan kaleng-kaleng.

Indonesia memang membutuhkan Tesla selama ingin mengejar industrialisasi kendaraan listrik. Menggaet Tesla berarti menempuh rute tercepat mengerek level industri otomotif nasional. Perusahaan milik Elon itu, sejauh ini merupakan pemegang pasar terbesar mobil listrik dunia.

Predikat itu diperoleh karena Tesla berhasil menguasai pasar mobil listrik terbesar di dunia. China, Eropa, dan Amerika dalam genggaman Elon. Untuk itu, Tesla menebar pabriknya di daratan Eropa, Amerika Serikat, juga India.

Sebagai pionir yang berhasil memassalkan produk mobil listrik, Tesla menguasai teknologi elektrifikasi tersebut. Terutama berkaitan dengan pengembangan model baterai kendaraan. Pabrikan tersebut menggandeng para produsen baterai besar, seperti CATL dan Panasonic.

Hampir seluruh model produk Tesla menggendong baterai ion lithium berbahan nikel.  Bahkan, produk-produk Tesla itu pula yang memperkenalkan jenis baterai berbalut nikel dengan kandungan yang tinggi.

Bekerja sama dengan Tesla karena itu sangat menggiurkan. Tentunya, bukan sekadar menawarkan pasokan bahan mentah hasil tambang saja. Ingat, pemerintahan Presiden Joko Widodo masih mengharamkan ekspor hasil tambang tanpa penghiliran.

Di sisi lain, meskipun tidak menyinggung soal investasi Tesla, Elon malah mengutarakan maksud kerja sama SpaceX. Hal itu disampaikan saat bertemu langsung Presiden Jokowi.

Sebaliknya, di Indonesia, para pejabat sudah mulai memberikan pernyataan apa saja yang diinginkan Elon. Salah satu pernyataan itu dilontarkan Kepala BKPM/Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

Bahlil mengatakan Elon kepincut mendirikan pabrik mobil sekaligus pabrik baterai di Indonesia. Informasi jelasnya, kata Bahlil, belum bisa diungkapkan.

“Tapi Alhamdulillah, berkat tangan dingin dan intuisi presiden, Tesla Insya Allah masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Apalagi jika berkaca pada fakta yang ada, investasi otomotif menuju proyek elektrifikasi masih berjalan stagnan. Lihat saja data realisasi investasi otomotif selama kuartal I/2022, malah merosot tajam di tengah gencarnya upaya pemerintah mengundang calon investor.

Pada kuartal I/2022, total investasi sektor otomotif tercatat sebesar US$280,5 juta. Nilai yang didapat tersebut terpangkas 48,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalau sebesar US$548,7 juta.

Di sisi lain, investasi terbesar masih disumbangkan pabrikan asal Jepang, notabene pabrikan ‘negeri sakura’ masih dianggap bertransformasi secara lambat ke arah elektrifikasi. Pabrikan China bahkan malah hampir nihil dalam membenamkan investasi untuk produk elektrik. Tersisa hanya Korea Selatan yang mengguyur investasi besar pada tahun lalu.

Dari sisi pasar, produk kendaraan listrik juga masih tersendat. Korea Selatan melalui Hyundai masih merupakan sandaran terbesar dalam pemasaran mobil listrik. Total penjualan EV (electric vehicle) Hyundai mencapai 137 unit selama Januari-April, setara 84,04 persen total penjualan EV.

Di posisi ini, kehadiran Tesla akan berperan sebagai game changer. Karena itu, pemerintah terlihat sangat “kebelet” terhadap Elon.

FAKTA LAIN

Pemerintah Indonesia menawarkan investasi kepada Elon Musk di Kawasan Industri Kalimantan Utara (Kaltara)/Antara

Persoalannya, Tesla tak seperti pabrikan mobil listrik lainnya. Jika Hyundai bernyali untuk berinvestasi besar di Indonesia meskipun eksositem mobil listrik belum terbentuk, pabrikan asal Korea Selatan itu bisa memanfaatkan kapasitas produksinya untuk lebih dulu mengoptimalkan produk mesin konvensional. Begitupun pabrikan lainnya.

Tesla hanya mempunyai lini produk EV. Selebihnya, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu justru membangun SpaceX yang fokus menggarap proyek luar angkasa.

Tentunya, dengan fakta demikian, kepentingan Tesla terhadap Indonesia adalah untuk mengamankan pasokan material nikel sebagai bahan baku baterai listrik. Namun belakangan, Tesla mengungkapkan telah menggunakan baterai katoda berbahan besi lithium iron phosphate atau LFP yang belakangan lebih efisien ketimbang bijih nikel limonit dan kobalt.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho menilai tren ini bakal membuat posisi tawar nikel Indonesia kalah bersaing dengan bahan baku baterai kendaraan listrik yang telah digunakan untuk mobil listrik Tesla Model 3 tipe Standard Range.

“Ketika harga nikel dunia meningkat akibat moratorium ekspor nikel Ore dari Indonesia, Elon mencari cara dan ketemu bahwa salah satu sumber baterai yang murah dan aman itu menggunakan LFP, sehingga kita lihat kompetisi antara baterai yang diproduksi oleh LFP dan nikel kobalt,” ungkapnya.

Elon juga memboyong raksasa baterai asal Jepang, Panasonic untuk menggenjot produksi baterai di Amerika Serikat. Panasonic diminta mengembangkan baterai 4680 yang memanfaatkan nikel kelas tinggi, bukan kelas rendah.

Fakta lainnya, penambangan nikel dan kobalt sejauh ini masih disangsikan sepadan dengan prinsip ESG (environmental, social, governance) sebagai pilar baru pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Di sisi lain, Indonesia sepertinya tak berkecil hati. Setelah pertemuan “tingkat tinggi” dengan Elon, masih terbuka peluang Tesla mendirikan pabrik mobil sekaligus baterai. Terkait ESG, belakangan Tesla justru terlempar dari kategori tersebut berdasarkan survei S&P ESG 500.

Lebih jauh, ternyata Indonesia masih punya menu menarik buat Elon, yakni proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, yang ditetapkan akan menggunakan moda transportasi sepenuhnya berteknologi listrik.

Meskipun belum diungkap secara gamblang, proposal investasi yang ditawarkan kepada Elon adalah kawasan Kalimantan Utara (Kaltara) yang dikelilingi proyek tambang material seperti nikel. Tentunya, kawasan Kaltara pun dekat dengan IKN, artinya cukup mendekatkan basis produksi dan calon pasar untuk Tesla. Apakah ini cara agar Tesla menepati janjinya? Menarik untuk ditunggu perkembangan selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik Tesla Motors elon musk Luhut Pandjaitan Presiden Joko Widodo IKN
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top