Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Navya Arma Perdana Beroperasi di Indonesia, Ini Sejarah Perkembangan Mobil Otonom di Dunia

Pengembangan dan uji coba kendali otonom mengalami kemajuan signifikan pada 1996 ditandai dengan kehadiran uji coba mobil hasil riset University of Parma, Italia.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 21 Mei 2022  |  20:00 WIB
Mobil Otonom.  - WeRide.
Mobil Otonom. - WeRide.

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia akan mengembangkan dan menggunakan kendaraan nirsopir atau otonom (autonomous vehicle/AV) yang diterapkan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Dalam perkembangannya, sistem tersebut dimulai lebih dari 25 tahun lalu.

Dikutip dari buku Agus Tjahajana Wirakusumah berjudul “Industri Otomotif untuk Negeri; Menjadi Pemain Utama Era Mobil Listrik”, pengembangan dan uji coba kendali otonom mengalami kemajuan signifikan pada 1996. 

“Hal itu ditandai dengan proyek ARGO yang digawangi Alberto Broggi dari University of Parma. Proyek itu memodifikasi produk legendaris Lancia Thema,” tulis Agus dikutip pada Sabtu (21/5/2022).

Di situ tertulis uji coba menghasilkan jarak tempuh hingga 1.900 kilometer yang dituntaskan selama enam hari mengelilingi Italia Utara. 

Uji coba menunjukkan kemampuan kendali automasi kendaraan bisa digunakan pada kecepatan 90 km per jam. Bahkan, selama perjalanan itu disebutkan penggunaan kendali automasi telah mencapai 94 persen dari seluruh perjalanan. 

Lancia Thema berteknologi automasi itu dilengkapi kamera video dan stereosopic vision algorithms yang membantu teknologi automasi menguasai medan sekitar. 

Pada awal milenium baru, teknologi automasi dikembangkan lebih jauh untuk keperluan militer. Pemerintah AS telah merintis kendaraan militer kendali automasi seperti Demo I, Demo II, dan Demo III yang seluruhnya dibiayai anggaran negara. 

Kendali kendaraan bisa diarahkan secara jarak jauh dengan kontrol secara real time. Kemampuan kendaraan di setiap medan terjal bisa lebih mumpuni dibandingkan dengan menggunakan kemudi manusia. 

Di sisi lain, dalam  satu dekade belakangan teknologi kemudi automasi semakin ramai dibahas. Ini menyusul maraknya produk-produk yang dipamerkan pabrikan. 

Pada 2010, General Motors bersama kongsi SAIC dari Cina merilis produk automasi seperti Pride, Magic, dan Laugh. Produk-produk tersebut memiliki kemampuan untuk memarkir otomatis serta menghindari tabrakan. 

Produk tersebut disematkan teknologi kendali automasi yang memanfaatkan teknologi masa kini. Bahkan, mobil Audi yang telah disematkan teknologi kendali automasi telah memiliki kemampuan setaraf pengemudi manusia. 

Produk besutan proyek Audi TTS itupun bisa menempuh jarak 20 kilometer jalanan terjal dan memutar di Pike Peak, Amerika Utara. Waktu tempuh yang dihasilkan pun 27 menit. Sedangkan umumnya orang mengemudi di sana membutuhkan 17 menit. 

Audi TTS menggunakan berbagai perangkat lunak, algoritma, serta perangkat elektronik untuk menghasilkan teknologi automasi selayaknya autopilot pada pesawat terbang. 

 

Sedangkan dari pabrikan Jepang, raksasa Toyota telah memperkenalkan Intelligent Transport Systems (ITS) yang telah dirancang untuk menghindari kecelakaan jalan raya. 

Toyota menggunakan teknologi laser dan radar untuk memaksimalkan peran kendali automasi. Teknologi ini disebut-sebut sebagai salah satu yang termaju dalam proyek peningkatan keamanan berkendara serta memiliki opsi semi automasi yang membuat pengemudi masih bisa mengambil alih kendali sekehendaknya. 

Pada 2013, pabrikan Jepang lainnya yakni Nissan meluncurkan Infiniti Q50 yang memiliki teknologi kendali automasi. Infiniti Q50 disematkan teknologi kamera canggih, radar, serta teknologi mutakhir yang memungkinkan kendaraan berjalan secara otomatis di jalan raya, juga menghindari terjadinya tabrakan. 

Di sisi lain, pengembangan yang menggemparkan justru dihasilkan Google. Perusahaan teknologi informasi yang menghuni Lembah Sillicon itu merilis kendaraan berteknologi kendali automasi dengan kemampuan sangat tinggi saat ini.

“Kendaraan tersebut berhasil menempuh jarak 500.000 mil atau sekitar 804.672 kilometer dengan sepenuhnya secara otomatis. Bahkan, dalam proses perjalanan itu, tidak terdapat kendala apalagi kecelakaan yang dialami,” tulis Agus. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top