Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Industri Komponen Otomotif Perlu Agenda Progresif

Industri komponen otomotif dinilai memerlukan agenda progresif untuk bisa melewati tekanan industri.
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Industri komponen otomotif dinilai memerlukan agenda progresif untuk bisa melewati tekanan usaha.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Putu mengatakan dengan adanya target produksi mobil hingga 2,5 juta unit pada 2020, industri komponen otomotif juga harus perkuat agar bisa bersaing dengan komponen impor.

“Industri komponen harus tahu ke mana arah permintaan dunia. Peta jalan hingga 2025 dan regulasi juga harus dikuatkan.  Selain itu juga membuat g- to-g approach dengan mereka [Jepang],” ujarnya dalam diskusi dan eksibisi industri komponen bertajuk Pengembangan Pemasok Industri Manufaktur Sub Sektor Industri, Senin (6/7/2015).

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hadi Surjadipradja mengatakan industri komponen selama ini menghadapi persoalan klasik yaitu bahan baku dan upah.

Menurutnya, penentuan upah minimum di tingkat daerah terkadang sering kali mengabaikan gambaran dan kebutuhan industri. Selain itu, kenaikan upah tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kompetensi.

“Tantangan kita itu produktivitas, ketergantungan bahan baku, serta kompetensi baik industrinya maupun tenaga kerja. Pembuat komponen di Indonesia lebih dari 1.500 pemain. Kalau kapasitas penuh, mestinya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan pemerintah perlu mengadakan pembahasan rutin antara pemasok dan pengguna guna mempertemukan kebutuhan dan kemampuan antara kedua pihak.

“Jangan sampai ada yang masuk, terus industri kita hilang. Harus ada perbaikan karena teknologi di luar juga berubah,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Shahnaz Yusuf
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper