Pasok dari Korea Selatan Terganggu, Penjualan Hyundai di Indonesia Meredup

Penjualan pabrikan otomotif Korea Selatan, Hyundai, pada tahun ini meredup. Kondisi politik dan ekonomi di Indonesia serta terhambatnya pasokan dari negeri asal jadi penyebabnya
Lingga Sukatma Wiangga | 02 Oktober 2014 06:14 WIB
Logo Hyundai. -

Bisnis.com, JAKARTA—Penjualan pabrikan otomotif Korea Selatan, Hyundai, pada tahun ini meredup. Kondisi politik dan ekonomi di Indonesia serta terhambatnya pasokan dari negeri asal jadi penyebabnya.

Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia (HIM) Mukiat Sutikno mengatakan, pada 2014 pihaknya hanya menargetkan 2.800 hingga 3.000 unit penjualan kendaraan di tataran wholesales. Tahun lalu penjualan Hyundai mencapai 3.869 unit.

Tahun ini pasar Hyundai tersandung iklim ekonomi dan politik yang fluktuatif. Konsumen pun cenderung menahan pembelian. Industri otomotif pada semester II/2014 harus menghadapi exchange rate yang berfluktuatif, rupiah yang melemah, dan suku bunga yang tinggi. Selain itu, isu kenaikan bahan bakar dinilai bisa berkontribusi menurunkan pasar.

Hal tersebut tak hanya menimpa Hyundai. Dari informasi yang dirangkum Bisnis, pelaku bisnis otomotif mengeluhkan pasar otomotif nasional secara keseluruhan pada 2014 memang kurang bergairah. Total pasar tergenjot karena ditopang pendatang baru segmen low cost green car (LCGC).

Menurut Mukiat, hal tersebut diperparah tersendatnya pasokan dari Korea Selatan. Di sana buruh pabrik meminta kelayakan lebih dalam bekerja. Maklum saja, Hyundai belum melakukan produksi di dalam negeri.

“Pasar turun karena terpengaruh kondisi ekonomi dan politik. Suplai dari Korea Selatan pun terganggu tuntutan buruh yang sangat kuat. Kami berharap pertengahan Oktober sudah dikirim,” katanya Rabu (1/10).

Raihan penjualan Hyundai pada periode Januari-Agustus 2014 hanya 1.530 unit, atau rata-rata penjualan per bulan 191 unit. Secara year to date turun dari  tahun cukup drastis dari tahun lalu yang mencapai 2.937 unit, atau rata rata penjualan per bulan 367 unit.

Meski demikian, menurut Mukiat, pihaknya berharap penjualan pada September meningkat. Hal ini tak lepas dari kontribusi pemesanan kendaraan di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014 yang mencapai 288 unit kendaraan.

Di ajang tersebut, pemesanan Hyundai didominasi produk Santa Fe 96 unit, H1 sekitar 70 unit, dan Grand I 10 sekitar 60 unit.

“Dorongan dari IIMS memang kecil. Tapi saya berharap penjualan pada September naik 15% dibandingkan Agustus,” tuturnya.

Sebagai catatan penjualan Hyundai pada Agustus mencapai 155 unit.  Mukiat mengatakan, meski pasar tahun ini lesu pihaknya tidak melakukan promosi melalui potongan harga. Sebabnya, saat volume penjualan tidak signifikan diskon bisa menyebabkan resale value anjlok.

Untuk mengatrol penjualan, dalam rencana jangka panjang HMI berencana memperluas pasar dengan bangun diler baru. Saat ini total diler Hyundai mencapai 49 outlet. Pada 2014 akan bertambah hingga dua diler yang rencananya dibangun di Palangkaraya dan Jember.

Pada 2015 mendatang Hyundai pun berencana menambah dua diler lagi. Untuk lokasinya Mukiat belum memastikan. Terkait pasar 2015 pun dia belum bisa memprediksi. Pasalnya, pihak HMI masih akan mempelajari kebijakan pemerintah baru terhadap makro ekonomi.

“Tahun depan saya belum bisa prediksi. Masih harus pelajari kondisi makro ekonomi dari kebijakan pemerintah baru,” katanya.

Sebagai gambaran, pada periode Januari-Agustus tahun ini kontribusi penjualan terbesar Hyundai disumbangkan Grand Avega 504 unit dan H1 319 unit.

Tag : otomotif, hyundai
Editor : Setyardi Widodo
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top