Bisnis.com, JAKARTA - Produsen kendaraan listrik asal China, BYD berencana menggandakan ekspor mobilnya ke luar pasar China sebanyak 800.000 unit pada 2025.
Chairman BYD Group, Wang Chuanfu mengatakan, strategi ini dilakukan dengan mengoptimalkan perakitan kendaraan secara lokal guna mengatasi hambatan tarif yang diterapkan oleh beberapa negara terhadap produk buatan China.
Pada 2024, BYD mencatat penjualan sebanyak 417.204 unit di luar negeri. Wang optimistis bahwa pangsa pasar BYD akan mengalami kenaikan signifikan di Inggris, yang dinilainya sangat terbuka terhadap produk otomotif asal China yang kompetitif.
"Selain itu, perusahaan juga melihat peluang besar untuk memperluas pasarnya di Amerika Latin dan Asia Tenggara, sebagai wilayah yang dinilai lebih ramah terhadap merek kendaraan listrik asal China," ujar Wang Chuanfu mengutip Reuters pada Kamis (27/3/2025).
Sebagai upaya mempertahankan keunggulan biaya, BYD akan tetap mengandalkan komponen utama dari China, tetapi merakit kendaraannya di negara-negara tujuan ekspor. Meski demikian, Wang tidak merinci negara mana saja yang akan menjadi basis perakitan baru tersebut.
Manajemen BYD mengonfirmasi bahwa target penjualan luar negeri pada 2025 memang ditetapkan mencapai 800.000 unit. Namun, pihaknya belum memberikan tanggapan lebih lanjut terkait pernyataan Wang lainnya.
Baca Juga
Sebagai pemimpin ekspansi kendaraan listrik China ke luar negeri, BYD telah membuka diler di berbagai negara, mulai dari Australia hingga Jerman. Langkah ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik yang saat ini menghadapi persaingan harga yang ketat.
Wang juga menegaskan bahwa sebagian besar keuntungan BYD di masa depan akan berasal dari pasar luar negeri. Meski belum dapat memastikan kapan hal itu akan terjadi, dia menyatakan bahwa ekspansi global menjadi kunci utama pertumbuhan perusahaan.
Ekspansi Pabrik di Berbagai Negara
Untuk memperkuat kehadirannya di pasar internasional, BYD terus membangun pabrik di luar negeri tanpa menggandeng mitra lokal. Dengan pendanaan yang kuat, perusahaan kini tengah membangun fasilitas produksi di Brasil, sebagai pasar terbesarnya di luar China.
Selain Brasil, BYD juga sedang membangun pabrik di Thailand, Hungaria, dan Turki. Namun, perusahaan belum memiliki rencana untuk memasuki pasar Amerika Serikat dan Kanada dalam waktu dekat, mengingat kebijakan tarif tinggi yang diterapkan kedua negara tersebut terhadap kendaraan listrik asal China.
Lebih laWang menyatakan keyakinannya bahwa profitabilitas per kendaraan BYD akan melampaui Toyota ketika mencapai skala produksi yang setara. Dia mengklaim bahwa BYD memiliki kontrol biaya yang lebih baik dibandingkan produsen mobil asal Jepang tersebut.
Sebagai gambaran, Toyota, yang merupakan produsen mobil terbesar di dunia berdasarkan penjualan, mencatatkan sebanyak 10,8 juta penjualan unit pada 2024, sedangkan BYD menjual 4,27 juta unit di periode yang sama.
Pada 2025, BYD menargetkan penjualan sebesar 5,5 juta unit dengan memperkenalkan berbagai model kendaraan listrik yang lebih terjangkau, termasuk hatchback listrik Seagull yang dijual dengan harga di bawah US$10.000.
BYD juga terus berinvestasi dalam pengembangan teknologi berkendara cerdas. Perusahaan berencana meningkatkan jumlah tenaga kerja di divisi perangkat lunak dan komponen pintar dari 5.000 menjadi 8.000 orang. Selain itu, BYD menargetkan untuk menghadirkan teknologi smart driving yang terjangkau ke pasar global pada 2026 atau 2027.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi global, BYD juga berencana mengirim lebih banyak tenaga kerja ke luar negeri guna mempercepat implementasi rencananya. Dengan langkah-langkah ini, BYD semakin mengukuhkan dirinya sebagai pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.