Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Incar Produsen AS dan China, BUMN Kejar Tayang Pabrik Baterai Kendaraan

Kementerian BUMN berupaya mengejar secepatnya operasional pabrik baterai kendaraan listrik di bawah IBC. Hal itu guna mengejar peluang dari rantai pasok global.
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 31 Oktober 2022  |  18:54 WIB
Incar Produsen AS dan China, BUMN Kejar Tayang Pabrik Baterai Kendaraan
Perakitan baterai untuk mobil listrik - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah mendirikan perusahaan produsen baterai bernama bernama Indonesia Battery Corporation (IBC), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih memiliki tantangan untuk bisa bersaing di tingkat dunia terutama tenggat operasi pabrik serta menggaet kerja sama dengan produsen otomotif global.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mengatakan strategi untuk menghadapi persaingan dua produsen baterai terbesar dunia adalah dengan cara menyelaraskan langkah dua negara produsen baterai terbesar, yakni Amerika dan China.

“Salah satu kunci dalam persaingan antara China dan AS untuk menjadi pemain dominan di baterai, saya pikir salah satu yang harus dilakukan adalah menyelaraskan Indonesia dengan dua produsen terbesar di dunia," ujar Pahala.

Namun, Pahala menambahkan untuk bisa setara dengan dua negara tersebut diperlukan waktu yang tidak sebentar. Oleh sebab itu, saat ini BUMN sedang menggenjot perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, salah satunya dengan mengoptimalkan pabrik yang dimiliki IBC saat ini.

"Pembangunan produksi baterai ini membutuhkan waktu 5-6 tahun. Indonesia tidak bisa menunggu 5 tahun. Kami harus mulai mengembangkan ekosistem EV, sekarang juga. Begitulah peta jalan yang kami miliki di IBC," terang Pahala.

Sebaliknya, seiring perebutan teknologi yang lebih efisien, pabrikan mobil listrik telah merancang baterai tanpa nikel. Hal itu seperti dilakuan Tesla, sebagaimana tertuang dalam kuartal I/2022 yang menyebutkan bahwa hampir setengah kendaraan listrik (EV) produksinya beralih menggunakan baterai berbasis besi atau lithium ferro phosphate (LFP).

Sebelumnya Tesla memang menggunakan baterai berbasis nikel (NCA/NMC). Baterai LFP sama sekali tidak menggunakan nikel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Baterai Mobil Listrik Pabrik Baterai baterai baterai lithium Baterai Lithium-Ion BUMN
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top