Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Di Tengah Tren Baterai Nir Nikel, BUMN Tetap "Pede" Jadi Pemasok Baterai Kendaraan Listrik Global

Kementerian BUMN masih optimistis Indonesia menjadi rantai pasok baterai kendaraan listrik global, bermodal cadangan nikel yang besar.
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 30 Oktober 2022  |  17:28 WIB
Di Tengah Tren Baterai Nir Nikel, BUMN Tetap "Pede" Jadi Pemasok Baterai Kendaraan Listrik Global
Menteri BUMN Erick Thohir (keempat kiri) didampingi (dari kiri) Direktur SPPU Pertamina Iman Rachman, Dirut PLN Zulkifli Zaini, Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury, Ketua Tim Kerja Percepatan Proyek EV Nasional Agus Tjahajana, Group CEO Mind ID Orias Petrus dan Dirut Antam Dana Amin saat mengikuti konferensi pers pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (26/3/2021). - ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan Indonesia memiliki potensi sebagai  rantai pasokan baterai kendaraan listrik secara global.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mengatakan, Indonesia bisa saja menjadi rantai pasokan baterai kendaraan listrik karena memiliki sekitar 35 persen komponen dalam pembuatan baterainya, dan Indonesia juga disebut sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

“Indonesia sebenarnya memiliki semua potensi untuk dapat menjadi bagian dari rantai pasokan global EV di masa depan. Karena sekitar 35 persen komponen, biaya, pembuatan EV jelas berasal dari baterai, dan Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan nikel terbesar,” ujar Mansury.

Nikel diklaim menjadi bahan dasar dengan yang dibutukan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik dengan persentase 65 persen. 

Namun, Mansury juga menambahkan bahwa tidak mudah untuk menjadi bagian pemasok baterai kendaraan listrik. Bahkan, untuk pasar Asia, karena akan bersaing dengan negeri Tirai Bambu, China yang lebih dulu berkembang dalam kendaraan listrik.

Kendati demikian, Indonesia sedang berusaha mengambil peluang untuk menjadi mitra tiga produsen baterai kendaraan listrik di dunia, terkhusus Tesla yang telah menorehkan catatan positif dalam beberapa tahun terakhir

“Tiga produsen baterai teratas di dunia dan tesla telah bergerak naik sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia saat ini sebenarnya sedang memasukinya, karena kita memiliki cadangan nikel, yang sejauh ini memiliki nikel terbesar di dunia, jadi kita harus bisa memanfaatkan peluang ini,” terang Mansury.

Sebagai informasi, sekitar 2 tahun yang lalu Kementerian BUMN telah membentuk sebuah perusahaan baru bernama Indonesia Battery Corporation, yang diinvestasikan oleh empat BUMN ternaman, seperti, Antam, MIND ID, PLN dan Pertamina.

Sebaliknya, seiring perebutan teknologi yang lebih efisien, pabrikan mobil listrik telah merancang baterai tanpa nikel. Hal itu seperti dilakuan Tesla, sebagaimana tertuang dalam kuartal I/2022 yang menyebutkan bahwa hampir setengah kendaraan listrik (EV) produksinya beralih menggunakan baterai berbasis besi atau lithium ferro phosphate (LFP).

Sebelumnya Tesla memang menggunakan baterai berbasis nikel (NCA/NMC). Baterai LFP sama sekali tidak menggunakan nikel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top