Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ford, General Motors, hingga Tesla Berebut Rantai Pasok Baterai tetapi Tinggalkan Nikel

Ford mengincar pasokan CATL guna mengamankan produksi 600 ribu unit electric vehicles (EV) hingga 2023.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  16:18 WIB
Ford, General Motors, hingga Tesla Berebut Rantai Pasok Baterai tetapi Tinggalkan Nikel
Sebuah purwarupa mobil listrik mengisi daya di bawah panel surya di dekat kantor pusat Contemporary Amperex Technology Co. (CATL) di Ningde, Fujian, China, Rabu (3/6/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa otomotif dunia seperti Ford, General Motors, hingga Tesla tengah berebut mengamankan rantai pasok baterai kendaraan, sembari mencari sumber energi paling murah seperti pergeseran dari penggunaan nikel ke arah lithium ferroposphate atau LFP.

Teranyar, kabar dari “Negeri Abang Sam” yakni Ford berburu komitmen dengan Contemporary Amperex Technology Co.Ltd. (CATL) produsen baterai asal China. Seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (25/7/2022), Ford mengincar pasokan CATL guna mengamankan produksi 600 ribu unit electric vehicles (EV) hingga 2023.

Ford telah mengerek target produksi EV untuk periode ke depan. Sedangkan pada tahun lalu, pabrikan asal Amerika Serikat (AS) itu berhasil memproduksi sebanyak 27.140 kendaraan listrik.

Harapan Ford mengamankan rantai pasok itupun sukses. Pabrikan berhasil menggaet CATL yang bisa memproduksi baterai sebesar 60 gigawatt hours (GWh) per tahun.

Tidak hanya itu, Ford juga memburu keamanan pasokan baterai untuk dua juta unit EV yang dibesut mulai 2026. Dari kebutuhan yang ada, Ford telah mengamankan pasokan sekitar 70 persen.

Hal itu seperti diungkapkan CEO Ford Jim Farley. Menurutnya, Ford telah siap untuk bergerak dengan cepat.

"Tim Model e kami telah bergerak dengan kecepatan, fokus, dan kreativitas untuk mengamankan kapasitas baterai dan bahan baku yang kami butuhkan," terangnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (25/7/2022).

Di sisi lain, Ford juga ikut arus tren penggunaan baterai kendaraan yang lebih murah, yakni Lithium Iron Posphate (Lithium Ferroposphate/LFP). Produk baterai yang telah diproduksi CATL ini dikenal lebih murah dibandingkan baterai litium berbasis nikel-mangan-kobalt (NMC).

Penggunaan paket baterai LFP akan diperuntukkan untuk produk Ford Mustang Mach-E, selanjutnya pada F-150 Lightning pada awal 2024. Hal itu dinilai akan meningkatkan produksi dua tipe kendaraan yang populer tersebut.

Ford memiliki rencana ke depannya untuk memasok 40 GWh baterai setiap tahun di Amerika Utara pada 2026, tetapi akan mengimpornya terlebih dahulu dari China (CATL) untuk produksi tahun depan.

Paket baterai lithium iron phosphate (LFP) yang diimpor dari CATL tersebut banyak digunakan di China kendati dianggap kurang kuat dibandingkan baterai NMC yang sekarang digunakan oleh Mach-E dan F-150 Lightning.

Ford menolak untuk mengungkapkan daya pada baterai LFP yang akan digunakan pada dua tipe unit kendaraan tersebut. Akan tetapi, Ford menegaskan bahwa versi jarak jauh dari Mach-E dan F-150 Lightning akan terus menggunakan baterai NCM.

Analis EV dari Bloomberg menilai pergeseran Ford ke LFP mencerminkan dorongan industri untuk memperluas kapasitas EV sambil menutup biaya baterai dan EV yang melonjak. Dalam artian, perusahaan pengembang EV tidak perlu membayar banyak untuk baterai guna memproduksi model yang lebih murah tersebut.

"Ini memberikan kelonggaran bagi produksi untuk versi kendaraan premium atau versi yang jarak jauh," terang Analis EV di BloombergNEF Corey Cantor.

Di sisi lain, CATL mengatakan akan menghabiskan sebanyak 14 miliar yuan (atau setara dengab US$2,1 miliar) untuk membangun pabrik baterai di Jining, provinsi Shandong, China. CATL pada bulan lalu telah mengumpulkan 45 miliar yuan dalam penawaran saham terbesar kedua di dunia tahun ini guna membantu mendanai ekspansinya.

Sementara itu Presiden AS Joe Biden berupaya menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun rantai pasok EV guna mengurangi ketergantungan pada China ketika ketegangan geopolitik antara kedua negara meningkat. Kendati demikian, Ford berpendapat bahwa impor baterai dari China harus dilakukan untuk memenuhi permintaan EV yang tengah berkembang.

PABRIKAN LAIN

General Motors Co. telah membangun kemitraan dengan LG Chem Ltd. asal Korea Selatan untuk membangun pabrik baterai di AS. Tidak hanya General Motors Co., Ford juga telah bekerja sama dengan Korea Selatan melalui joint venture bersama SK Innovation.Co, untuk membangun tiga pabrik baterai dan sebuah pabrik perakitan EV senilai US$11,4 miliar, di negara bagian Tennessee dan Kentucky.  

Perusahaan otomotif asal negara bagian Michigan, The Dearborn, menyebut bahwa permintaan terhadap EV di seluruh dunia tumbuh lebih dari 90 persen per tahun hingga 2026 mendatang. Prediksi tersebut melebihi hingga dua kali lipat dari jumlah yang diprediksi saat ini oleh industri.

Ford juga tengah berlomba untuk mengejar perusahaan EV terkemuka yakni Tesla Inc., sejalan dengan penggelontoran US$50 miliar guna strategi ekspansi EV sampai dengan 2026. Ford juga disebut tengah bersiap untuk memangkas sebanyak 8.000 pekerjaan dalam beberapa minggu mendatang untuk meningkatkan keuntungan dan membantu mendanai ambisi perusahaan terhadap kendaraan listrik, berdasarkan keterangan orang-orang yang mengetahui rencana tersebut kepada Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top