Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tesla Sudah Tinggalkan Nikel Kobalt, Indonesia Mengharapkan Apa?

Peluang kerja sama itu relatif sulit dilakukan lantaran Tesla sudah beralih untuk menggunakan katoda berbahan besi lithium iron phosphate atau LFP yang belakangan lebih efisien ketimbang bijih nikel limonit dan kobalt.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  13:34 WIB
Founder Tesla Elon Musk -  Bloomberg
Founder Tesla Elon Musk - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana investasi Tesla Inc. terkait dengan upaya penguatan rantai pasok global baterai kendaraan listrik di Indonesia bakal memiliki hambatan yang serius.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan peluang kerjasama itu relatif sulit dilakukan lantaran Tesla sudah beralih untuk menggunakan katoda berbahan besi lithium iron phosphate atau LFP yang belakangan lebih efisien ketimbang bijih nikel limonit dan kobalt.

Situasi itu, kata Andry, bakal membuat posisi tawar nikel Indonesia kalah bersaing dengan bahan baku baterai kendaraan listrik yang telah digunakan untuk mobil listrik Tesla Model 3 tipe Standard Range.

“Ketika harga nikel dunia meningkat akibat moratorium ekspor nikel Ore dari Indonesia, Elon mencari cara dan ketemu bahwa salah satu sumber baterai yang murah dan aman itu menggunakan LFP, sehingga kita lihat kompetisi antara baterai yang diproduksi oleh LFP dan nikel kobalt,” kata Andry melalui pesan suara, Selasa (17/5/2022).

Dengan demikian, Andry menilai, kesepakatan atau komitmen investasi dari Tesla Inc. di Indonesia belum sepenuhnya jelas. Maksudnya, kebutuhan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik untuk mobil pabrikan Tesla sudah dipasok lewat LFP tersebut.

Sementara, Andry menambahkan, bahan baku dari bijih nikel limonit dan kobalt relatif mahal dan pasokannya masih dinilai tidak memenuhi standar ESG untuk industri kendaraan listrik dunia.

“Ini yang masih menjadi pertanyaan apakah memang Tesla tertarik karena mereka sudah menemukan alternatif baterai yang lebih murah dan aman begitu, jadi untuk deal commitment investasi saya rasa masih jadi pertanyaan juga ya,” kata dia.

Di sisi lain, Andry berharap pemerintah dapat segera memperbaiki iklim investasi pada rantai pasok industri kendaraan listrik dalam negeri. Menurut dia, standar ESG yang ditetapkan oleh Tesla Inc. masih menjadi isu yang belum dapat diselesaikan oleh pemerintah.

“Tesla dapat diyakini oleh Indonesia bahwa nikel ini bisa sustainable tidak merusak lingkungan terus masalah illegal mining juga bisa terselesaikan. Mereka menginginkan rantai pasok dari hulu sampai hilir bisa sustainable, bisa memenuhi aspek-aspek ESG,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bos SpaceX dan Tesla Elon Musk mengaku antusias dengan potensi kerjasama di Indonesia berkaitan dengan sejumlah lini bisnis yang bersentuhan dengan SpaceX dan Tesla. Elon menuturkan dirinya tengah mempelajari lebih lanjut ihwal sejumlah peluang yang bisa dijajaki SpaceX dan Tesla di Indonesia.

Komitmen itu disampaikan Elon saat menyambut Presiden Joko Widodo atau Jokowi di pabrik SpaceX yang berlokasi di Boca chica, Amerika Serikat, Sabtu (14/5/2022).

“Saya sangat senang dengan masa depan Indonesia, saya antusias dengan beberapa insinyur Indonesia yang kelihatannya optimis dan punya pandangan yang positif tentang masa depan yang tentu keren, saya pikir Indonesia punya potensi besar,” kata Elon seperti dikutip dari Kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (17/5/2022).

Dengan demikian, Elon menegaskan, dirinya tengah mempelajari sejumlah peluang kerjasama di Indonesia. Peluang itu, kata dia, masih berkaitan dengan lini bisnis yang dikerjakan SpaceX dan Tesla.

“Kita bisa mencoba melihat dari sisi Tesla dan SpaceX untuk membuat sejumlah kerjasama di Indonesia, kamu tahu saya sangat digerakan dengan semangat kalian, itu sangat baik untuk melihat energi positif,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top