Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor-Impor Otomotif, Menang atas Asean tapi Dihajar China dan Jepang

Dengan volume importasi CBU yang minim 0,29% dari total impor, China justru memberikan defisit terhadap neraca dagang produk otomotif cukup besar bagi Indonesia.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  08:30 WIB
Petugas berdiri di dekat deretan mobil baru yang terparkir di PT Indonesia Terminal Kendaraan atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Kamis (11/2/2021).  - Antara Foto/Aprillio Akbar.
Petugas berdiri di dekat deretan mobil baru yang terparkir di PT Indonesia Terminal Kendaraan atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Kamis (11/2/2021). - Antara Foto/Aprillio Akbar.

Bisnis.com, JAKARTA- Pasar terbesar produk otomotif Indonesia masih berasal dari kawasan Asean. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor kendaraan bermotor dan bagiannya (HS 87), ekspor regional tercatat sebesar US$4,4 miliar.

Filipina masih menjadi negara yang banyak menyerap produk otomotif dari Indonesia. Selama tahun lalu, total ekspor ke negara tersebut mencapai US$2,08 miliar, atau lebih dari separuh total ekspor Indonesia ke Asean.

Selebihnya, Indonesia berhasil mengoleksi ekspor terhadap Thailand dan Vietnam, masing-masing US$789,6 juta dan US$856,1 juta. Pasar ekspor kedua adalah Timur Tengah, yang berhasil menorehkan nilai ekspor sejumlah US$774,7 juta.

Tidak hanya itu, produk otomotif buatan Indonesia juga digemari kawasan Amerika Latin. Meksiko dan Brazil berkontribusi terhadap ekspor otomotif masing-masing sebesar US$297,8 juta dan US$172,5 juta.

Dari data yang sama, BPS mencatat kinerja ekspor dan impor otomotif selama 2021 masih mengoleksi kinerja positif. Surplus pada tahun lalu mencapai US$1,9 miliar, dari kinerja ekspor senilai US$8,63 miliar dan impor sebesar US$6,7 miliar. Meskipun demikian, Indonesia harus mengkhawatirkan pergerakan neraca dagang dengan China.

DEFISIT

Namun demikian, Indonesia juga harus berhadapan dengan mitra dagang yang membuat jebol neraca dagang. Sebut saja dengan Jepang, neraca dagang otomotif Indonesia masih minus sebesar US$1,35 miliar, lantaran ekspor hanya mencatatkan nilai US$677,8 juta, sedangkan impor mencapai US$2,03 miliar.

Kondisi serupa juga terjadi menghadapi Thailand. Meskipun berhasil melakukan ekspor dengan nilai lumayan, defisit perdagangan dengan negara tersebut mencapai US$789,6 juta, sebab nilai importasi otomotif dari  “Negeri Gajah Putih” mencapai US$1,37 miliar.

Hal mencengangkan adalah terpukulnya perdagangan otomotif Indonesia dengan China. Importasi “Negeri Panda” melonjak drastis selama tahun lalu, dari sekitar US$114,6 juta, menjadi US$1,51 miliar. Alhasil, Indonesia neraca dagang otomotif dengan China menjadi minus US$1,38 miliar.

Data inipun menjadi menarik mengingat produk China tidak mendominasi pasar otomotif nasional, apalagi dari sisi importasi. Sebagaimana dicatat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), importasi mobil utuh (Completely Build Up/CBU), Indonesia memang harus mengakui keunggulan Thailand dan Jepang, tetapi tidak dengan China.

Berdasarkan data, volume importasi CBU selama 2021 mencapai 47.779 unit. Dari jumlah itu, Thailand mengimpor sebanyak 33.923 unit, atau 70,9% dari total impor. Sedangkan Jepang mengapalkan produk ke Indonesia sebanyak 9.136 unit, atau 19,1%.

Fakta membingungkan adalah China. Total impor CBU dari negeri tersebut hanya 139 unit, atau setara 0,29% dari total volume impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan otomotif industri otomotif
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top