Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger Kelar, Tantangan Berat Menanti Fiat Chrysler dan PSA

PSA yang berbasis di Prancis dan Fiat Chrysler yang berbasis di AS dan Italia telah melakukan penggabungan usaha.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 19 Desember 2019  |  19:04 WIB
Simbol Fiat Chrysler Automobiles (FCA) tampak di kantor pusat di Auburn Hills, Michigan, AS, 25 Mei 2019. - Reuters
Simbol Fiat Chrysler Automobiles (FCA) tampak di kantor pusat di Auburn Hills, Michigan, AS, 25 Mei 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Penggabungan usaha Fiat Chrysler dengan PSA senilai US$50 juta telah diresmikan. Namun, tantangan besar dari sisi regulasi dan tenaga kerja akan menanti mereka di langkah selanjutnya.

PSA yang berbasis di Prancis dan Fiat Chrysler yang berbasis di AS dan Italia telah mengumumkan rencana penggabungan usaha mereka sekitar 6 pekan sebelumnya. Keduanya akan bergabung menjadi perusahaan otomotif terbesar ke-4 di dunia.

Salah satu target utama merger dua raksasa otomotif itu adalah menekan biaya operasional di tengah tuntutan efisiensi untuk mengembangkan teknologi mobil listrik serta melemahnya permintaan di pasar global. Target efisiensi dipatok sekitar US$3,7 miliar dalam setahun, tanpa penutupan pabrik.

Secara total, pada tahun lalu akumulasi penjualan kedua perusahaan ini mencapai 8,7 juta unit. Namun, jumlah penjualan itu berada jauh di bawah kapasitas produksi mereka yang ditaksir mencapai 14 juta unit per tahun.

Kendati demikian, hingga saat ini kedua perusahaan itu belum menyatakan secara detail rencana mereka untuk menyelesaikan potensi ekses kapasitas produksi tersebut.

Mereka juga belum menjelaskan fokus bisnis mereka dari sisi produk dan pengembangan struktur kendaraan yang dipilih. Sejauh ini, pernyataan resmi yang telah dikeluarkan hanya menyatakan bahwa proses produksi nantinya akan berfokus pada dua platform saja.

Analis NordLB Frank Schwope menilai kesepakatan keduanya akan menghadapi tantangan berat di masa mendatang. Menurutnya, tantangan utama mereka adalah cara merealisasikan target efisiensi mereka tanpa merumahkan tenaga kerja atau menutup pabriknya.

“Perusahaan gabungan keduanya bakal melakukan penghematan besar-besaran, dan mungkin saja melalui penutupan beberapa pabrik mereka, meski mereka mungkin memilih cara penyampaian yang berbeda,” ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis (19/12/2019).

Menurutnya, persoalan efisiensi pabrik dan ekses kapasitas produksi bukan satu-satunya persoalan yang akan dihadapi Fiat-PSA. Faktor lain yang juga akan memusingkan kedua perusahaan ini adalah kebutuhan investasi besar-besaran dalam pengembangan teknologi kendaraan.

“PSA dan Fiat sama-sama jauh tertinggal dari para kompetitornya dalam hal teknologi dan varian produk,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, gabungan Fiat-PSA akan mengandalkan penjualan produk pikap Ram dan SUV Jeep di pasar Amerika Serikat untuk mendulang untung. Mereka juga diperkirakan akan memaksimalkan potensi penjualan mobil pembersih di pasar China dan Eropa.

Baik pemerintah Italia maupun Perancis menyambut kesepakatan penggabungan usaha ini dengan positif dan akan mengawasi dengan ketat langkah mereka selanjutnya untuk menghindari pemecatan tenaga kerja di negaranya masing-masing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif fiat
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top