Lokalisasi Komponen Meningkat, Impor TMMIN Turun

Penurunan itu didorong pula oleh peningkatan kerja sama dengan sejumlah produsen lokal.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  06:36 WIB
Lokalisasi Komponen Meningkat, Impor TMMIN Turun
Pekerja di Pabrik Toyota Karawang 2. - TMMIN

Bisnis.com, JAKARTA – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan impor komponen kendaraan sepanjang Januari—Agustus 2019 turun sejalan dengan penurunan penjualan dan tren peningkatan lokalisasi di Tanah Air.

Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam mengatakan penurunan itu didorong pula oleh peningkatan kerja sama dengan sejumlah produsen lokal. Salah satunya kerja sama dengan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum.

“Saya belum cek pastinya, tapi kalau dilihat dari tren lokalisasi kami impor komponen harusnya turun ya.  Apalagi, sekarang kami sudah kerja sama dengan Inalum untuk wheel disk contohnya, biasanya kan impor,” katanya kepada Bisnis, Rabu (16/10/2019).

Dia mengatakan, hal ini juga berdampak terhadap kenaikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) model-model tertentu yang diproduksi TMMIN. Rata-rata TKDN mobil yang diproduksi kini mencapai kisaran 60%—65%.

Menurutnya, produkan TMMIN dengan TKDN paling tinggi saat ini adalah Kijang Innova, mencapai lebih dari 70%. Adapun, model dengan TKDN paling rendah adalah sedan Vios di kisaran 60%.

Dia mengatakan bahwa sejauh ini impor komponen masih didatangkan dari sejumlah negara utama seperti Jepang dan Thailand. Suplai kebutuhan alumunium juga masih lebih banyak disuplai dari Dubai, Uni Emirat Arab.

Dia mengatakan salah satu kendala dalam lokalisasi komponen kendaraan saat ini adalah kualitas dan konsistensi produksi. Sulit bagi penyuplai lokal untuk meningkatkan kualitas produknya karena memerlukan investasi besar.

“Kami pernah punya pengalaman dengan supplier, proses trial and error-nya berat untuk mereka, harus sabar, tekun dan membutuhkan biaya. Saya rasa pemerintah juga harus membantu mereka dengan insentif, seperti pajak,” katanya.

Total produksi Toyota mencapai 377.788 unit kendaraan sepanjan Januari—Agustus 2019, turun 2,5% secara tahunan. Adapun, total penjualan ritel Toyota pada periode ini turun 8,8% secara tahunan menjadi 212.888 unit.

Di sisi lain, total impor kendaran utuh atau completely built up (CBU) Toyota mencapai 16.308 unit, turun 12,6% dari periode yang sama tahun sbelumnya. Sementara itu, masing-masing ekspor CBU, terurai atau completely knocked down (CKD), dan komponen Toyota mencapai 58.925 unit turun 5,8%, 30.100 (tumbuh 4,5%), dan 52,39 juta (turun 5,8%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Komponen Otomotif, TMMIN

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top