Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pabrikan Mobil Makin Realistis: Volkswagen Gandeng Didi Chuxing

Setelah bertahun-tahun cenderung menolak perusahaan transportasi berbasis teknologi (ride-hailing) dan berkeyakinan tidak akan bernasib sebagai pabrikan massal yang hanya mendapatkan keuntungan tipis, merek-merek mobil besar kini makin realistis dan melunak. Salah satunya adalah Volkswagen AG.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 01 Mei 2018  |  12:50 WIB
Logo Didi Chuxing tampak  di pusat pengemudi di Toluca, Meksiko, 23 April 2018. /Reuters.  - Reuters
Logo Didi Chuxing tampak di pusat pengemudi di Toluca, Meksiko, 23 April 2018. /Reuters. - Reuters

Bisnis.com, BEIJING - Setelah bertahun-tahun cenderung ‘menolak’ perusahaan transportasi berbasis teknologi (ride-hailing) dan berkeyakinan tidak akan bernasib sebagai pabrikan massal yang hanya mendapatkan keuntungan tipis, merek-merek mobil besar kini makin realistis dan melunak. Salah satunya adalah Volkswagen AG.

Volkswagen, pembuat mobil terbesar di dunia, baru-baru ini diketahui telah melakukan pembicaraan dengan Didi Chuxing, perusahaan China terbesar untuk layanan transportasi berbasis teknologi (ride-hailing).

Keduanya berencana membentuk usaha patungan, yang akan mengelola sebagian armada Didi Chuxing, dan mengembangkan kendaraan khusus untuk layanan dari perusahaan transportasi berbasis teknologi itu.

Sebagai bagian dari kesepakatan antara Volkswagen dan Didi Chuxing diperkirakan ditandatangani pada awal bulan depan. Pada tahap awal, pabrikan mobil Jerman ini akan mengelola sekitar 100.000 kendaraan baru Didi, yang dua pertiganya adalah mobil-mobil Grup Volkswagen, kata seorang eksekutif senior di produsen mobil itu.

Volkswagen juga akan bersama-sama membeli beberapa mobil baru dengan Didi untuk memungkinkan perusahaan China itu memperluas armadanya. Bahkan, kedua belah pihak juga merencanakan kolaborasi untuk merancang dan mengembangkan kendaraan khusus.

Eksekutif tidak memberikan rincian keuangan dari kesepakatan itu tetapi mengatakan bahwa Volkswagen akan mendapatkan pendapatan begitu usaha itu berkembang.

Layanan transportasi berbasis teknologi memang makin populer, terutama di  kota-kota padat seperti Beijing dan Shanghai. Hal ini sekaligus menjadi sinyal awal yang akan mengikis kepemilikan mobil pribadi.

Tentu saja, kecenderungan tersebut bisa berdampak serius bagi pembuat mobil, dan memaksa perusahaan seperti Volkswagen untuk menemukan kembali bisnis mereka dan mencari aliran pendapatan di masa depan.

"Untuk sukses sebagai perusahaan mobil di ekosistem baru ini, kami perlu tahu siapa pelanggan kami, apa perjalanan mereka dan bagaimana strategi kami seharusnya," kata eksekutif Volkswagen. Dan, kolaborasi dengan perusahaan layanan transportasi berbasis teknologi adalah alternatifnya.

Pada akhirnya, kesepakatan Volkswagen dan Didi Chuxing akan membuka akses bagi pabrikan mobil kepada sejumlah data besar tentang perilaku pelanggan yang dikumpulkan melalui 3 juta wahana yang disediakan Didi di China setiap hari. “Tujuan utamanya adalah produksi dan penggunaan mobil otonom,” kata eksekutif Volkswagen.

PENUMPANG TUNGGAL

Kemitraan dengan Volkswagen adalah proyek pertama yang mana Didi telah mulai mengejar sebagai bagian dari aliansi luas perusahaan China itu yang baru-baru ini dibentuk dengan 31 produsen mobil dan suku cadang.

Didi mengatakan pihaknya membentuk aliansi untuk berkolaborasi, antara lain, yang pada akhirnya mengembangkan mobil khusus untuk layanannya. Misalnya, sebanyak 80% pelanggan Didi menumpang sendirian dan tidak membutuhkan mobil besar dengan empat tempat duduk, kata eksekutif Volkswagen.

Dan, kendaraan saat ini memiliki mesin dan teknologi  berbeda yang memungkinkan melaju dengan kecepatan 150 mph (250 km / jam).

Sementara itu, kendaraan khusus untuk berbagi perjalanan (ride-sharing) akan selalu berjalan jauh lebih lambat, sehingga mereka tidak perlu aerodinamis atau memiliki mesin kuat. Model ini dimungkinkan lebih sedikit tempat duduk, dan lebih banyak ruang untuk bagasi.

Didi juga memprediksi banyak armada masa depannya akan bertenaga listrik. Perusahaan telah mulai bekerja dengan pembuat mobil China GAC Motor dan CHJ Automotive untuk mendesain kendaraan listrik, sumber mengatakan kepada Reuters.

Tiga pejabat Didi mengatakan bentuk akhir dari sebuah pasar baru layanan tumpangan transportasi berbasis teknologi (ride sharing) masih belum jelas dan tidak ada yang tahu apa peran produsen mobil dan Didi itu sendiri akan bermain di dalamnya.

Pertanyaan terbuka untuk Didi adalah bagaimana memperbaiki, memelihara dan mengarahkan armada kendaraan otonom, “Pemahaman kami saat ini adalah bisa jadi pembuat mobil tidak tahu 100% cara melakukan semua itu. Didi juga tidak tahu,” kata pejabat itu.

Seorang juru bicara Didi mengatakan kedua pihak masih mengerjakan rincian tentang bagaimana kemitraan akan terlihat. "Secara potensial, kedua pihak akan fokus untuk membangun bersama-sama bisnis operasi armada, dan melihat ke area potensial lainnya seperti merancang model mobil baru untuk naik pesawat.”

Kerja-sama tersebut secara nyata telah menunjukkan bahwa lingkungan bisnis telah berubah dan pelaku bisnis pun tidak bisa melawan perubahan itu.

Setelah bertahun-tahun menolak dan berupaya bertahan dari perusahaan berbasis teknologi dan bersumpah tidak akan pernah menjadi seperti produsen kontrak untuk penjual ponsel, kini pabrikan mobil menjadi lebih fleksibel.

Industri mobil takut menjadi seperti perusahaan elektronik yang berkantor pusat di Taiwan: Foxconn, yang memproduksi jutaan ponsel untuk pihak lain seperti Apple Inc dan hanya mendapat bagian tipis dari keuntungan sebagai imbalannya.

Tahun ini, pembuat mobil seperti Fiat, Jaguar Land Rover dan Honda Motor menandatangani perjanjian untuk menyediakan ribuan mobil ke unit self-driving Alphabet Inc, Waymo. Tahun lalu Volvo dan Daimler AG mengaku akan memasok mobil ke Uber.

LOGISTIK PERANG

Volkswagen yang relatif tertinggal dari para pesaingnya seperti Daimler dan BMW dalam merangkul transformasi, baru-baru ini meningkatkan upayanya.

Volkswagen telah membuat peti perang yang bersisi amunusi senilai 15 miliar euro (US$18,2 miliar), yang rencananya akan digunakan untuk investasi dalam transportasi berbasis teknologi (ride hailing), kendaraan otonom, digitalisasi, mobilitas listrik dan layanan lain di China pada 2022.

Dana ini telah ditanam dalam firma kecerdasan buatan yang disebut Mobvoi, perusahaan berbagi mobil Shouqi dan perusahaan pembelian mobil bekas. Volkswagen juga dalam pembicaraan untuk berinvestasi di perusahaan mewah dan bisnis pengisian mobil listrik.

Setelah Volkswagen memiliki akses ke data pelanggan, ia akan dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang bisnis dan produk di masa mendatang.

"Kami akan mengeksplorasi model-model bisnis tambahan dengan Didi," kata eksekutif, menambahkan bahwa ini mungkin tidak hanya berfokus pada China. Volkswagen secara internal mendiskusikan pembagian bus dan truk.

“Kami tidak perlu memiliki semua jawaban. Uang yang kami rencanakan untuk dimasukkan ke tahap pertama akan membantu kami menemukan beberapa,” katanya.

Tidak diketahui apakah mobil-mobil baru yang disediakan oleh Volkswagen akan berupa mobil bertenaga listrik, hibrida, atau bermesin bahan bakar bensin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Volkswagen DiDi Chuxing

Sumber : Reuters

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top