Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Neraca Dagang Otomotif Defisit, Gaikindo Sepakat Impor Harus Ditekan

Di tengah tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang cukup tinggi dari pabrikan, gejala melesatnya importasi otomotif ditenggarai berasal dari segmen truk yang dipicu permintaan tinggi sektor pertambangan. Selain itu, Gaikindo juga mendorong para anggota untuk terus melakukan lokalisasi produk.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  19:10 WIB
Mobil diparkir di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) di Jakarta, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Mobil diparkir di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) di Jakarta, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan kendaraan bermotor dan bagiannya (HS 87 untuk CBU dan CKD) serta HS 98 (IKD) mengalami defisit tahun berjalan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memastikan industri terus mengejar pendalaman TKDN. 

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan bahwa asosiasinya tidak memiliki data serinci BPS karena mereka mencatat transaksi dari sisi unit.

“Anggota Gaikindo kan lokal kontennya sudah tinggi. Artinya, impor tidak harus banyak-banyak kan karena sudah buatan lokal,” katanya saat dihubungi Senin (20/6/2022) malam.

Berdasarkan analisis Gaikindo, Kukuh menjelaskan bahwa data BPS memaparkan kontribusi terbesar impor adalah truk di atas 45 ton yang dalam bentuk utuh (CBU).

Industri otomotif dalam negeri belum membuat untuk model tersebut. Sementara itu, truk besar tengah diperlukan untuk pertambangan atau komoditas lain.

“Masalahnya kan aktivitas dari sektor itu meningkat. Nah, harusnya diukur di sana bukan dibandingkan dengan sektor otomotifnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk komponen dan aksesoris yang merupakan salah satu kontribusi terbesar, Kukuh menuturkan bahwa ada beberapa jenis transmisi gear yang harus dipasok dari luar negeri. Akan tetapi hal tersebut diperlukan untuk produksi.

“Jadi memang harus ada pendalaman seperti itu. Tapi kami tidak punya data seperti itu dan itu analisis kami. Rata-rata di industri otomotif Indonesia kandungan lokal relatif cukup tinggi,” ungkapnya.

Berdasarkan data BPS, total nilai ekspor kendaraan bermotor dan bagiannya itu mencapai US$3,79 miliar. Sebaliknya, pada periode sama nilai impor telah menembus US$3,89 miliar, sehingga terjadi defisit neraca perdagangan otomotif sebesar US$95,97 juta selama lima bulan pertama tahun ini.

Paling besar yakni impor kendaraan untuk angkutan barang dengan spesifikasi berat kotor lebih dari 45 ton yang didatangkan secara CBU dengan nomor HS 87041037. Total nilai impor produk mencapai US$377,03 juta. Negara importir terbesar antara lain Jepang, India, dan China.

Kontributor impor kedua yaitu komponen untuk kendaraan penumpang seperti gear box. Produk dengan HS 87084026 ini menorehkan nilai impor hingga US$296,32 juta dari negara asal Jepang, China, dan Thailand.

Selanjutnya terdapat impor HS 98017020 atau kendaraan bermotor dalam bentuk terurai tidak lengkap (IKD/Incompletely Knock Down) yang terdiri dari kendaraan untuk angkutan barang dengan berat kotor lebih dari 5 ton tapi tidak lebih dari 24 ton. Total nilai impor tersebut mencapai US$186,08 juta selama Januari hingga Mei tahun ini.

Impor komponen dan aksesoris pun cukup tinggi. Pada urutan selanjutnya, nilai impor terbesar dipegang HS 87089980, meliputi komponen dan aksesoris untuk kendaraan penumpang hingga lebih 10 orang, serta kendaraan angkutan barang. Total nilai impor produk ini mencapai US$172,57 juta.

Selain itu, terdapat impor kendaraan untuk tujuan khusus seperti pengumpul sampah, hooklift, serta pikap yang mayoritas berasal dari Thailand. Produk dengan nomor HS 87042129 itu mencatatkan nilai impor sebesar US$154,69 juta.

Di bawahnya, terdapat produk yang kini tengah ramai membanjir di pasar Indonesia, yakni skuter/mopeds (HS 87141090). Kebanyakan produk ini berasal dari China, dengan total nilai impor mencapai US$129,3 juta selama lima bulan pertama tahun ini.

Di sisi lain, Indonesia masih mencatatkan nilai ekspor tertinggi dari pengapalan mobil utuh (CBU) bermesin konvensional dengan kapasitas silinder 1.000cc-1.500cc. Negara yang banyak menyerap produk HS 87032259 itu adalah Filipina dan Arab Saudi. Total nilai ekspor produk tersebut mencapai US$647,5 juta.

Selain itu, Filipina dan Arab Saudi pun menjadi pasar terbesar produk mobil penumpang berkapasitas silinder 1.500cc-1.800cc (HS 87032365) yang pada periode Januari-Mei mencatatkan nilai ekspor sebesar US$515,41 juta. Negara-negara tersebut ditambah Uni Emirat Arab dan Oman juga menjadi pasar terbesar produk HS 87032368 yakni mobil penumpang berkapasitas 2.500cc ke atas. Ekspor CBU itu mencapai US$383,59 juta pada Januari-Mei 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top