Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lapor Pak Jokowi! Neraca Dagang Otomotif Ambrol, Defisit Pertama Sejak 2013

Penjualan otomotif secara ekspor mencapai US$3,79 miliar sepanjang Januari-Mei tahun ini. Sebaliknya, pada periode sama nilai impor telah menembus US$3,89 miliar, sehingga terjadi defisit neraca perdagangan otomotif sebesar US$95,97 juta selama lima bulan pertama tahun ini.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 20 Juni 2022  |  11:34 WIB
Mobil diparkir di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) di Jakarta, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Mobil diparkir di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) di Jakarta, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA- Neraca perdagangan kendaraan bermotor dan bagiannya (HS 87 untuk CBU dan CKD) serta HS 98 (IKD) mengalami defisit  tahun berjalan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait ekspor dan impor kendaraan bermotor dan bagiannya pada periode Januari-Mei tahun ini terjadi peningkatan nilai impor. Saat bersamaan, nilai ekspor tetap tumbuh stabil.

Secara keseluruhan, total nilai ekspor kendaraan bermotor dan bagiannya itu mencapai US$3,79 miliar. Sebaliknya, pada periode sama nilai impor telah menembus US$3,89 miliar, sehingga terjadi defisit neraca perdagangan otomotif sebesar US$95,97 juta selama lima bulan pertama tahun ini.

Persoalannya, kejadian defisit ini sudah lama tidak terjadi pada perdagangan otomotif nasional. Terakhir, defisit terjadi pada 2013, sebesar US$862,4 juta.

Dari sisi impor, terdapat beberapa produk yang mendominasi. Paling besar yakni impor kendaraan untuk angkutan barang dengan spesifikasi berat kotor lebih dari 45 ton yang didatangkan secara Completely Built Up (CBU) dengan nomor HS 87041037.

Total nilai impor produk mencapai US$377,03 juta. Negara importir terbesar antara lain Jepang, India, dan China.

Kontributor impor kedua yaitu komponen untuk kendaraan penumpang seperti gear box. Produk dengan HS 87084026 ini menorehkan nilai impor hingga US$296,32 juta dari negara asal Jepang, China, dan Thailand.

Selanjutnya terdapat impor HS 98017020 atau kendaraan bermotor dalam bentuk terurai tidak lengkap (IKD/Incompletely Knock Down) yang terdiri dari kendaraan untuk angkutan barang dengan berat kotor lebih dari 5 ton tapi tidak lebih dari 24 ton. Total nilai impor tersebut mencapai US$186,08 juta selama Januari hingga Mei tahun ini.

Impor komponen dan aksesoris pun cukup tinggi. Pada urutan selanjutnya, nilai impor terbesar dipegang HS 87089980, meliputi komponen dan aksesoris untuk kendaraan penumpang hingga lebih 10 orang, serta kendaraan angkutan barang. Total nilai impor produk ini mencapai US$172,57 juta.

Selain itu, terdapat impor kendaraan untuk tujuan khusus seperti pengumpul sampah, hooklift, serta pikap yang mayoritas berasal dari Thailand. Produk dengan nomor HS 87042129 itu mencatatkan nilai impor sebesar US$154,69 juta.

Di bawahnya, terdapat produk yang kini tengah ramai membanjir di pasar Indonesia, yakni skuter/mopeds (HS 87141090). Kebanyakan produk ini berasal dari China, dengan total nilai impor mencapai US$129,3 juta selama lima bulan pertama tahun ini.

Di sisi lain, Indonesia masih mencatatkan nilai ekspor tertinggi dari pengapalan mobil utuh (CBU) bermesin konvensional dengan kapasitas silinder 1.000cc-1.500cc. Negara yang banyak menyerap produk HS 87032259 itu adalah Filipina dan Arab Saudi. Total nilai ekspor produk tersebut mencapai US$647,5 juta.

Selain itu, Filipina dan Arab Saudi pun menjadi pasar terbesar produk mobil penumpang berkapasitas silinder 1.500cc-1.800cc (HS 87032365) yang pada periode Januari-Mei mencatatkan nilai ekspor sebesar US$515,41 juta.

Negara-negara tersebut ditambah Uni Emirat Arab dan Oman juga menjadi pasar terbesar produk HS 87032368 yakni mobil penumpang berkapasitas 2.500cc ke atas. Ekspor CBU itu mencapai US$383,59 juta pada Januari-Mei 2022.

Melihat fakta demikian, selayaknya para pemangku kepentingan industri mengingat kembali pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Presiden mengimbau agar memperbesar kembali penggunaan produk buatan lokal, bukan memperlebar arus impor. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top