Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komitmen Awal HEV, Ini Alasan Toyota Luncurkan Innova BEV

Alasan utama Toyota Indonesia adalah strategi yang berupaya menyajikan banyak cara untuk mengikis karbon. Mulai dari mesin Fleksi, HEV, PHEV, hingga BEV.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 04 April 2022  |  13:44 WIB
Innova BEV - Bisnis/Khadijah Shahnaz
Innova BEV - Bisnis/Khadijah Shahnaz

Bisnis.com, JAKARTA- Toyota Indonesia, di dalamnya terdapat Toyota Motors Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan Toyota Astra Motor (TAM) sejak semula dikesankan lebih mengambil opsi mengembangkan produk hybrid electric vehicle (HEV) di tengah dorongan kuat menuju ekosistem battery electric vehicles atau BEV. Namun kenyataannya, Toyota Indonesia lebih dulu memamerkan Innova BEV, hal inipun memantik banyak pertanyaan.

Berdasarkan catatan Bisnis, Toyota Indonesia sebagaimana pabrikan Jepang lainnya, lebih menempuh rute lebih dulu menghadirkan produk HEV sebelum menjangkau teknologi BEV untuk produksi lokal. Hal itupun terekam dalam beberapa komitmen investasi yang diungkapkan para pabrikan kepada rombongan kunjungan pemerintah ke Jepang.

Misal, Toyota berkomitmen membenamkan modal baru Rp28,3 triliun hingga 2024. Investasi itu diperuntukkan untuk 10 model HEV dan tiga model PHEV. Begitupun Honda, Suzuki, dan Mitsubishi.

Sebaliknya, saat pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2022, Toyota membuat gebrakan berbeda. Saat publik menantikan kehadiran 10 model HEV anyar yang sejak semula disebut-sebut akan memakai model eksisting, Toyota malah mengejutkan dengan memamerkan Innova BEV.

Apakah ini sinyal adanya perubahan strategi dari Toyota khususnya dan pabrikan Jepang lainnya melihat dinamika industri otomotif dalam negeri?  Dari semula mempromotori HEV dibandingkan BEV, kini malah berbalik memprioritaskan kehadiran BEV?

Untuk pertanyaan ini, Direktur Adminsitrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam mengungkapkan bukan tujuan Toyota menutupi strategi pengembangan BEV tersebut. Hanya saja, sejak semula, prinsipal Jepang yang satu ini memang mengupayakan agar jalan menuju netral karbon bisa ditempuh dengan berbagai jalur efisiensi emisi.

“Kami terus berpikir menyajikan teknologi yang tepat untuk Indonesia. Memang akan masuk ke era karbon netral, karena itu pajak berdasarkan emisi yang rendah, persoalannya yang menikmati produk tersebut hanya golongan atas. Ini yang kami harus carikan solusi juga, bagaimana dengan kelas di bawahnya, karena itu kami pikir Hybrid masih tetap relevan, memangkas emisi kasarnya 50 persen dengan harga juga tidak mahal seperti BEV,” ungkap Bob akhir pekan lalu.

Selain itu, Bob menilai langkah Toyota yang pada akhirnya menghadirkan BEV hanya mempertegas bahwa pabrikan tersebut masih loyal dengan strategi mengurangi emisi melalui beragam jalan. Toyota kini memiliki produk yang dianggap mampu mengikisi emisi karbon dengan menggunakan teknologi mesin fleksi (BBN), hydrogen, HEV, PHEV, bahkan BEV.

Bob menyadari untuk mempopulerkan BEV, ke depannya membutuhkan banyak energi dan kolaborasi dari seluruh pihak. Misal saja untuk urusan baterai dan stasiun pengisian, hingga kini masing-masing pabrikan memanfaatkan teknologi ekslusif sehingga tidak bisa mempraktikan mekanisme penukaran baterai.

Lebih jauh, menurutnya, Toyota juga pabrikan lain yang fokus menggarap BEV akan menghadapi tantangan serupa, yakni membangun jaringan rantai pasok untuk layanan purna jual. “Karena itu dalam pengembangan BEV ini, kami pun banyak berinvestasi di sisi rantai pasok komponen,” ungkapnya.

Hal lain yang patut dipikirkan untuk menyongsong era BEV yaitu penyerapan pasar. Pertama, kata Bob, untuk harga produk BEV akan jauh lebih mahal dibandingkan mesin ICE (internal combustion engine).

“Untuk harga yang lebih mahal itu, nilai guna produk juga harus ditingkatkan. Selain itu dipersiapkan juga rancangan pembiayaan untuk kredit produk BEV yang jauh lebih mahal tersebut,” katanya.

Kehadiran Innova BEV seperti menerabas banyak hal. Selama ini, produk BEV identic dengan ongkos produksi yang mahal, terutama untuk komponen baterai, karena itu mayoritas produk tersebut berada pada segmen premium.

“Atau produk yang kecil sekalian,” tambah Bob.

Sebaliknya, Toyota Indonesia justru menghadirkan BEV dari segmen MPV medium yakni Innova. Menurut Bob, alasan utamanya adalah karena produk Kijang Innova sudah sangat akrab dengan publik Tanah Air sebagai produk lokal yang melegenda.

Dari spesifikasi, Innova BEV memiliki bobot 300 kilogram lebih berat dari Innova ICE. Sebanyak 3.000 komponen Innova ICE tidak lagi digunakan pada produk Innova BEV.

“Saat ini kami telah membangun lima unit Innova BEV, ada 2 unit dikirim juga ke Thailand. Proses pengembangan memakan waktu hingga dua tahun,” tutup Bob.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iims toyota toyota motor manufacturing indonesia Toyota Innova
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top