Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menyerah, India Alihkan Perhatian Membangun SPKLU ke Battery Swapping

Kepadatan penduduk yang menyebabkan minimnya lahan pembangunan stasiun pengisian serta tingginya harga kendaraan listrik telah menghambat populasi EV di negara dengan perekonomian terbesar ketiga di Asia itu.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 11 Februari 2022  |  18:24 WIB
Pengisian listrik.  - Vattenfall.com
Pengisian listrik. - Vattenfall.com

Bisnis.com, NEW DELHI- Pemerintah India mengungkapkan strategi adopsi kendaraan listrik dengan fokus pengembangan teknologi baterai yang bisa ditukar pakai (Battery Swapping).

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (11/2/2022), Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman menyatakan pemerintah lebih mempertimbangkan teknologi penukaran baterai dibandingkan mengembangkan stasiun pengisian daya (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum/SPKLU).

Terutama, katanya,  di kota-kota besar yang berpolusi dan padat.  “Mengingat keterbatasan ruang di perkotaan untuk mendirikan stasiun pengisian dalam skala besar, kebijakan pertukaran baterai akan dikeluarkan dan standar interoperabilitas akan dirumuskan,” kata Sitharaman.

Untuk itu, pemerintah telah mendorong sektor swasta menggenjot pengembangan. Khususnya terkait penyusunan model bisnis berkelanjutan dan inovasi layanan energi.

Strategi India ini bukan merupakan hal yang populer di dunia. Tren saat ini, kendaraan listrik didukung infrastruktur pengisian daya, kecuali di China. Terlebih lagi, perintis EV seperti Elon Musk telah mencoba hal yang serupa namun gagal.

Di lain sisi, teknologi penukaran baterai mobil justru meningkatkan efektivitas dan kenyamanan para konsumen kendaraan listrik. Penukaran baterai yang bisa selesai dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit, namun dinilai pembangunan fasilitas pengisian baterai ini akan menelan investasi yang lebih mahal dibandingkan stasiun pengisian daya.

Sejauh ini, India masih tertinggal di belakang pasar utama EV lainnya seperti China dan Eropa dalam peralihan ke kendaraan bersih. Penjualan EV di negara ini hanya 1 persen dari total, sedangkan di beberapa kota di China porsi penjualan EV telah mencapai 30 persen.  

Jaringan infrastruktur pengisian daya yang kurang serta harga mobil yang tinggi merupakan kendala utama India, sebagaimana negara-negara dengan pendapatan per kapita kurang dari $2.000 per tahun. Hal inilah yang  menghambat adopsi EV yang lebih luas di ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top