Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemulihan Ekspor 2022 Dibayangi Krisis Energi dan Kelangkaan Cip

Sejumlah situasi yang terjadi secara global mulai dari krisis energi China dan kenaikan harga komponen dapat menjadi faktor penghambat kenaikan ekspor otomotif.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 24 Oktober 2021  |  15:51 WIB
Deretan mobil Toyota siap dikapalkan di pelabuhan di Tanjung Priok Car Terminal.  - TMMIN
Deretan mobil Toyota siap dikapalkan di pelabuhan di Tanjung Priok Car Terminal. - TMMIN

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja ekspor otomotif nasional diperkirakan bisa naik 10 persen pada tahun depan. Kendati demikian, sejumlah faktor misalnya Krisis Energi China dan kenaikan harga komponen dapat menjadi faktor penghambat.

Direktur Corporate Affairs Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menyampaikan kinerja penjualan mobil di dalam negeri masih belum mencapai level normal. Sebaliknya, di sisi ekspor, pemulihannya cenderung lebih cepat dibandingkan pasar dalam negeri.

Pada tahun ini, kinerja ekspor diperkirakan mampu menembus 250.000 unit seiring dengan perbaikan permintaan dari negara mitra seperti China, Timur Tengah, dan Amerika Selatan

"Sementara itu untuk tahun depan, kami memperkirakan bisa naik ke 10 persen dari pencapaian tahun ini," katanya kepada Bisnis, Minggu (24/10/2021).

Kendati demikian, Bob menuturkan kondisi krisis energi di China masih akan menjadi pertimbangan pada peningkatan kinerja otomotif di pasar global. Pasalnya, krisis energi diperkirakan menghambat kemampuan konsumsi China.

Di samping itu, dia menuturkan produksi dalam negeri juga menemui kendala seperti kenaikan harga bahan baku seperti baja dan paladium.

Jika harga komoditas ini tidak kembali normal, maka produsen tak punya pilihan selain menaikkan harga jual. Hal ini tentu mengurangi daya saing di pasar global.

"Di luar itu, produksi mobil juga mengalami kendala kelangkaan semi konduktor. Kami juga masih perlu melihat bagaimana kondisi semi kondusktor ini di masa depan," imbuhnya.

Berdasarkan data Gaikindo, ekspor completely built up (CBU) bulanan per September 2021 mencapai 22.399 unit, naik dari dua bulan sebelumnya yang bertahan di kisaran 18.000 unit.

Dengan demikian, total ekspor mobil nasional sebanyak 207.411. Capaian ini sudah dekat dengan perkiraan Gaikindo yakni ekspor 250.000 unit sampi akhir tahun.

Jika ditelisik lebih dalam, ekspor masih dipimpin oleh Daihatsu dan Toyota dengan kontribusinya sebesar 63,2 persen, atau mencapai 131.094 unit.

Setelahnya diikuti oleh Mitshubishi dan Suzuki yang sepanjang tahun ini telah mampu membukukan ekspor masing-masing 37.222 unit dan 30.536 unit.

Sementara itu, kinerja Honda masih tampak tertekan seiring dengan kinerja penjualan dalam negerinya. Perseroan masih terus berupaya menyelesaikan kendala microchip.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gaikindo Ekspor Mobil Krisis Energi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top