Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sistem Autopilot Kembali Diduga Bikin Kecelakaan di AS

Sebelumnya Tesla tengah berada dalam proses investigasi karena diduga sistem autopilot mobilnya bertanggung jawab atas 11 kecelakaan lalu lintas di Amerika Serikat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 September 2021  |  18:50 WIB
Head unit dari Tesla Model 3.  - Antara
Head unit dari Tesla Model 3. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Regulator keselamatan mobil Amerika Serikat telah mengidentifikasi kecelakaan ke-12 yang melibatkan sistem Autopilot kendaraan Tesla.

Sebelumnya Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) pada 16 Agustus mengatakan telah membuka penyelidikan keamanan formal terhadap  sistem bantuan pengemudi Tesla (Autopilot) setelah 11 kecelakaan. Penyelidikan mencakup 765.000 kendaraan Tesla AS yang diproduksi antara 2014 hingga 2021.

Kecelakaan ke-12 terjadi di Orlando pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021, kata NHTSA. Agensi mengirim banyak pertanyaan yang harus dijawab Tesla dalam surat 11 halaman terperinci kepada Tesla pada hari Selasa, sebagai bagian dari penyelidikannya.

Mengutip Tempo, Jumat (3/9/2021), autopilot Tesla membantu beberapa tugas mengemudi dan memungkinkan pengemudi untuk menjauhkan tangan mereka dari kemudi untuk waktu yang lama. Tesla mengatakan Autopilot memungkinkan kendaraan untuk mengarahkan, mempercepat dan mengerem secara otomatis di jalur mereka.

Tesla tidak menanggapi permintaan untuk meminta komentar. 

"Perusahaan dapat menghadapi hukuman perdata hingga US$115 juta (Rp1,6 triliun dengan kurs Rp14.256) jika gagal untuk sepenuhnya menanggapi pertanyaan," kata NHTSA.

NHTSA mengatakan sebelumnya bahwa pihaknya memiliki laporan 17 cedera dan satu kematian dalam 11 kecelakaan mobil Tesla. Kecelakaan Tesla Model 3 Desember 2019 menyebabkan seorang penumpang tewas setelah kendaraan itu bertabrakan dengan truk pemadam kebakaran yang diparkir di Indiana.

NHTSA meminta Tesla untuk merinci bagaimana mendeteksi dan merespons kendaraan darurat, serta lampu berkedip, suar jalan, kerucut dan barel dan untuk merinci dampak kondisi cahaya rendah.

NHTSA mengatakan sebelumnya bahwa sebagian besar dari 11 insiden terjadi setelah gelap.

Tesla pada bulan Juli memperkenalkan opsi bagi beberapa pelanggan untuk berlangganan perangkat lunak bantuan pengemudi canggihnya, yang dijuluki "Kemampuan Mengemudi Mandiri Penuh." Tesla mengatakan fitur saat ini "tidak membuat kendaraan otonom."

NHTSA sedang mencari informasi tentang "tanggal dan jarak tempuh di mana opsi 'Full Self Driving' (FSD) diaktifkan" untuk semua kendaraan, bersama dengan semua keluhan konsumen, laporan lapangan, laporan kecelakaan, dan tuntutan hukum.

Agensi juga ingin Tesla menjelaskan bagaimana mencegah penggunaan sistem di luar area yang dimaksudkan.

Di antara pertanyaan terperinci, NHTSA juga meminta Tesla untuk menjelaskan "pengujian dan validasi yang diperlukan sebelum rilis sistem subjek atau pembaruan di lapangan untuk sistem subjek, termasuk komponen perangkat keras dan perangkat lunak dari sistem tersebut."

Tesla harus menanggapi pertanyaan NHTSA pada 22 Oktober, katanya, dan harus mengungkapkan rencana untuk setiap perubahan pada Autopilot dalam 120 hari ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif Tesla Motors Mobil Otonom

Sumber : Tempo

Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top