Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Jual Beli Mobil Lawas, Kualitas Jadi Harga Mati

Salah satu tantangan para penjual mobil klasik adalah orisinalitas. Makin mobil itu memililki komponen yang masih orisinal alias belum diotak-atik, maka nilai jualnya makin tinggi.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 06 Maret 2021  |  12:55 WIB
 Karyawan sedang menunggu konsumen di samping deretan bursa mobil bekas di Jakarta, Minggu (4/2). Tren penjualan mobil bekas di 2018 diprediksi meningkat disebabkan peningkatan produksi produk baru yang beragam terutama segemen Low Cost Green Car (LCGC). - Bisnis.com/Felix Jody Kinarwan
Karyawan sedang menunggu konsumen di samping deretan bursa mobil bekas di Jakarta, Minggu (4/2). Tren penjualan mobil bekas di 2018 diprediksi meningkat disebabkan peningkatan produksi produk baru yang beragam terutama segemen Low Cost Green Car (LCGC). - Bisnis.com/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Di rubanah (basement) Blok M Mall, Jakarta Selatan, berjejer puluhan mobil lawas beragam jenis dan merek. Mulai dari buatan Eropa hingga Jepang. Kendaraan roda empat itu tidak sedang mengikuti festival, melainkan dijejerkan untuk menarik minat para pembeli. Adapun mobil-mobil tersebut milik showroom Malique Selatan Djakarta.

Sosok pemilik showroom itu adalah Bima Maliki. Boleh dibilang dialah pelopor hadirnya mobil-mobil retro dan klasik di bursa mobil bekas yang berada tepat di bawah Terminal Bus Blok M. “Pada 2 tahun lalu, saya buka showroom di sini, awalnya yang jual [mobil retro dan klasik] cuma saya. Sekarang hampir semuanya”.

Meski mobil tersebut sudah berumur, dia menjamin kondisinya prima dan masih orisinal. Mobil-mobil ini dia peroleh dengan sangat selektif.

Sebisa mungkin mobil yang dia dapatkan tak perlu direstorasi. Selain membutuhkan biaya tak sedikit, restorasi juga menghabiskan waktu cukup lama apabila menginginkan hasil seperti kondisi mobil saat baru.

“Saya belinya agak tinggi juga enggak apa-apa asal berkualitas”.

Terkait hal ini, Bima pernah punya pengalaman. Saat itu dia mendapatkan Mercedes Benz W123 dan W210 dalam kondisi terbungkus rapi yang tersimpan lebih dari dua dekade di sebuah rumah kosong di Bandung, Jawa Barat. Pemilik mobil yang tak lagi tinggal di Tanah Air menghubunginya secara langsung untuk menawarkan dua unit mobilnya itu kepada Bima.

Tak jarang pula dia menjual mobil dalam kondisi baru stok lama (new old stock/NOS), yang angka odometernya sangat rendah dan interiornya masih terbungkus plastik. Mobil tersebut biasanya hanya disimpan di garasi tanpa pernah di gunakan atau hanya digunakan sesekali oleh pemiliknya.

Mobil dalam kondisi NOS biasanya lebih cepat terjual dibandingkan dengan mobil-mobil yang direstorasi. Terlebih jika mobil tersebut adalah mobil yang populer di zamannya. “Ya tergantung mobil juga. Mobil yang populer kaya BMW E30, Toyota Starlet, Toyota Corolla DX [KE70], Mercy [Mercedes Benz] Tiger W123 itu pasti cepat lakunya, apalagi kalau NOS.”

Selain kondisi mobil, Bima juga memperhatikan betul kelengkapan surat-surat kendaraan. Dia memastikan bahwa mobil-mobil yang ada di Malique Selatan Djakarta tak melanggar hukum dan bisa digunakan di jalan umum. “Kondisi bagus tetapi suratnya bermasalah, seperti surat kawinan nomor rangka sama nomor mesin enggak sesuai mending yang lain aja deh. Daripada saya dan pembeli kena masalah”.

Tingginya standar yang ditentukan oleh Bima tentunya berpengaruh pada tingginya harga jual. Dia sendiri tak menampik bahwa barang dagangannya seringkali dianggap terlampau mahal oleh calon pembeli, khususnya yang bukan berasal dari kalangan kolektor.

Hal tersebut menurutnya tak menjadi persoalan karena kebanyakan calon pembeli mobil retro dan klasik adalah mereka yang tak sensitif terhadap harga.

Di tempat lain, Helmy Prasetyadi, peda gang spe sialis sedan Toyota lawas di Magelang, Jawa Tengah, mengaku permintaan untuk mobil klasik tetap konsisten, baik itu dari kolektor maupun individu yang ingin nostalgia.

“Pangsa pasar enggak besar tetapi ada dan daya belinya tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, sedan Toyota lawas yang paling banyak dicari adalah Corolla KE70 atau Corolla DX keluaran 1980-1983. Modelnya yang terbilang abadi serta ketangguhan mesinnya membuat mobil yang satu ini banyak dicari.

Selain itu, sedan hatchback Starlet EP70/EP71 atau Starlet kotak juga banyak dicari. Mobil yang identik dengan tunggangan kawula muda medio 1980-an hingga 1990-an ini makin dicari setelah beberapa selebritas ibu kota merestorasinya.

Selain dua model di atas, Helmy juga ter kadang menawarkan sedan model Corolla. Di antaranya adalah Corolla KE30 atau Corolla Veteran keluaran 1970-an dan Corolla E90 atau Corolla Twincam keluaran 1990-an.

“Kebanyakan Corolla, terutama [Corolla] DX karena memang itu hobi saya. Namun sudah mulai cari-cari Starlet juga karena banyak yang cari. Intinya, saya jual sedan Toyota yang pernah populer di sini,” ujarnya.

Untuk harganya, Helmi biasa membanderol pada kisaran di atas Rp50 juta. Jika bagian-bagian mobil tersebut masih orisinal, maka harganya bisa lebih mahal lagi. "Akan tetapi,mobil yang dijual di sini kondisinya layak koleksi, direstorasi dan dibuat tampilannya seperti aslinya.”

Helmy hanya mengandalkan garasi rumahnya dan pemasaran mengandalkan media sosial pribadi. “Dari hobi jadi hoki, dagang ini juga kan tambah saudara sehobi.”

AUDIO

Selain kendaraan, aksesoris mobil klasik juga tak luput dimanfaatkan jadi ladang cuan. Peluang itulah yang ditangkap oleh Hendi Sugihendi pada 2015.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh sejak puluhan tahun lalu dan jejaring pertemanannya, dia memutuskan untuk menggeluti bisnis jual beli perangkat audio mobil keluaran lama.

Lewat akun media sosialnya, Hendi menawarkan berbagai macam perangkat audio mobil keluaran lama. Mulai dari head unit dan speaker ang jadi perangkat utama hingga perangkat tambahan seperti amplifier, equalizer dan CD (compact disc) changer.

“Kebanyakan bekas, tetapi diseleksi barangnya. Ada barang NOS tetapi ini jarang banget dan sekalinya ada pasti cepat lakunya. Barangnya dapat dari mana saja, bisa dari pemilik mobil yang jual atau toko-toko audio lama, entah di Jakarta, luar kota, atau luar negeri,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif mobil bekas
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top