Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tiga Perilaku Buruk Sopir Penyebab Kecelakaan

Meningkatnya lalu lintas kendaraan komersial seperti truk, kontainer, dan bus, di masa new normal masih diliputi oleh tingginya risiko kecelakaan yang mengintai jenis kendaraan tersebut.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  14:40 WIB
Truk sarat muatan atau over dimension over load (ODOL) melintas di jalan Tol Jagorawi, Jakarta, Selasa (14/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Truk sarat muatan atau over dimension over load (ODOL) melintas di jalan Tol Jagorawi, Jakarta, Selasa (14/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Meningkatnya lalu lintas kendaraan komersial seperti truk, kontainer, dan bus, di masa new normal masih diliputi oleh tingginya risiko kecelakaan yang mengintai jenis kendaraan tersebut.

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aprtindo), sekitar 60 persen hingga 70 persen kecelakaan truk disebabkan oleh human error, antara lain manajemen waktu berkendara yang kurang baik, perilaku pengemudi, dan keterampilan pengemudi.

Selain itu faktor lainnya adalah kondisi kendaraan termasuk kondisi ban, serta faktor eksternal, seperti kondisi geometrik jalan yang kurang memadai.

President Hankook Tire Sales Indonesia Yoonsoo Shin mengatakan kebiasaan buruk dalam berkendara dapat memicu kerusakan kondisi ban dan berdampak pada keselamatan pengendara itu sendiri.

“Kondisi ban jangan sampai terlupakan, khususnya dalam menjaga tekanan angin. Apabila tekanan ban terlalu tinggi dapat membuat daya cengkram ban terhadap permukaan jalan menjadi berkurang," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/7/2020).

Dia juga melihat ada tiga perilaku buruk dalam berkendara yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, pengendara truk sering berkendara melewati batas kecepatan dan muatan berat beban yang telah ditentukan. Sebagian pengemudi kendaraan komersial memilih untuk berkendara dengan kecepatan tinggi yang menyebabkan tidak stabilnya laju kendaraan, sehingga mengurangi efisiensi bahan bakar truk.

Kedua, pengendara truk sering menggunakan persneling netral saat melaju di jalan menurun atau landai. Alih-alih melakukan efisiensi bahan bakar, hal ini malah memicu terjadinya proses pengereman yang terlalu kuat (braking skid) atau rem panik, sehingga ban terkunci dan berhenti berputar, yang berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan beruntun.

Ketiga, kebiasaan berkendara tanpa memperhatikan lubang dan bahaya jalan lainnya. Pengemudi truk yang ceroboh berkendara di atas lubang, dan kerusakan jalan lainnya dapat merusak ban, sistem kemudi, sistem suspensi, dan lainnya.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari bahaya jalan adalah tetap waspada terhadap lingkungan dengan mengganti jalur atau memperlambat laju kendaraan untuk menghindari kerusakan.

Menurut Shin, kebiasaan berkendara yang baik pada akhirnya akan berdampak baik pula pada kondisi ban, sebagai satu-satunya elemen yang bersinggungan langsung dengan jalan. "Maka dari itu, merupakan hal yang penting untuk memilih ban berkualitas dan melakukan perawatan secara berkala,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

truk kecelakaan sopir
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top