Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tak Cuma Indonesia, Tren Bersepeda Juga Mewabah di Eropa

Pandemi Covid-19 telah mendongkrak popularitas sepeda, baik di Indonesia maupun di Eropa.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 05 Juli 2020  |  15:06 WIB
Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. ANTARA FOTO - Galih Pradipta
Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. ANTARA FOTO - Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak hanya terjadi di Indonesia, tren bersepeda juga menyebar di Eropa. Kondisi ini pun mengesampingkan penggunaan kendaraan pribadi di Benua Biru dan pandemi Covid-19 telah meningkatkan popularitas kereta angin ini.

Bahkan sebelum pandemi, sepeda telah menikmati peningkatan permintaan dari konsumen yang sadar lingkungan. Namun, risiko penularan virus corona melalui penggunaan bus dan kereta semakin meningkatkan daya tarik sepeda.

Peningkatan itu terjadi ketika negara-negara di Eropa menerapkan kebijakan penguncian wilayah. Stephanie Krone, ahli lalu lintas di asosiasi sepeda Jerman ADFC, mengatakan warga “Der Panzer” menghabiskan dua kali lebih banyak waktu bersepeda dari sebelumnya.

“Toko sepeda saat ini melihat ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi untuk melanjutkannya, pemerintah kota harus meningkatkan infrastruktur untuk mengakomodasi semua pendatang baru,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg pada Minggu (5/7/2020).

Jerman sejauh ini merupakan pasar sepeda terbesar di Eropa, dengan 1,36 juta sepeda listrik terjual pada 2019. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari jumlah penjualan pada tiga tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, 3,6 juta mobil terjual di negara itu tahun lalu, dan pasar anjlok 35 persen pada paruh pertama 2020.

Federasi Pengendara Sepeda Eropa menyatakan bahwa 32 kota terbesar di Uni Eropa telah mengajukan perbaikan fasilitas bersepeda. Belgia, Denmark, dan Belanda bahkan telah merintis jalur cepat yang dirancang untuk pengendara sepeda.

Selain itu, banyak pula rencana yang datang dengan mengorbankan jalur lalu lintas mobil. Roma, misalnya, kebanyakan hanya mengecat jalur sepeda. Adapun, Berlin dan Paris mendirikan jalur pop-up sepeda di tengah pandemi.

Di Indonesia, berdasarkan survei The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) penggunaan sepeda meningkat hingga 10 kali lipat atau meningkat 1.000 persen saat PSBB Jakarta, dibandingkan dengan pada Oktober 2019.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan bersepeda dinilai lebih aman dan dapat meningkatkan imun terhadap tubuh pada masa pandemi.

Di sisi lain, keuntungan industri sepeda merupakan wujud rasa sakit dari para produsen mobil. Menurut survei Internetstores, penjual ritel sepeda daring, konsumen melihat sepeda listrik sebagai pengganti yang cocok untuk penggunaan mobil.

Sebanyak 28 persen konsumen juga melihat e-sepeda dalam posisi yang siap menggantikan mobil sebagai alat transportasi dalam kota.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sepeda olahraga infrastruktur jalan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top