VW Perpanjang Libur Produksinya Di China

Perusahaan otomotif asal Jerman itu memperpanjang masa libur produksinya di China hingga 17 Februari 2020. Tenggat waktu itu mundur tujuh hari dari target awal dimulainya proses produksi pada 10 Februari 2020.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Februari 2020  |  04:10 WIB
VW Perpanjang Libur Produksinya Di China
Grup Volkswagen. - Wolkswagen

Bisnis.com, JAKARTA – Volkswagen AG memutuskan menunda dimulainya kembali produksi kendaraannya di China lantaran masih dibayangi oleh meluasnya wabah virus corona.

SAIC Volkswagen Automotive Co. yang berbasis di China memutuskan untuk memperpanjang masa libur produksinya hingga 17 Februari 2020. Tenggat waktu itu mundur tujuh hari dari target awal dimulainya proses produksi pada 10 Februari 2020.

Mengutip laporan Bloomberg pada Sabtu (9/2/2020), Volskwagen hanya akan memulai produksinya pada 10 Februari di satu pabrik saja. Adapaun pabrik itu terletak di Shanghai.

Kebijakan perusahaan otomotif asal Jerman itu mengikuti langkah serupa yang diambil oleh Toyota Motor Corp dan Honda Motor Co. Kedua produsen otomotif asal Jepang itu lebih dulu mengumumkan masa perpanjangan penundaan produksi kendaraannya di China.

Volkswagen dinilai sebagai salah satu pabrikan otomotif yang paling rentan terhadap dampak wabah virus corona di China, berdasarkan laporan Standard & Poor (S&P).

Pasalnya, produsen otomotif asal Jerman itu memproduksi dan menjual hampir 40 persen mobilnya di China.

“Risikonya sekitar US$3,3 miliar dalam dividen yang dibayarkan oleh perusahaan patungan Volkswagen China kepada induknya di Jerman,” demikian laporan dari analis S&P yang dipimpin oleh Vittoria Ferraris, seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (9/2/2020).

Sementara itu, produsen otomotif lainnya yakni Tesla Inc. memutuskan untuk kembali memulai produksinya sesuai jadwal yang telah ditentukan yakni 10 Februari 2020. Adapun, pabrik Tesla di China terletak di Shanghai.  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, volkswagen, virus corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top