Aliansi Nissan-Honda Dinilai Bukanlah Ide Buruk

Analis LightStream Research Mio Kato mengatakan bahwa kemitraan tersebut akan sangat menarik mengingat ancaman yang datang dari Toyota Motor Corp, yang telah menguasai sejumlah produsen mobil Jepang yang lebih kecil seperti Mazda Motor Corp, Suzuki Motor Corp, dan Subaru Corp.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  14:49 WIB
Aliansi Nissan-Honda Dinilai Bukanlah Ide Buruk
logo honda

Bisnis.com, JAKARTA - Aliansi Nissan Motor Co. dengan Honda Motor Co. mungkin terasa tidak tepat tetapi opsi ini tidak boleh sepenuhnya diabaikan jika pembuat mobil yang berbasis di Yokohama itu akhirnya memutus hubungan kerja dengan Renault SA.

Analis LightStream Research Mio Kato mengatakan bahwa kemitraan tersebut akan sangat menarik mengingat ancaman yang datang dari Toyota Motor Corp, yang telah menguasai sejumlah produsen mobil Jepang yang lebih kecil seperti Mazda Motor Corp, Suzuki Motor Corp, dan Subaru Corp.

Honda memang tidak pernah terlibat dalam aksi merger dan akuisisi yang agresif dan merger antara Honda dan Nissan mungkin tidak akan terjadi.

"Namun dengan daya saing Toyota yang meningkat kami merasa jika Nissan menginginkan mitra aliansi untuk menggantikan Renault, Honda mungkin tidak sepenuhnya menentang gagasan itu," tulis Kato dalam catatan yang tersedia di SmartKarma, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (15/1/2020).

Nissan membantah laporan yang dirilis awal pekan ini bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk mengakhiri aliansinya dengan Renault, di tengah guncangan yang menyerang aliansi produksi mobil ini setelah mantan Chairman Carlos Ghosn melarikan diri dari pengadilan di Jepang.

Produsen mobil terbesar kedua di Jepang itu menyebut aliansi dengan Renault adalah sumber daya saing Nissan.

Nissan menolak untuk mengomentari laporan yang ditulis Kato dan merujuk pada pernyataan awal perusahaan tentang aliansi dengan Renault. Sementara itu, seorang juru bicara Honda tidak dapat segera berkomentar.

Kato menambahkan produsen mobil akan cenderung untuk mencari kemitraan mengingat beban investasi mereka yang meningkat selama beberapa tahun terakhir.

Dia juga mengindikasikan bahwa industri otomotif di Jepang pada akhirnya akan dipecah menjadi dua kelompok raksasa.

Mengganti Renault dengan Honda dalam aliansi ini akan meningkatkan volume unit menjadi sekitar 12 juta unit per tahun dari di bawah 11 juta unit dan meningkatkan bauran produk, mengingat bahwa Honda memproduksi kendaraan yang lebih besar daripada Renault.

"Nissan memang memiliki kemungkinan untuk melunak di depan calon mitra, sementara itu Toyota yang ambisius terus bergerak maju dapat memicu perubahan drastis bagi perusahaan otomotif lain yang berada di luar di Jepang," tulis Kato.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nissan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


-->
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top