Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produsen Mobil Inggris Ingatkan Risiko Perjanjian Dagang Pasca-Brexit

Society of Motor and Traders mengatakan bahwa produsen mobil membutuhkan kebijakan yang membebaskan tarif dan bea cukai di perbatasan, penyelarasan peraturan dan akses yang lebih terbuka untuk bakat yang diperlukan industri.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 November 2019  |  17:08 WIB
Pabrikan mobil Inggris terbesar ini memperkenalkan uji coba live mobil swakemudi dengan mata yang mempelajari pejalan kaki.  - JAGUARLANDROVER
Pabrikan mobil Inggris terbesar ini memperkenalkan uji coba live mobil swakemudi dengan mata yang mempelajari pejalan kaki. - JAGUARLANDROVER

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen mobil Inggris memperingatkan bahwa pemerintah selanjutnya harus menyusun perjanjian dagang yang solid untuk meningkatkan daya saing dan menjaga lapangan pekerjaan mereka setelah terpisah dari Uni Eropa.

Society of Motor and Traders mengatakan bahwa produsen mobil membutuhkan kebijakan yang membebaskan tarif dan bea cukai di perbatasan, penyelarasan peraturan dan akses yang lebih terbuka untuk bakat yang diperlukan industri.

Menurut para anggota kelompok pelobi ini, jika Perdana Menteri Boris Johnson menang pada pemilu pada 12 Desember, maka kemungkinan besar Inggris resmi terpisah dari Uni Eropa sesuai dengan jadwal 31 Januari, yang akan diikuti dengan perundingan dagang.

Sangat penting agar negosiasi tersebut menghasilkan hubungan perdagangan yang dekat, yang diperlukan untuk membuka investasi dalam teknologi bebas karbon.

"Sektor otomotif sedang mengalami masa perubahan yang belum pernah terjadi sebelummnya dan kita tidak boleh membiarkan tekanan Brexit mengalihkan fokus dari strategi industri nasional yang koheren," kata Presiden SMMT George Gillespie, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (27/11/2019).

Data SMMT menunjukkan bahwa tarif yang berlaku pada impor suku cadang dan kendaraan yang diekspor, di bawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) akan meningkatkan biaya produksi sebesar 3,2 miliar poundsterling.

Kenaikan ini sudah pasti akan diikuti dengan kenaikan harga jual dan permintaan global untuk mobil di Inggris menyusut.

Menurut mereka, output otomotif dapat berkurang menjadi 1 juta unit pada tahun 2024.

Produsen mobil telah menghabiskan lebih dari 500 juta pound untuk mempersiapkan segala dampak yang dapat disebabkan Brexit terhadap bisnis mereka.

Nissan Motor Co bulan lalu mengeluarkan peringatan paling keras terhadap kemungkinan skenario no-deal Brexit, mengatakan tarif ekspor ke Uni Eropa kemungkinan besar akan membuat operasi di Inggris tidak dapat berjalan baik.

Jika Johnson terpilih kembali dia hanya memiliki 11 bulan untuk mengamankan pengaturan perdagangan terbaru dengan Uni Eropa.

Di luar isu Brexit, SMMT mengatakan pemerintah baru harus memanfaatkan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan kendaraan rendah karbon dan nol karbon.

Salah satu upaya yang diajukan SMMT adalah pengadaan gigafactory untuk produksi baterai, serta memastikan bahwa Inggris adalah pengadopsi awal kendaraan otonom .

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Brexit
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top