Pernah Gagal, Mobil Listrik Kini Jadi Primadona Otomotif Dunia

Frankfurt Motor Show 2019 yang kini tengah berlangsung menjadi salah satu ajang bagi industri otomotif papan atas Eropa untuk masuk ke pasar mobil elektrik.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 11 September 2019  |  12:08 WIB
Pernah Gagal, Mobil Listrik Kini Jadi Primadona Otomotif Dunia
Pengisian daya mobil listrik di SPLU E.ON di Essen, Jerman - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Gaung mobil listrik makin keras beberapa tahun terakhir, tak terkecuali di Indonesia pasca terbitnya beleid terkait kendaraan berbasis listrik (KBL) Agustus 2019.

Saat ini produsen otomotif global berlomba-lomba menyodorkan teknologi mobil listrik paling mutakhir demi memikat konsumen sekaligus menjaga bisnis ke depan.

Namun jika kita menengok ke belakang, beberapa produsen telah mengalami kegagalan dengan produk mobil listrik. Dilansir Reuters, Selasa (10/9/2019), Mini pernah mengeluarkan city car elektrik pada 2009. BMW juga pernah merilis fiber-built i3 pada 2013 dan Mercedes dengan B-Class elektriknya pada 2014.

Ketiga model tersebut gagal mendapat respons yang baik dari pasar. Para pembeli menyatakan keberatan atas harga jual yang terlalu tinggi, lamanya waktu pengisian daya baterai, hingga inefisiensi kemampuan baterai dengan jangkauan terbatas.

Tesla Model S

Tesla Model S

Produsen asal Amerika Serikat seperti Tesla juga pernah mengalami kegagalan yang sama. Pada 2012 mereka meluncurkan Model S. Namun, pada akhirnya mereka kesulitan meningkatkan volume produksi model tersebut.

Berbagai kegagalan itu tercermin dari tingkat penjualan mobi listrik yang mandek pada angka 1,26 juta pada 2018. Berdasarkan data JATO Dynamics, hanya 1,5% dari 86 juta mobil penumpang yang berhasil diserap pasar pada tahun lalu.

Namun hal itu tak menyurutkan upaya produsen untuk terus mengembangkan kendaraan listrik. Bahkan belakangan respons konsumen terhadap mobil listrik diyakini semakin baik.

Frankfurt Motor Show 2019 yang kini tengah berlangsung menjadi salah satu ajang bagi industri otomotif papan atas Eropa untuk masuk ke pasar mobil elektrik seiring dengan perkembangan regulasi di Benua Biru.

Dalam ajang tahunan itu, Mercedes-Benz dan Porsche memamerkan mobil mewah bertenaga listrik. Mercedes-Benz bahkan mulai berfokus pada pemasaran mobil listrik kelas atas. Strategi ini bukan hanya dilakukan oleh Mercedes-Benz. Daimler, Volkswagen, dan BMW juga telah melakukan hal yang sama.

Mereka berharap dapat membujuk pembeli untuk meninggalkan model SUV berbahan bakar minyak.

Mercedes-Benz Vision EQS

Mercedes-Benz Vision EQS

Chief Design Officer Daimler, Induk Usaha Mercedes-Benz, Gorden Wagener mengatakan bahwa pihaknya telah mengubah cara pandang mereka terhadap mobil listrik. Bahkan dia menyebut industri mobil listrik sebagai suatu yang seksi. Dalam ajang ini mereka membawa mobil konsel Mercedes-Benz Vision EQS.

“Kami sudah tidak lagi melihat mobil listrik sebagai persoalan tantangan mesin. Mobil listrik sekarang mejadi sesuatu yang seksi,” katanya.

Adapun BMW menghadirkan dua mobil sport elektrik, yakni Concept 4 dan BMW Vision Next. Mereka berharap desain mobil sport yang ditawarkan dapat meyakinkan pembeli untuk meninggalkan kendaraan berbahan bakar minyak.

“Desain dapat meningkatkan penerimaan dari teknologi baru,” kata Chief Desain BMW Adrian van Hooydonk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top