REPORTASE E-MOBILITY DI EROPA (3) : Insentif Mobil Listrik, Tirulah Eropa

E-mobility (electric mobility) adalah jawaban pasti untuk lingkungan yang lebih bersih dan sehat di masa depan, seiring dengan perkembangan teknologi media penyimpanan listrik atau baterai.
Chamdan Purwoko | 11 Juli 2018 16:51 WIB
Mitsubishi Outlander PHEV. - Bisnis.com/Chamdan Purwoko

Atas undangan Mitsubishi Motors Kramayuda Sales Indonesia (MMKSI), Bisnis berkesempatan mengunjungi Eropa pada 23-28 Juni 2018 untuk melihat langsung perkembangan pasar mobil listrik berikut pembangunan infrastrukturnya.

Reportase dari kunjungan tersebut dituangkan secara komprehensif lewat serial tulisan, mulai Senin (8/7), yang diharapkan dapat menjadi pembanding, pembelajaran atau setidaknya membuka wawasan tentang pengembangan mobil listrik. Semoga!

***

E-mobility (electric mobility) adalah jawaban pasti untuk lingkungan yang lebih bersih dan sehat di masa depan, seiring dengan perkembangan teknologi media penyimpanan listrik atau baterai.

Meski mobil listrik telah diciptakan sejak 1970-an, produksi secara massal belum bisa dimulai, hingga pabrikan berhasil membuat baterei yang dapat menyimpan listrik dalam kapasitas besar, sehingga mampu menjelajah sama jauhnya dengan mobil berbahan bakar fosil.

Kini, baterei mobil listrik sanggup menempuh jarak cukup jauh. Mitsubishi Outlander PHEV terbaru, misalnya, diklaim dapat menjelajah Jakarta-Surabaya sejauh 800 kilometer dalam satu kali pengisian penuh pada baterei dan tangki bahan bakar, tanpa perlu mengecas lagi sepanjang perjalanan.

Dalam satu dasawarsa terakhir, langkah menuju era mobil listrik pun dimulai. Ini ditandai dengan pertumbuhan pesat populasi mobil listrik (electric vevicle/EV) di seluruh dunia. “Kita sudah mulai memasuki era kendaraan listrik,” ujar Ryuichi Kimura, Senior Manager Product Planning & Market Research Mitsubishi Motors R&D Europe GmbH di Marseille, Prancis, belum lama ini.

Berdasarkan laporan EV-volume, pertumbuhan penjualan mobil listrik sepanjang kuartal I/2018 sangat fantastis rata-rata di atas 100%. Di China penjualan kendaraan listrik mencapai 113%, Kanada 114%, Belanda 122%, Korsel 138%. Finlandia dan Australia lebih fantastis dengan pertumbuhan masing-masing 144% dan 132%.

Secara volume, lebih dari 3,03 juta unit mobil listrik telah terjual di seluruh dunia dalam tempo kurang dari 10 tahun. Penjualan di China paling juara dengan angka 1,23 juta unit disusul Eropa sekitar 850.000 unit, Amerika Serikat 760.000 unit dan Jepang 220.000 unit. Data ini dipetik dari International Energy Agency (IEA).

Dari total volume tersebut, penjualan terbanyak terjadi di tahun lalu yang tercatat 1,15 juta unit, dengan kontribusi terbesar datang dari China sekitar 580.000 unit, Eropa 300.000 dan AS 200.000 unit. Ini berarti terdapat percepatan pertumbuhan penjualan mobil listrik.

Data tersebut mencakup penjualan mobil jenis battery-electric vehicle (BEV) yang sepenuhnya merupakan mobil listrik dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), mobil listrik yang masih dilengkapi dengan mesin motor bakar untuk memasok listrik ke baterei dan bisa dicas.

Meskipun tumbuh pesat, data Bloomberg New Energy Finance menyebutkan saat ini populasi mobil listrik masih relatif kecil yakni hanya 2% dari total penjualan segala jenis mobil, secara global. Namun, pada 2030 penjualan mobil listrik diperkirakan berkontribusi hingga 28%, dan akan naik menjadi 55% dalam satu dekade berikutnya.

Lantas butuh waktu berapa lama mobil-mobil listrik akan mengisi pasar Indonesia secara masif? Akankah pabrikan mobil mau berinvestasi di sini?

Memang tidak mudah menjawabnya.

Akan tetapi satu hal yang pasti, tidak bisa tidak, pemerintah harus memberikan insentif yang memadai untuk mengakselerasi penggunaan mobil listrik dan menarik investasi. Tanpa insentif, perkembangan pasar mobil listrik akan berjalan secara alami sekadar membuntuti waktu.

Toshinaga Kato, General Manager Indonesia Business Departement, Asean Division Mitsubishi Motors Corporation, mengatakan pertumbuhan pesat penjualan mobil listrik secara global juga tidak lepas dari kebijakan insentif. “Tanpa insentif, kendaraan listrik pasti sulit berkembang karena investasinya sangat mahal,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Indonesia tampaknya perlu belajar pada negara-negara maju, khususnya Eropa. Insentif tidaklah melulu berupa fiskal. Bisa juga inisiatif lain.

Di Inggris, Denmark, dan Prancis, pemerintah memberikan subsidi pembelian kendaraan mobil listrik. Jepang, AS dan China juga melakukan hal yang sama. Bahkan, Inggris juga memberikan insentif pengurangan pajak kendaraan listrik yang digunakan korporasi, di samping menyubsidi pemasangan unit charger.

Pemerintah Belanda, selain memangkas pajak kendaraan milik korporasi juga membebaskan pajak kendaraan pribadi. Ditambah lagi, gratis ongkos parkir di seantero Kota Amsterdam.

Norwegia cukup royal dalam memberikan insentif. Di negara ini, kendaraan listrik tidak perlu bayar pajak pertambahan nilai (PPN) dan tarif pajak registrasi ditetapkan lebih rendah ketimbang kendaraan nonelektrik. Pengurangan pajak registrasi juga dilakukan Estonia.

Tidak hanya insentif pajak. Beberapa kota seperti Oslo, menggratiskan ongkos parkir di mana saja. Masuk jalan tol tanpa bayar. Dan, boleh masuk jalur prioritas atau busway.

Dengan adanya berbagai insentif tadi, harga kendaraan listrik menjadi lebih murah. Biaya operasionalnya juga lebih rendah. Semua itu mendorong permintaan kendaraan listrik secara signifikan sehingga pabrikan tak ragu untuk berinvestasi.

Sebagai gambaran saja, jika tanpa insentif, Outlander PHEV terbaru yang Februari lalu dihibahkan Mitsubishi kepada Kementerian Perindustrian, harganya bisa mencapai Rp1 miliar, gara-gara dikenai berbagai macam pajak, yang nilainya bahkan lebih besar daripada pajak kendaraan konvensional. Padahal di Jepang mobil tersebut dijual sekitar Rp700 jutaan.

Begitu mahalnya harga mobil elektrik, sampai sekarang populasinya di Indonesia hanya sekitar 50 unit mobil hybrid.

Dengan harga selangit, siapa yang mau beli? Siapa juga yang mau investasi?

Saat ini, kalangan pabrikan kendaraan tengah gelisah menanti insentif yang akan diberikan pemerintah, serta arah kebijakan pengembangan mobil elektrik. Kita tunggu saja.

Sumber : Bisnis Indonesia, Rabu (11/7/2018)

Tag : Mobil Listrik, Mitsubishi Outlander PHEV
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top