Pakai Mobil Matik, Jangan Lupa Cek Oli Transmisi

Menurut toko dan bengkel suku cadang otomotif Shop and Drive ada satu hal yang sering tidak diketahui banyak pengguna mobil bertransmisi otomatis atau matik.
Muhammad Khadafi | 21 Maret 2018 15:50 WIB
Petugas menata drum yang akan diisi pelumas di Pabrik Pertamina Lubricants, Gresik, Jawa Timur, Selasa (18/4). - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com JAKARTA – Menurut toko dan bengkel suku cadang otomotif Shop and Drive ada satu hal yang sering tidak diketahui banyak pengguna mobil bertransmisi otomatis atau matik.

Para penggunanya seringkali tidak memerhatikan soal oli transmisi. Padahal hal tersebut bisa disebut sebagai darah dan jantung bagi transmisi otomatis.

Sales Area Regional Head Shop and Drive Chinto Adiputera mengatakan bukan hanya oli mesin yang perlu dicek dan diganti secara berkala. Oli transmisi tidak kalah penting.

Setiap mobil memiliki spesifikasi oli transmisi dan rentang waktu pemakaian yang berbeda. Buku manual dan mekanik adalah dua opsi bagi pemilik kendaraan untuk mencari tahu.

“Ada yang tidak perlu diganti, tapi sangat sedikit yang seperti itu. Umumnya 40.000 km sampai 60.000 km,” katanya di Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Namun dia menyarankan para pengguna kendaraan matik melakukan penggantian dan pengurasan lebih cepat dari yang disarankan pabrikan. Dia beralasan karena rentang waktu yang tertera pada buku manual adalah kondisi ideal pemakaian kendaraan. Sementara itu lalu lintas Jakarta seringkali tidak normal.

“Jalanan macet sampai berapa jam itu kondisi tidak ideal,” jelasnya. Dia menyarankan pemilik kendaraan matic mengganti oli transmisi setiap 20.000 km dan menguras setiap 40.000 km. Tentu saja angka itu tidak mutlak menjadi patokan.

Chinto juga mengingatkan cara mengecek volume oli transmisi berbeda dengan oli mesin. Batas minimum dan maksimum harus dilihat berdasarkan dua kondisi, yaitu saat mesin dingin dan panas.

Dia menjelaskan, lazimnya oli transmisi memiliki 4 titik indikator yang terbagi ke dalam dua bagian, Hot dan Cold. Saat mobil dalam kondisi belum digunakan, batas minimum dan maksimum dapat diukur pada bagian Cold. Sebaliknya, Hot menjadi patokan ketika sudah dipakai berjalan beberapa waktu.

“Transmisi matic itu biaya gantinya relatif mahal. Mulai dari Rp3 juta, dan terakhir kami perbaiki itu biayanya sampai Rp20 juta,” ujar Chinto.

B2C Lubricants Technical Manager Shell Indonesia Shofwatuzzaki mengatakan transmisi matic yang umum beredar di Indonesia ada 2 jenis, yakni powershift dan CVT. Keduanya membutuhkan jenis pelumas berbeda. “Pastikan sesuai spesifikasi, karena kalau tidak bisa berakibat untuk jangka panjang,” katanya.

Menurut Zaki, kedua transmisi itu menggunakan teknologi yang berbeda. Bagi powershift, oli digunakan untuk melumasi roda gigi, sedangkan pada CVT untuk melumasi belt yang terbuat dari logam agar tidak cepat putus.

Tag : Industri Pelumas, Shell Indonesia, Mobil Otonom
Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top