Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suzuki Bidik Pertumbuhan Penjualan Motor 5% pada 2014

PT Suzuki Indomobil Sales, agen tunggal pemegang merk motor Suzuki, membidik pertumbuhan penjualan pada 2014 sebesar 5% dari prognosa tahun ini
Donald Banjarnahor
Donald Banjarnahor - Bisnis.com 03 November 2013  |  10:44 WIB
Suzuki Bidik Pertumbuhan Penjualan Motor 5% pada 2014
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR– PT Suzuki Indomobil Sales, agen tunggal pemegang merk motor Suzuki, membidik pertumbuhan penjualan pada 2014 sebesar 5% dari prognosa tahun ini, meskipun banyak kendala yang menghadang.

Dengan target tersebut, maka pabrikan motor dengan pangsa pasar terbesar ketiga di Indonesia ini berharap penjualan bisa menembus 472.500 unit pada 2014, sementara pada tahun ini ditargetkan sekitar 450.000 unit.

Kazumasa Watanabe, Direktur Pelaksana Suzuki Indomobil Sales (SIS), mengakui sulit untuk memprediksi penjualan tahun depan, akibat beberapa faktor seperti ketidakpastian kondisi ekonomi global dan nasional serta penyelenggaraan Pemilihan Umum.

Meski demikian, dia optimistis terjadi peningkatan penjualan sedikitnya 5% dari tahun ini dengan mengandalkan produk Satria 150cc maupun produk baru pada tipe bebek, scooter automatic, dan motor dengan kapasitas mesin besar alias moge.

“Penjualan tergantung pada kondisi ekonomi. Kami akan hati-hati dalam menetapkan target karena sulit untuk memprediksi tahun depan,” ujarnya di sela peluncurkan Suzuki Satria F150 Fighter 1 seri 1 milion edition  (3/11/2013).

Yohan Yahya, General Manager Marketing dan Pengembangan Bisnis Roda Dua SIS, menjelaskan perseroan menyiapkan sebanyak lima model baru motor besar untuk diluncurkan pada tahun depan. Lima model tersebut terdiri atas kelas 200cc, 250cc, 600cc, 650cc, dan 1300cc.

“Tidak semuanya produk baru, ada juga yang hanya facelift [perubahan tampilan seperti Hayabusa 1.300 cc,” jelasnya.
Menurutnya, pelemahan Rupiah dan rencana penaikan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) menjadi kendala utama dalam segmen motor besar. Kedua kendala tersebut akan mendongkrak harga jual motor besar yang akhirnya dapat menurunkan permintaan dari masyarakat.

Namun, perseroan tetap meluncurkan varian baru motor besar sebagai penetrasi bagi masyarakat golongan menengah ke atas di Indonesia yang semakin berkembang. “Andalan tahun depan masih pada Satria dan Matic [scooter automatic] karena pasar pada dua segmen tersebut masih besar,” tuturnya.

Watanabe menambahkan penjualan motor Suzuki pada Oktober mencapai sekitar 31.000 unit. Kinerja tersebut menunjukan kenaikan tipis dari bulan sebelumnya yang tercatat 30.872 unit. Namun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kinerja Juni dan Juli yang tercatat masing 45.320 unit dan 42.070 unit.

Dengan peningkatan sekitar 31.000 unit selama Oktober maka total penjualan motor Suzuki selama 10 bulan mencapai sekitar 349.372 unit atau 78% dari target sepanjang 2013. Yohan mengaku pesimistis penjualan tahun ini dapat mencapai target bila melihat kinerja 10 bulan tersebut.

“Mungkin pencapaian kami hanya sekitar 90% dari target. Kami yakin kondisi serupa juga terjadi pada merk lain,” jelasnya.

Dia menjelaskan hambatan terbesar pada tahun ini terletak pada kenaikan suku bunga kredit setelah Bank Indonesia mulai meningkatkan BI Rate 150bps menjadi 7,25% sejak Juni lalu. Selain itu, dampak penaikan uang muka minimal juga masih menggerus permintaan masyarakat.

“Faktor lain adalah penurunan kinerja industri perkebunan dan pertambangan akibat anjloknya harga komoditas global. Ini menyebabkan permintaan sepeda motor mengalami penurunan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

atm sepeda motor PT Kawasaki Motor Indonesia suzuki motor indonesia
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top