Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FROST & SULLIVAN: AEC Imbangi Dominasi Mobil Jepang

JAKARTA—Lembaga konsultan dan riset bisnis internasional, Frost & Sullivan, memperkirakan pelaksanaan Asean Economic Community (AEC) pada 2015 bakal menciptakan persaingan usaha yang lebih seimbang serta mengurangi dominasi produsen mobil Jepang. Dushyant
Fajar Sidik
Fajar Sidik - Bisnis.com 13 Februari 2013  |  21:45 WIB
FROST & SULLIVAN: AEC Imbangi Dominasi Mobil Jepang
Bagikan

JAKARTA—Lembaga konsultan dan riset bisnis internasional, Frost & Sullivan, memperkirakan pelaksanaan Asean Economic Community (AEC) pada 2015 bakal menciptakan persaingan usaha yang lebih seimbang serta mengurangi dominasi produsen mobil Jepang.
 
Dushyant Sinha, Principal Consultant, Automotive & Transportation Practice Asia Pacific Frost & Sullivan menjelaskan principal otomotif Jepang dengan skala usaha yang tidak terlalu besar, seperti Suzuki, Mitsubishi, Isuzu dan beberapa pendatang baru, akan memperoleh banyak manfaat dari pelaksanaan AEC.  
 
Konsensus masyarakat Asean tersebut diyakini akan menciptakan situasi persaingan usaha yang lebih seimbang sehingga akan mempermudah mereka untuk memperluas eksistensi dan menantang pemain-pemain pasar yang telah mapan.

"Akan tetapi, OEM-OEM [principal] besar Jepang diperkirakan masih akan terus memimpin pasar," tulisnya dalam siaran pers Frost & Sullivan, Rabu (13/2).

Dalam Analisis terbaru Frost&Sullivan, yang bertajuk Strategic Growth Opportunities from AEC Implementation and New Government Policies in Asean, Sinha menyatakan Indonesia, Thailand dan Malaysia merupakan pasar otomotif utama di Asean, yang menguasai 89% dari pasar mobil penumpang.

"Di tingkat global, baik Indonesia, Thailand dan Malaysia tidak termasuk dalam daftar posisi 15 tertinggi pasar mobil penumpang," tambahnya.

Dia mengatakan bahwa negara-negara BRIC jauh lebih besar dari pemain utama pasar Asean, dalam hal volume industri, dan mereka cenderung lebih agresif dalam hal investasi di sektor otomotif.

"Rendahnya tingkat motorisasi di Asean mengindikasikan potensi pertumbuhan yang kuat, sedangkan pasar kendaraan di Eropa Barat dan Amerika Utara dengan tingkat motorisasi yang tinggi mewakili pasar pengganti yang sudah jenuh,” kata Sinha.

China dan India, lanjut Sinha, merupakan pesaing terbesar Asean dalam hal pasar dan investasi otomotif jika dilihat dari ukuran pasar dan kekuatan ekonomi yang lebih besar.

Namun, jika Asean berintegrasi, maka pasar kawasan akan lebih kompetitif dan menjadi pesaing yang lebih mumpuni untuk ekonomi BRIC.

Sinha menyoroti soal tekanan politik dan pembangunan yang tidak merata sebagai penghambat utama implementasi AEC. “OEM-OEM lokal akan merasa sulit untuk mempertahankan posisi mereka dan diperkirakan akan terjadi beberapa konsolidasi pasar.”

Dia mengatakan integrasi Asean juga akan menimbulkan perubahan struktural di sektor otomotif. "Pemain lokal, baik OEM  maupun pemasok, adalah entitas yang akan paling banyak merugi. Secara keseluruhan, konsentrasi pasar diprediksi akan menurun, "tambahnya.(fsi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mobil mobil jepang frost & sullivan aec

Sumber : Agust Supriadi

Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top