Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belum Ada Obat Redam Impor Produk Otomotif dari Jepang, Defisit Tembus US$1,26 Miliar

Meskipun telah banyak prinsipal Jepang yang memproduksi mobil di Indonesia, nyatanya impor dari negeri tersebut masih mengalir deras terutama untuk komponen utama mobil hingga kendaraan angkutan barang.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 24 Juni 2022  |  15:36 WIB
Belum Ada Obat Redam Impor Produk Otomotif dari Jepang, Defisit Tembus US$1,26 Miliar
Mobil diparkir di kawasan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) di Jakarta, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Jepang berkontribusi paling besar terhadap defisit neraca dagang otomotif/kendaraan bermotor dan bagiannya. Sejauh ini, pasar otomotif Tanah Air tetap didominasi prinsipal asal “Negeri Matahari Terbit” itu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait ekspor dan impor kendaraan bermotor dan bagiannya (otomotif) yang tertera dalam HS 87 (untuk CBU, CKD, dan komponen) dan HS 98 (untuk IKD), terjadi defisit cukup besar. Selama lima bulan pertama tahun ini, total nilai ekspor mencapai US$3,79 miliar.

Sebaliknya, nilai impor pada saat bersamaan tercatat sebesar US$3,89, sehingga menghasilkan defisit sekitar US$95,9 juta. Berdasarkan catatan BPS yang diolah Bisnis, defisit tersebut merupakan perdana sejak 2013. Pasca itu, neraca dagang otomotif Indonesia selalu menangguk surplus.

Mayoritas prinsipal di Tanah Air berasal dari Jepang, yang ikut menopang kinerja ekspor otomotif selama ini. Hanya saja, hal tersebut tidak bisa meredam arus importasi yang masuk ke Indonesia.

Impor produk otomotif yang berasal dari Jepang tercatat sekitar US$1,35 miliar, tidak diimbangi nilai ekspor yang hanya US$91,77 juta, sehingga defisit pun cukup besar hingga US$1,26 miliar.

Impor terbesar berasal dari produk komponen utama gear boxes untuk kendaraan penumpang berkode HS 87084027, senilai US$226,47 juta selama Januari-Mei tahun ini. Produk impor terbesar kedua adalah kendaraan angkutan barang dengan bobot kotor antara 5 s.d 24 ton dalam bentuk IKD (Incompletely Knock Down) kode HS 98017020, sebesar US$183,43 juta.

Selain itu, masih terdapat impor IKD lainnya untuk kendaraan angkutan barang dengan bobot kotor lebih dari 24 ton. Impor produk dengan kode HS 98017030 ini mencapai US$85,72 juta selama lima bulan pertama tahun ini.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top