Mobil SUV Pintar Multitalenta Outlander PHEV Model 2019

Dari luar, tampilan Outlander PHEV relatif biasa saja. Di dalam kabin, sepintas juga tak tak beda dengan mobil-mobil lain. Tapi siapa sangka, kalau dijual di Indonesia, harga sport utility vehicle (SUV) ini mencapai kisaran Rp1 miliar. Harga yang fantastis ini tidak lain disebabkan beban pajak yang tinggi.
Chamdan Purwoko | 20 Juli 2018 13:33 WIB
Mitsubishi Outlander PHEV - Jibi/Chamdan Purwoko

Dari luar, tampilan Outlander PHEV relatif biasa saja. Di dalam kabin, sepintas juga tak tak beda dengan mobil-mobil lain. Tapi siapa sangka, kalau dijual di Indonesia, harga sport utility vehicle (SUV) ini mencapai kisaran Rp1 miliar. Harga yang fantastis ini tidak lain disebabkan beban pajak yang tinggi.

Di Jepang, harga mobil ini jauh lebih murah yakni berkisar Rp700 jutaan, karena pemerintah negara tersebut memberikan berbagai insentif keringanan pajak.  Meski 'hanya' Rp700 jutaan, harga ini tetap saja tergolong mahal.

Spesifikasi Outlander PHEV Model 2019
--------------------------------------------------------------------
Output mesin (kW/ps)                99/135@4.500 rpm
Torsi (Nm)                        211@4.500 rpm
Rear motor output (kW/ps)                70 (95)
Rear motor torsi (Nm)                195
Kapasitas baterei (kWh)                13,8
Kecepatan maks. (Km/jam)             170
Akselerasi 0-100 (detik)                10,5
Daya jelajah baterei (Km)                 54
Emisi CO2 (gram/Km)                46
Efisensi BBM                    2,0 liter per 100 Km
Kecepatan pengisian baterei            25 menit (80%)
--------------------------------------------------------------

Mengapa begitu?
Jawabnya, karena mobil ini memiliki teknologi yang relatif baru yakni yakni plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Ini adalah kendaraan listrik hybrid yang batereinya bisa diisi ulang.

Secara umum, mobil listrik berteknologi hybrid bekerja dengan mengombinasikan secara simultan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan listrik yang tersimpan dibeterei.
Pada mobil hybrid (non plug-in), pengisian baterei sepenuhnya bersumber dari listrik yang dihasilkan mesin motor BBM. Jadi, sudah pasti menghasilkan emisi gas buang, meskipun jauh lebih rendah ketimbang kendaraan bermesin konvensional yang sangat polutif dengan volume karbondioksida dari knalpot rata-rata (di Eropa) mencapai level 185,5 gram per kilometer.

Ini berbeda dengan kendaraan hybrid berteknologi plug-in, seperti Outlander PHEV, di mana baterei bisa dicas atau diisi ulang layaknya mengisi bensin di SPBU. Teknologi plug-in memungkinkan kendaraan tidak menghasilkan polusi asap sama sekali karena pengisian baterei bisa dilakukan di  stasiun pengisian listrik, tidak melulu dari mesin motor BBM.

Mesin motor BBM hanya berfungsi sebagai cadangan dan bersifat opsional yang 'terpaksa' digunakan jika daya baterei mulai menurun, sedangkan stasiun pengisian listrik (charger points) tidak kunjung ditemukan sepanjang perjalanan.

Beruntung, saya bersama sejumlah jurnalis dari Jakarta berkesempatan melakukan test drive Outlander PHEV model terbaru 2019 di Marseille, Prancis beberapa waktu lalu. Beruntung juga, saya ditemani satu mobil dengan Rifat Helmy Sungkar, pereli nasional yang punya banyak prestasi di panggung internasional.

Menurut dia, Outlander PHEV model terbaru ini lebih powerful dan memiliki akselerasi lebih instan ketimbang pendahulunya, model 2018. "Handling-nya lebih smooth. Tempat duduknya juga terasa lebih lebar," ujar Rifat.

Outlander PHEV merupakan kendaraan mobil elektrik yang memiliki 'genset' (generator listrik) berbahan bakar minyak fosil. Namun, generator di sini bukan berfungsi sebagai mesin penggerak roda secara langsung, karena tidak ada transmisi.  

Sistem kerja mesin dirancang untuk selalu mengoptimalkan efisiensi BBM dengan memprioritaskan dan mengoptimalkan penggunaan baterei untuk memacu roda. Karenanya, dia selalu dan terus-menerus berupaya mengisi listrik ke baterei dan menjaganya agar tak kurang dari level 65%.

Pengisian baterei dilakukan lewat beberapa cara. Selain dipasok oleh 'genset' yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik cadangan, baterei mobil juga terisi secara otomatis saat deselerasi.

Ketika butuh akselerasi ekstra, kendaraan ini akan mengerahkan daya sehingga mesin bakar menghasilkan listrik lebih besar untuk menggerakkan motor listrik yang terletak di depan dan belakang. Kombinasi power dari baterei dan mesin menghasilkan daya dan torsi lebih besar untuk ngebut.  

Suplai Listrik ke Rumah
Uniknya, baterei mobil ini dapat menyuplai listrik ke rumah hingga sebesar 1.500 Watt selama sekitar 5 hari, bergantung pada penggunaan barang-barang elektronik. Tersedia dua outlet atau colokan. Di dasbor dan area bagasi belakang.

Dalam pengoperasiannya, Outlander PHEV mirip dengan kendaraan bertransmisi otomatis. Bedanya, pada 'tuas persneling'tidak saja terdapat fungsi mundur (reverse/R), normal (N) dan drive (D), tetapi juga ada posisi brake (B) yang berfungsi untuk memperlambat kecepatan, terutama di jalanan yang menurun sehingga penggunaan rem dapat diminimalkan.

Bagaimana pun, penggunaan rem sama saja dengan pembuangan energi secara sia-sia sehingga untuk memperlambat laju kendaraan digantikan dengan menarik tuas pada posisi 'B' sehingga pada saat yang sama pengisian baterai bisa dilakukan.

Ada beberapa opsi posisi 'B' yakni B-1 sampai dengan B-5. Semakin besar angkanya, tahanan akan semakin kuat sehingga pengisian daya listrik ke baterei semakin besar pula. Jadi, pengisian listrik ke baterei tidak melulu datang dari genset tetapi juga memanfaatkan daya gerak mobil saat deselerasi.

Outlander PHEV juga dilengkapi dengan mode 'Sport' yang bisa dipakai jika butuh akselerasi cepat dan instan, semisal akan mendahului kendaraan lain. Dengan mode ini, gerak mobil jauh lebih agresif.

Keunikan lainnya, mobil ini juga punya mode 'saving charging'  yang akan membuat sistem selalu berusaha untuk selalu dan terus mengisi listrik ke baterei. Sistem akan memberikan prioritas utama pada pengisian baterei, baik saat akselerasi maupun deselerasi.

Ada juga tombol EV Mode. Jika tombol ini dioperasikan, kendaraan hanya akan menggunakan motor listrik dari baterei tanpa mengoperasikan motor BBM sama sekali. Mode ini bermanfaat saat mobil berjalan pelan di tengah kemacetan lalu lintas atau melaju di kawasan perumahan dengan jalanan sempit. Selain menghemat isi tangki BBM, juga tak ada gas buang. Bersih!

Dengan rancang bangun seperti ini, Outlander PHEV memiliki tingkat efisiensi yang optimal dan daya jelajah yang sangat jauh, namun cukup andal untuk menjelajah medan off road, karena dilengkapi dengan dua motor, di depan dan belakang yang berarti mobil ini berpenggerak empat roda (4 wheel drive).

Mitsubishi Motors Corporation mengklaim bahwa Outlander PHEV mampu menjelajah sepanjang 800 kilometer, hanya dengan satu kali pengisian penuh baterai dan tangki BBM. Tidak perlu lagi mengisi BBM maupun mengecas ulang baterei sepanjang perjalanan. Klaim ini tampaknya masih perlu dibuktikan dengan melakukan uji coba berkendara dari Jakarta ke Surabaya.

Dalam pengunaan normal di perkotaan, baterei Outlander PHEV bisa menempuh jarak sekitar 60 kilometer, tanpa perlu mengoperasikan 'genset' ataupun mengisi ulang baterai. Sepenuhnya menggunakan energi listrik.

Dengan asumsi seseorang tinggal di Bekasi dan berkantor di Jakarta dengan jarak tempuh pergi-pulang (PP) sekitar 60 kilometer, maka mobil ini sama sekali tidak menghasilkan emisi gas buang. Energi yang digunakan sepenuhnya berasal dari baterai. Dengan jarak segitu, Outlander PHEV tidak butuh bantuan mesin motor BBM untuk memasok listrik.

Tidak hanya urusan emisi gas buang saja. Mitsubishi juga memberi prioritas pada aspek keselamatan. Ada fitur 'Lock' yang berguna saat kendaraan dibawa off road. Ada juga fitur lain untuk menjaga stabililitas laju kendaraan di jalanan basah atau saat hujan.

Fitur 'Snow' yang dapat membantu ban mencengkeram lebih maksimal di jalan bersalju yang licin. Pada mode Snow, komputer akan membagi sistem penggerak roda depan dan belakang sedemikian rupa berdasarkan angle kemudi untuk memperoleh daya cengkeram terbaik saat menikung. Dengan begitu, kendaraan tetap stabil melaju di jalur dan tidak tergelincir. Fitur ini sangat penting untuk pasar Eropa.

Dengan semua kemampuan tadi, Outlander PHEV bukanlah sekadar SUV. Dia adalah sebuah smart car multitalenta yang tidak saja menawarkan kenyamanan berkendara dan andal diajak bertualang, tetapi juga memberi banyak kebaikan untuk Bumi dan kehidupan pada masa mendatang.

Tag : mitsubishi
Editor : Bambang Supriyanto
KOMENTAR


0 Komentar
Urut berdasarkan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top