Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Mobil Rontok, Kajian UI Ungkap Nilai Tambah Insentif Fiskal

Insentif fiskal seperti PPnBM DTP untuk pembelian mobil memberikan efek berganda, berupa penambahan volume, lapangan kerja, hingga peningkatan penerimaan pajak.
Pengunjung mengamati mobil di acara Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2023 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (10/3/2023) - BISNIS/Anshary Madya Kusuma.
Pengunjung mengamati mobil di acara Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2023 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (10/3/2023) - BISNIS/Anshary Madya Kusuma.

Bisnis.com, JAKARTA — Stimulus fiskal yang dikucurkan untuk sektor otomotif dinilai mampu meningkatkan geliat industri di Tanah Air, seiring stagnasi dan kecenderungan penurunan penjualan mobil.

Salah satu stimulus yang dapat diberikan oleh pemerintah adalah diskon Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah alias PPnBM DTP untuk pembelian mobil baru.

Sementara saat ini, pajak yang dikenakan untuk pembelian mobil saat ini meliputi, PPnBM 15%,  Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11%, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) 1,75%, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)12,5%

Pengamat Otomotif LPEM UI Riyanto menjelaskan turunnya harga mobil dari stimulus yang diberikan pemerintah mampu meningkatkan penjualan mobil domestik. Diskon PPnBM juga bisa meningkatkan PPN, PKB, dan BBNKB.

“Di samping itu [stimulus] ini akan memperluas produksi mobil dan meningkatkan output suku cadang. Akan ada peningkatan PPh badan maupun PPh orang pribadi,” katanya pada acara diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) dengan tema “Solusi Mengatasi Stagnasi Pasar Mobil Nasional" pada Rabu (10/7/2024).

Pada simulasi perhitungan PPnBM dipotong menjadi 15%, akan meningkatkan permintaan hingga 53.476 unit dengan penjualan bisa menembus 1,12 juta unit. Kemudian, PPnBM menjadi 7,5% menambah permintaan hingga 80.214 unit dan penjualan menjadi 1,14 juta unit.

Selanjutnya, dia menyebut PPnBM yang terpotong menjadi 5% mampu menambah permintaan sampai 106.952 unit dan penjualan bisa menembus 1,17 unit. Sementara PPnBM 0% bisa menambah permintaan sampai 160.428 unit dengan penjualan mencapai 1,22 juta unit.

“Dari sana dampaknya kepada GDP adalah penciptaan lapangan kerja. Selain itu, investor kalau melihat pasarnya berkembang tertarik juga,” ucapnya.

Hal ini juga akan menciptakan multiplier effect sehingga kontribusi otomotif terhadap GDP baik secara langsung maupun tidak langsung mengalami peningkatan. Kontribusi sektor otomotif terhadap GDP mencapai Rp168,74 triliun dengan PPnBM 15%.

Sementara PPnBM 10% membuat kontribusi sektor otomotif terhadap GDP menjadi Rp177,2 triliun. Kemudian PPnBM 7,5% memberikan kontribusi Rp181,43 juta, PPnBM 5% senilai Rp181,43 juta, dan PPnBM 0% menjadi Rp194,12 juta.

“Impact memang tidak sampai dua kali, tapi lebih dari satu setengah kali. termasuk tenaga kerja. Kalau ada penambahan tenaga kerja otomotif akan menciptakan tenaga kerja dari perekonomian,” jelasnya.

Tambahan tenaga kerja sektor otomotif diproyeksi bisa mencapai 7.740 orang apabila PPnBM menjadi 10%. Kemudian meningkat menjadi 11.611 orang dengan PPnBM 7,5%, 15.481 orang dengan PPnBM 5%, dan 23.221 orang dengan PPnBM 0%.

Di sisi lain, insentif fiskal ini sangat dibutuhkan untuk mengerek penjualan domestik yang mengalami stagnasi selama 10 tahun. Penjualan mobil di Indonesia tak bisa melampaui kisaran 1 juta unit.

Stagnasi pasar ini, ungkap Riyanto, bakal menghapus momentum ekspansi industri seiring utilisasi produksi bertahan di angka 1,4 juta unit per tahun dari kapasitas terpasang 2,4 juta unit.

Terlebih lagi tren otomotif selama semester I/2024 mengalami koreksi cukup dalam. “Dengan pasar yang tak bergerak, investor bakal enggan masuk ataupun mengembangkan model baru, hub produksi terancam,” simpulnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper