Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gonjang-ganjing Baterai LFP, Tesla Butuh Nikel Indonesia

Tesla telah meneken kerja sama pasokan nikel dari kongsi PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Nyoman Ary Wahyudi, Reni Lestari
Kamis, 8 Februari 2024 | 07:00
Proses penambangan Nikel PT Vale Indonesia Tbk. di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (28/7/2023)/Bisnis-Paulus Tandi Bone
Proses penambangan Nikel PT Vale Indonesia Tbk. di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (28/7/2023)/Bisnis-Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA- Kilau nikel belakangan dianggap pudar, seiring anjloknya harga karena pasokan melimpah, juga bergesernya tren baterai nikel untuk mobil listrik. Pabrikan mobil listrik seperti Tesla dan BYD, mengalihkan mayoritas produk menggunakan baterai Lithium Ferro Phosphate atau LFP.

Harga nikel sepanjang tahun lalu melanjutkan tren penurunan. Pasokan melimpah dari Indonesia ditengarai sebagai salah satu sebab utama.

Harga nikel di London Metal Exchange turun hampir setengah dalam setahun terakhir, sehingga mendorong para penambang di luar Indonesia untuk menutup operasinya.

Analis BloombergNEF Allan Ray Restauro mengatakan ketika pasokan logam baterai utama di Indonesia terus meningkat, pasar diperkirakan akan tetap surplus selama sisa dekade ini, dan mendorong harga semakin turun.

Dia mengatakan banjirnya pasokan dari Indonesia diperkirakan akan terus memberikan tekanan pada harga pada 2024. Hal ini karena produksi Indonesia, yang sudah menyumbang setengah dari pasokan global, mungkin terbukti lebih tahan terhadap pengurangan produksi.

Indonesia telah menjadi pusat nikel global setelah melakukan investasi miliaran dolar pada pabrik-pabrik efisien yang memanfaatkan tenaga kerja dan listrik murah, serta bahan mentah yang mudah didapat.

Di sisi lain, tersungkurnya komoditas nikel juga buah dari pergeseran tren industri mobil listrik. Sebelumnya, nikel merupakan primadona bagi material baterai dengan teknologi berbahan baku nikel-mangan-kobalt atau NMC.

Belakangan, para pabrikan mobil listrik raksasa seperti Tesla dan BYD, mengubah arah pengembangan dengan bersandar pada teknologi LFP.

Terdapat sekitar 11 komponen penyusun baterai LFP. Empat yang paling utama adalah material katode, anode, elektrolit dan separator. Untuk baterai LFP, material katoda LFP menempati porsi 30% dari total biaya produksi baterai. Karenanya merupakan yang paling utama.

Material katoda LFP sendiri terdiri dari litium (Li), besi (Fe) dan phospate (PO4) yang tersusun secara stoikiometrik membentuk LiFePO4 atau LFP.

Persoalan kemudian, selayaknya tren LFP pun tak benar-benar menyingkirkan panggung bagi nikel. Pasalnya, dengan mengandalkan besi, sejatinya olahan tambang nikel masih cukup berarti.

Untuk baterai NMC yang mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) tetapi kualitas nomor 1, keberadaan nikel memang menjadi material utama. Sementara pada LFP, bijih nikel kadar tinggi tetapi kualitas nomor 2 yang biasanya dijadikan produk baja nirkarat, juga mengandung unsur besi (Fe).

Sebab itu, sebagaimana dikatakan Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (APMI) Arif S Tiammar, di tengah tren LFP Indonesia memiliki posisi daya tawar yang cukup kuat dengan cadangan nikel terbesar di dunia.

Sebab, katanya, bahan baku besi (Fe) untuk pembuatan LFP itu bisa diekstraski atau diambil dari feronikel (FeNi) atau nikcel pig iron (NPI). “Kandungan besi dalam FeNi atau NPI itu berkisar antara 78% sampai 85%. Satu lagi yang unik, besi dalam FeNi itu sama sekali tidak dihargai alias gratis,” kata Arif saat dihubungi, Kamis (1/2/2024).

TESLA SERAP NIKEL

Teranyar, Tesla yang merupakan pabrikan mobil listrik milik Elon Musk juga dikabarkan tetap melanjutkan kerja sama memboyong nikel asal Indonesia. Hanya saja, kontrak kerja sama pembelian itu diperantara lebih dulu perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt Co dan CNGR Advanced Material Co yang mengimpor nikel dari smelter milik PT Vale Indonesia (INCO) di Sulawesi.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan. Dia  memastikan Tesla Inc. membeli turunan nikel dari proyek smelter yang dikerjakan PT Vale Indonesia (INCO) bersama rekanannya di Sulawesi. 

“Dia [Tesla] mau [beli] nanti di Vale yang joint dengan Ford ada beberapa, dengan Ford dia mau beli mungkin produk mereka itu,” kata Luhut saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/2/2024). 

INCO sendiri tengah mengembangkan tiga proyek nikel baru di Sulawesi, yakni smelter nickel matte di Sorowako, Sulawesi Selatan, smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan smelter feronikel di Bahodopi, Sulawesi Tengah.

Ketiga proyek itu disebut memiliki nilai investasi total US$ 9 miliar atau setara Rp 138,3 triliun (asumsi kurs Rp 15.374 per US$).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper