Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Otomotif Mau Insentif? Ini Tiga Syarat dari Pemerintah

Menperin Agus Gumiwang menilai tiga tantangan utama industri otomotif yakni kelangkaan cip semikonduktor, rantai pasok, hingga mahalnya biaya energi.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 11 Agustus 2022  |  17:59 WIB
Produsen Otomotif Mau Insentif? Ini Tiga Syarat dari Pemerintah
Ilustrasi produk otomotif - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong perusahaan otomotif di Tanah Air untuk menjangkau pasar baru, lebih inovatif, serta menambah anggaran riset dan penelitian.

Hal tersebut, kata Agus, perlu dilakukan untuk menemukan solusi bagi otomotif di Indonesia dalam menghadapi beberapa tantangan yang menghadang industri sampai dengan saat ini.

"Beberapa tantangan itu di antaranya kekurangan bahan baku, masalah semi-konduktor, logistik dan transportasi, dan biaya energi yang tinggi," ujar Agus dikutip dari siaran pers, Kamis (11/8/2022).

Menurutnya, 3 upaya yang perlu dilakukan pelaku tersebut di atas bakal menjadi basis bagi Kemenperin dalam memperjuangkan insentif untuk industri otomotif.

Terkait dengan memastikan ketersediaan bahan baku, pemerintah dan pemangku kepentingan di industri otomotif berupaya meningkatkan kandungan produk lokal, baik suku cadang maupun komponen.

Selain itu, ujarnya, diperlukan pula integrasi antara industri kecil dan menengah (IKM) dalam rantai pasok dan proses produksi dan industri yang lebih besar.

Dalam setahun terakhir, industri otomotii di Tanah Air menunjukkan performa yang terbilang impresif.

Sebagai informasi, Kemenperin mencatar saat ini terdapat 21 industri perakitan kendaraan roda 4 di Indonesia dengan total investasi Rp140 triliun

Dari total nilai investasi tersebut, sebanyak 83,3 persen berasal dari Jepang, 7,5 persen dari Korea Selatan, dan 8,1 persen dari China. “Sedangkan sisanya berasal dari Uni Eropa dan penanaman modal dalam negeri," sambung Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top