Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Australia Jadi Primadona Pabrikan Mobil Listrik, Bagaimana Nasib Indonesia?

Berbagai pabrikan otomotif dunia berupaya menguasai hasil tambang lithium di Australia. Mereka berebut mengamankan rantai pasok industri mobil listrik.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 05 Agustus 2022  |  15:59 WIB
Australia Jadi Primadona Pabrikan Mobil Listrik, Bagaimana Nasib Indonesia?
Baterai Lithioum Ion. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA- Belakangan wilayah Australia Barat menyedot perhatian industri otomotif global seiring penambangan lithium yang menjanjikan cadangan cukup tebal. Hal itupun melecut berbagai pabrikan otomotif dunia mengamankan rantai pasok dengan berbagai kontrak ekslusif.

Wilayah penambangan lithium tersebut terletak di gurun berbatu yang kurang dikenal. Namun seiring semakin trennya produksi dan kampanye mobil listrik, telah melejitkan perusahaan-perusahaan penambang di sana.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/8/2022), industri lithium Australia dibanjiri oleh para bankir dan pialang di Diggers & Dealers Mining Forum yang telah menyambangi kota pedalaman Kalgoorlie. Mereka membicarakan kesepakatan investasi senilai US$42 miliar yang diperlukan bagi produsen logam litihium.

Di sisi lain, pembuat mobil global telah mengambil saham produsen tersebut dari bursa, membatalkan perjanjian pasokan dan bahkan menyerahkan uang tunai untuk ekspansi tambang.

"Nafsu makannya tak terpuaskan," kata Dale Henderson, CEO Pilbara Minerals Ltd., dalam sebuah wawancara. "Setiap produsen lithium sangat populer saat ini," tambahnya.

Di pasar global, pertumbuhan EV sangat mengesankan pada tahun lalu sehingga membutuhkan lebih banyak bahan baku baterai yang utamanya menyerap lithium. China sejau ini mendominasi rantai pasokan lithium, sehingga negara-negara Barat berusaha mengembangkan produksi mereka sendiri.

Sebaliknya, Australia merupakan sumber alternatif bagi produsen tersebut.  Berdasarkan Survei Badan Geologi AS, Australia menyimpan sekitar setengah pasokan lithium dunia.

CEO Liontown Resources Ltd. Tony Ottaviano mengungkapkan masih membutuhkan beberapa tahun ke depan untuk menyiapkan seluruh pasokan bagi para konsumen lithium. Padahal, mulanya, penambangan lithium di Australia dilirik sebelah mata para produsen otomotif.

Pada bulan Juli, Ford Motor Co. mengumumkan kesepakatan dengan Liontown untuk menutup sepertiga kebutuhan dari perkiraan produksi penambang selama beberapa tahun mendatang. Kesepakatan itu juga membuat Ford memberikan fasilitas utang A$300 juta (US$210 juta) kepada Liontown untuk lebih memperluas situs Kathleen Valley.

Transaksi itu mengikuti apa yang disebut kesepakatan offtake Liontown sebelumnya dengan Tesla Inc. dan pembuat baterai Korea Selatan LG Chem Ltd. Itu juga terjadi seminggu setelah pembuat mobil Eropa Stellantis NV mengambil saham ekuitas di penambang lithium Australia Vulcan Energy Resources Ltd.

Sepanjang tahun lalu sejalan dengan peningkatan produksi EV, harga mineral itupun naik hampir 500% pada tahun lalu. Seperti diungkapkan BloombergNEF, pasar lithium akan ketat dan harga kemungkinan akan tetap tinggi untuk sisa tahun ini.

Di tengah perebutan rantai pasok industri mobil listrik, Australia yang melesat sebagai mata rantai penting pun meninggalkan posisi Indonesia. Hingga kini, Indonesia hanya baru menjaring komitmen investasi dari produsen baterai seperti CATL dan LG Energy Solution, sedangkan belum ada pabrikan tertuama dari Eropa yang berkomitmen menanamkan modal meskipun ditawarkan cadangan nikel cukup besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top