Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diskon PPnBM Mobil Permanen, Menkeu Setuju?

Menperin Agus menilai ada beberapa kendaraan roda empat yang tidak lagi relevan untuk digolongkan sebagai barang mewah. Saat ini keputusan mengenai penghapusan PPnBM mobil tertentu ada di tangan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Khadijah Shahnaz
Khadijah Shahnaz - Bisnis.com 31 Desember 2021  |  18:57 WIB
Pengunjung menaiki mobil yang dipamerkan dalam IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/4/2021).  - Antara Foto/Sigid Kurniawan
Pengunjung menaiki mobil yang dipamerkan dalam IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/4/2021). - Antara Foto/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil baru berakhir hari ini, Jumat (31/12/2021). Berdasarkan aturan yang berlaku saat ini, insentif ini hanya berlaku hingga akhir Desember 2021.

Sepanjang Desember atau sebelum tahun 2021 berganti, adu argumentasi pun terjadi antara kepentingan untuk melanjutkan diskon PPnBM dan menghentikan insentif tersebut. 

Adapun insentif ini semula diberikan sejak Maret–Agustus 2021 diperpanjang menjadi hingga Desember 2021. Beberapa hari lalu pun Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengusulkan PPnBM 0 persen dipermanenkan untuk mobil-mobil tertentu kepada Kementerian Keuangan.

Agus pun menilai ada beberapa kendaraan roda empat tidak lagi relevan untuk digolongkan sebagai barang mewah. Mobil yang dimaksud adalah yang memiliki harga kurang dari Rp250 juta, bermesin maksimal 1.500 cc, dan memenuhi local purchase 80 persen. 

"Kami mau memisahkan satu jenis kendaraan ini, tidak masuk kategori barang mewah, tidak masuk rezim PPnBM, tax-nya 0 persen," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (29/12/2021).

Sementara itu hari ini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah masih mengkaji perpanjangan insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sektor otomotif di 2022. 

Untuk PPnBM mobil belum diputuskan, Presiden minta dikaji lagi terutama tentu dikaitkan dengan apakah demand-nya sudah meningkat cukup bagus, jadi kita akan lihat," kata Sri Mulyani dikutip dari Antara.

Sri Mulyani pun mengatakan pemerintah saat ini lebih selektif dalam memberikan insentif dikarenakan ada beberapa sektor industri telah mulai pulih dari dampak COVID-19.

"Kalau manufaktur dan perdagangan mulai bergerak cukup kuat, jadi kita akan menggunakan instrumen itu secara selektif sekarang," jelas Sri Mulyani

Sebelumnya Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan insentif PPnBM Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor otomotif termasuk satu dari empat Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang akan dibiayai melalui strategi front loading pada 2022.

“Terkait dengan usulan otomotif ini akan terus dibahas karena ini masih perlu pembahasan lebih lanjut,” kata dia, Kamis (30/12/2021).

Dari sisi Otomotif pun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengharapkan hal yang sama seperti Menperin.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan seharusnya ada beberapa  kendaraan-kendaraan yang dibebaskan dari PPnBM ini seperti mobil Low Cost Green Car (LCGC) tidak terjadi, karena dianggap bukan sebagai barang mewah

"Sudah selayaknya tidak dikenakan lagi PPnBM, jadi konsep pengenaan barang mewah itu dikenakan pada barang atau benda yang diupayakan adanya batasan kepemilikan," jelas Kukuh

Kukuh juga menjelaskan insentif PPnBM terbukti memberikan dampak positif untuk segala pihak yaitu masyarakat yang dibebaskan pajak ini, industri otomotif yang dapat berkembang dan untuk pemerintah, adanya pertumbuhan ekonomi. 

"Dari PPnBM DTP potential loss-nya di sisi pemerintah yaitu PPnBM yang seharusnya dibayarkan dan dapat diterima sebagai revenue namun dibebaskan. Tapi ternyata potential gain-nya , hasil yang didapatkan dari bebaskan PPnBM lebih banyak, salah satu indikasinya ada kajian yang dilakukan selama 3 bulan pada Maret sampai Juni , cost-nya itu sekitar Rp2 triliun, namun gain-nya lebih tinggi itu Rp5 triliun lebih," ujar Kukuh, Selasa (21/12/2021).

Berdasarkan data dari Gaikindo, secara total, produksi kendaraan bermotor roda empat dan lebih sepanjang Januari–November 2021 telah mencapai 1.003.570 unit atau naik 61,4 persen secara tahunan. 

Toyota berkontribusi 41,3 persen dan diikuti oleh Daihatsu (14,7 persen), Mitsubishi (13,2 persen), Suzuki (11,4 persen) dan Honda (7,9 persen). 

Sementara itu, pada periode yang sama ekspo mobil utuh atau completely built up (CBU) naik 29,3 persen, atau menjadi 267.224 unit. Daihatsu dan Toyota menjadi kontributor utama dengan menyumbang 61,3 persen atau 169.544 unit.  Mitsubishi, Suzuki, dan Honda, masing-masing menyumbang 17,8 persen, 17,1 persen, dan 2,5 persen. 

Sisanya terbagi antara Hino, DFSK, Hyundai, dan Wuling, di mana setiap pabrikan berkontribusi kurang dari 0,5 persen. 

Dan  penjualan dari dealer ke konsumen atau retail tumbuh 49,5 persen, menjadi 761.861 unit, sedangkan penjualan dari pabrik ke dealer atau wholesales naik 66,5 persen menjadi 790.524 unit. 

Gaikindo menargetkan tahun ini dapat ditutup dengan angka lebih dari 850.000 unit dan pada 2022 diharapkan tren positif berlanjut, sehingga pasar otomotif dapat membukukan penjualan setidaknya 900.000 unit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

otomotif penjualan mobil PPnBM
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top