Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Pasokan Cip Pukul Industri Otomotif Global, Indonesia Masih Aman

Industri otomotif global saat ini sedang menghadapi krisis pasokan cip semikonduktor yang membuat aktivitas produksi melambat. Namun, beberapa pabrikan di Indonesia menyatakan kegiatan produksi mereka belum terdampak oleh krisis tersebut.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 21 Januari 2021  |  19:06 WIB
Pekerja di Pabrik Toyota Indonesia. /TMMIN
Pekerja di Pabrik Toyota Indonesia. /TMMIN

Bisnis.com, JAKARTA – Industri otomotif global saat ini sedang menghadapi krisis pasokan cip semikonduktor yang membuat aktivitas produksi melambat. Namun, beberapa pabrikan di Indonesia menyatakan kegiatan produksi mereka belum terdampak oleh krisis tersebut.

Industri otomotif memulai tahun 2021 dengan langkah berat. Krisis pasokan cip akibat melambungnya permintaan elektronik global, telah memaksa sejumlah pabrikan otomotif di dunia memangkas produksi hingga merumahkan ribuan karyawan.

Volkswagen AG, sebagai produsen otomotif terbesar di dunia, bahkan tidak luput dari krisis itu. Stephan Wollenstein, CEO Volkswagen di China, menyatakan perusahaan telah kehilangan sekitar 10.000 unit mobil pada Desember 2020.

Sejak saat itu, perusahaan telah kehilangan produksi 50.000 unit karena kekurangan pasokan cip semikonduktor. “Anda lihat betapa rentannya industri kita jika hanya satu cip yang hilang,” kata Wollenstein dalam diskusi daring, dikutip dari Bloomberg.

Wollenstein mengatakan kekurangan cip berdampak pada model yang menggunakan program stabilitas elektronik, sebuah sensor yang bekerja dengan sistem pengereman antiterkunci pada mobil guna mencegah macetnya roda setelah belok secara tak terduga.

Wollenstein memprediksi bahwa krisis pasokan semikonduktor akan berlanjut hingga kuartal I/2021. Saat ini, perusahaan sedang menghubungi produsen cip di seluruh dunia untuk menopang pasokan yang lebih baik.

Krisis pasokan cip juga memengaruhi kegiatan produksi dari produsen otomotif Jepang. Toyota Motor Corporation, misalnya, menghentikan aktivitas pabriknya di Guangzhou, China, pada 11 Januari. Fasilitas yang dioperasikan bersama Guangzhou Automobile Group Co itu sedikitnya memproduksi lebih dari 300.000 kendaraan setiap tahun.

Honda juga sempat mengumumkan penghentian produksi di Pabrik Swindon, Inggris, pada 5 – 6 Januari 2021. Penghentian akibat krisis komponen cip itu pun berlanjut pada 18 Januari dan pabrik rencananya kembali beroperasi pada 22 Januari.

Tak ketinggalan, Nissan juga terpaksa mengurangi produksi Nissan Note di salah satu pabriknya di Jepang karena kekurangan pasokan cip. Produksi Note akan dipangkas menjadi 5.000 unit dari rencana semula 15.000 unit.

Minimnya pasokan cip juga hingga di produsen mobil mewah, Audi. kekurangan pasokan memakasa menunda produksi dan membuat ribuan pekerjanya dirumahkan.

CEO Audi Markus Duesmann menuturkan merek yang berada di bawah naungan Grup Volkswagen AG ini telah merumahkan lebih dari 10.000 pekerja karena produksi melambat.

Menurutnya, krisis pasokan cip ini tidak akan memengaruhi produksi Audi sepanjang 2021 karena perusahaan bakal menggenjot aktivitas pabrik pada paruh kedua untuk menggantikan waktu yang telah hilang.

“Audi akan melakukan semua yang kami bisa untuk mempertahankan sedikitnya di bawah 10.000 unit model yang diproduksi untuk kuartal pertama,” tutur Markus.

Situasi berbeda ditunjukkan industri otomotif Tanah Air. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Honda Prospect Motor (HPM) menyatakan krisis tersebut belum memengaruhi kegiatan produksi pabrikan.

Bob Azam, Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal TMMIN, memastikan bahwa kegiatan produksi masih berlangsung normal. “Belum ada impaknya untuk kami sampai saat ini,” ujar Bob melalui pesan singkat kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Business Innovation and Sales & Marketing PT HPM Yusak Billy mengatakan kegiatan produksi kendaraan bermotor roda empat di dalam negeri belum terkendala oleh krisis komponen cip semikonduktor.

Menurutnya, tingginya tingkat komponen dalam negeri dari produk kendaraan roda empat milik Honda membuat kegiatan produksi berjalan normal di tengah krisis cip global.

“Jadi, saat ini belum masalah hingga beberapa bulan ke depan, produksi tetap lancar. Namun, kami tetap monitoring juga terkait informasi itu untuk kemudian disesuaikan dengan strategi Honda Indonesia,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chip cip Pabrik Mobil
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top