Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kendaraan Listrik Prospektif, Industri Komponen Otomotif Terancam

Kendaraan listrik disebut salah satu segmen bisnis yang prospektif. Namun, industri komponen otomotif terancam mati apabila adopsi kendaraan listrik telah berjalan optimal sesuai target yang ditetapkan pemerintah.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 26 November 2020  |  17:56 WIB
Industri logam di Jawa Tengah. Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) memperkirakan volume produksi industri komponen untuk mesin dengan teknologi pembakaran akan berkurang sekitar 30 persen.  - ANTARA
Industri logam di Jawa Tengah. Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) memperkirakan volume produksi industri komponen untuk mesin dengan teknologi pembakaran akan berkurang sekitar 30 persen. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Kendaraan listrik disebut salah satu segmen bisnis yang prospektif. Namun, industri komponen otomotif terancam mati apabila adopsi kendaraan listrik telah berjalan optimal sesuai target yang ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan peta jalan yang dirancang oleh Kementerian Perindustrian, populasi kendaraan listrik di Indonesia ditargetkan mencapai 20 persen dari total volume penjualan domestik pada 2025.

Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM- UI) Riyanto mengatakan kehadiran era mobil listrik dapat mematikan industri komponen otomotif jika pemerintah tidak melakukan pencegahan.

"Ini yang menjadi pemikiran bersama dengan adanya kendaraan listrik. Banyak industri komponen yang terdegradasi, karena komponen kendaraan listrik berbeda dengan kendaraan biasa,” ujar Riyanto dalam webinar, Kamis (26/11/2020).

Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan tindakan pencegahan agar industri komponen kendaraan konvensional dapat cepat beralih. Jika pemerintah tidak sigap, tenaga kerja di industri otomotif dapat kehilangan pekerjaanya.

Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) memperkirakan volume produksi industri komponen untuk mesin dengan teknologi pembakaran akan berkurang sekitar 30 persen. Ini disebabkan komponen mobil listrik tidak sama dengan kendaraan konvensional.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian berkomitmen akan mengadakan pelatihan bagi industri kecil dan menengah komponen otomotif agar bisa memasok komponen untuk kendaraan listrik.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Taufik Bawazier menyatakan pelatihan bagi industri kecil dan menengah (IKM) menjadi penting karena populasi kendaraan listrik ditargetkan tembus 20 persen pada 2025.

“IKM akan dibina untuk memasok [komponen KBL] karena kami mensyaratkan tingkat komponen dalam negeri pada 2030 hingga 80 persen," ujar Taufiek beberapa waktu lalu.

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan ada lima bisnis yang prospektif, termasuk kendaraan listrik.

"Ada lima bisnis atau kegiatan ke depan yang sangat menarik. Saya bilang tuh, they are coming [mereka datang], bukan they will come [mereka akan datang]. They are coming faster and faster to our life [mereka datang semakin cepat dalam hidup kita]," kata Jonan dalam webinar di Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Toyota dan Hyundai tengah menyiapkan fasilitas produksi kendaraan listrik di Indonesia. Selain itu, ada DFSK dan ByD. Tesla juga telah menyebut Indonesia sebagai negara dengan bahan baku baterai terbaik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik Kendaraan Listrik
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top