Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Bikin Loyo, Industri Ban Vulkanisir Dapat Berkah

Pelemahan daya beli ternyata menjadi anugerah tersendiri bagi industri ban vulkanisir. Pasalnya, harga ban vulkanisir yang hanya separuh harga ban baru menjadi pilihan menarik saat pendapatan dan daya beli berkurang pada masa pandemi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  07:25 WIB
Pedagang menyusun pelek dan ban mobil bekas ketika membuka tempat usahanya di Pekanbaru, Riau, Senin (12/10/2020). Pedagang pelek dan ban mobil bekas di kawasan tersebut mengaku penjualan berangsur kembali normal setelah sempat anjlok imbas dari wabah COVID-19.  - ANTARA
Pedagang menyusun pelek dan ban mobil bekas ketika membuka tempat usahanya di Pekanbaru, Riau, Senin (12/10/2020). Pedagang pelek dan ban mobil bekas di kawasan tersebut mengaku penjualan berangsur kembali normal setelah sempat anjlok imbas dari wabah COVID-19. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan daya beli ternyata menjadi anugerah tersendiri bagi industri ban vulkanisir. Pasalnya, harga ban vulkanisir yang hanya separuh harga ban baru menjadi pilihan menarik saat pendapatan dan daya beli berkurang pada masa pandemi dan penantian vaksin corona.

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) meramalkan volume produksi industri ban vulkanisir akan melonjak 20-30 persen hingga akhir 2020. Vulkanisir ban sepeda motor dan pengurangan volume impor ban bus dan truk dinilai menjadi pendorong pertumbuhan tersebut.

"Selama ini salah satu saingan mereka adalah ban bus dan truk dari China karena murah. [Harga] ban vulkanisir [bus dan truk] misalnya Rp1,8 juta per unit, ban dari China itu kena Rp2,2 juta," ucap Ketua Umum APBI Azis Pane kepada Bisnis, Senin (12/10/2020).

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) mencatat realisasi serapan karet alam oleh industri ban vulkanisir mencapai 97.700 ton pada 2019 atau tumbuh 4,88 persen dari realisasi tahun sebelumnya. Adapun, konsumsi tersebut lebih besar dari gabungan konsumsi industri sarung tangan karet dan ban roda dua pada tahun yang sama.

Sementara itu, jumlah produksi ban vulkanisir pada 2019 naik tipis 0,99 persen menjadi 20,9 juta unit. Utilisasi industri ban vulkanisir konsisten berada di level 80 persen walau jumlah produksi tetap tumbuh lantaran kapasitas terpasang industri terus tumbuh sekitar 2,94 per tahun selama 2014-2019.

Dengan kata lain, serapan karet alam oleh industri ban vulkanisir pada tahun ini akan naik ke kisaran 122.125 ton. Adapun, produksi ban vulkanisir diperkirakan akan lebih banyak lantaran vulkanisir ban sepeda motor menjadi salah satu pendorong pertumbuhan.

Di sisi lain, saat ini 18 industri ban di dalam negeri tetap melakukan proses produksi, namun sesuai dengan permintaan pasar. Dengan kata lain, industri ban nasional tidak lagi mengisi gudang-gudang industri maupun peritel.

"Pabrik hanya buat ban pesanan, karena dari pemesanan itu akan dibayar secara cash. Jangan kita berandai-andai, sudah berat kali ini," ucapnya.

Azis menyatakan pabrikan ban saat ini telah mengubah shift menjadi tiga regu dari posisi bulan lalu sebanyak dua shift. Menurutnya, satu-satunya katalis yang bisa membuat industri ban nasional kembali bergairah adalah penemuan vaksin Covid-19.

Dengan kata lain, industri ban baru akan kembali tumbuh positif secepatnya kuartal I/2020. "You mau kasih stimulus [ekonomi]? Mereka [pabrikan] bilang tidak mau [tenaga kerjanya] mati."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik ban Ban Motor Ban Vulkanisir
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top