Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Moncer, Peningkatan TKDN Wuling Dinantikan

Wuling Motors menjadi pendatang baru yang mencuri perhatian pasar otomotif nasional. Sejak kehadirannya pada 2017, merek asal China ini dengan cepat masuk dalam daftar 10 besar terlaris, namun secara umum tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN produk Wuling masih jauh di bawah para produsen yang telah memiliki fasilitas pabrik di Indonesia. 
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  15:52 WIB
Pengunjung memadati stan Wuling Motors pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Senin (6/8/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Pengunjung memadati stan Wuling Motors pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Senin (6/8/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA- Wuling Motors menjadi pendatang baru yang mencuri perhatian pasar otomotif nasional. Sejak kehadirannya pada 2017, merek asal China ini dengan cepat masuk dalam daftar 10 besar terlaris, namun secara umum tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN produk Wuling masih jauh di bawah para produsen yang telah memiliki fasilitas pabrik di Indonesia. 

Sebagai pendatang baru, Wuling tergolong sangat agresif baik dari sisi produk yang dihasilkan maupun ekspansi jaringan diler. Penjualan Wuling yang mulai melaju membangkitkan asa untuk berkontribusi lebih terhadap pengembangan industri lokal khususnya melalui tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Pabrik Wuling dengan nilai investasi US$700 juta mulai beroperasi pada Juli 2017 dengan Confero sebagai model pertama yang dipasarkan. Pabrik itu berlokasi di Cikarang, Jawa Barat dengan luas sekitar 60 ha yang terbagi atas area manufaktur dan pemasok.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat pada debutnya (Juli 2017) atau hanya dalam kurun waktu 6 bulan, Wuling mampu memasarkan sebanyak 3.268 unit.

Penjualan Wuling terus bergerak naik pada 2018 dengan langsung masuk 10 besar merek terlaris dengan penjualan ritel sebanyak 15.162 unit atau meraih 1,3% pangsa pasar.

Pada 2019, ketika pasar otomotif nasional melambat pada kisaran 9,5%, Wuling sekali lagi mencatatkan kinerja apik. Sepanjang 2019, merek China ini mampu mengirimkan kendaraan ke konsumen sebanyak 21.112 unit.

Penjualan Wuling itu tumbuh hampir 40% dibandingkan 2018. Bersama Nissan, Wuling menjadi dua merek dalam daftar jajaran 10 yang mencatatkan pertumbuhan penjualan.

Hingga akhir 2019, Wuling tercatat memasarkan empat model kendaraan yakni Confero, Cortez, Formo dan model sport utility vehilce (SUV) Almaz. Strategi harga dan fitur yang ditawarkan membuat Wuling mendapatkan sambutan positif.

Pada 2019, Almaz menjadi salah satu penyumbang volume terbesar Wuling pada 2019 lalu. Sejak kehadirannya, Almaz mendapat sambutan positif berkat model, fitur dan harga yang ditawarkan.

Almaz misalnya menjadi satu-satunya model pada kisaran harga Rp300-an juta yang menawarkan perintah suara berbahasa Indonesia melalui Wuling Indonesia Voice Command (Wind). Almaz menjadi kendaraan yang unik khususnya dari sisi fitur Wind yang mendapat sambutan positif masyarakat.

Selain kinerja penjualan yang memiliki tren naik, Wuling juga mulai melakukan ekspor pada 2019. Wuling Indonesia yang sebagian sahamnya dimiliki General Motors China mengapalkan Chevrolet Captiva ke sejumlah negara di Asean.

Captiva yang diekspor itu dibangun di atas platform yang sama dengan Wuling Almaz yang dipasarkan di dalam negeri. Wuling juga berencana untuk terus meningkatkan ekspor.

Kinerja positif penjualan di pasar domestik dan aktivitas ekspor membuat Wuling menjadi salah satu merek yang diapresiasi pemerintah. Wuling dinilai memenuhi kriteria investasi yang berorientasi ekspor yang pada akhirnya berkontribusi pada neraca perdagangan otomotif nasional.

Bersama dengan apresiasi pemerintah, Wuling juga memiliki peluang untuk meningkatkan TKDN. Hingga akhir tahun 2019, TKDN kendaraan Wuling produksi Cikarang belum menyentuh angka 60%.

Padahal, TKDN menjadi salah satu cara meningkatkan daya saing produk sekaligus mengembangkan industri pemasok dalam negeri. Kementerian Perindustrian misalnya terus memacu industri kecil menengah (IKM) untuk menambal celah impor komponen otomotif kerap ikut andil pada defisit
neraca perdagangan otomotif.

Di sela-sela perayaan ekspor pada September 2019 lalu, Presiden Direktur PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motor) Fu Feiyun mengatakan, Wuling Motor terus berupaya untuk meningkatkan TKDN bersama pelaku usaha komponen baik yang di dalam maupun yang di luar pabrik.

TDKN produk Wuling seperti Confero sebesar 55%, Cortez 47% dan Almaz 43,5%. Utilisasi pabrik juga masih rendah karena baru memproduksi sekitar 20.000-an kendaraan per tahun sementara memiliki kapasitas hingga 120.000 unit per tahun.

“Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan TDKN dengan menggandeng perusahaan pemasok komponen,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Wuling Motors
Editor : Kahfi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top