Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Otomotif China Diprediksi Turun, Indonesia Perlu Waspada

China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) memproyeksikan pasar akan turun 2% pada tahun ini yang dipicu perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat tensi perang dagang dengan Amerika Serikat.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  13:58 WIB
Deretan mobil di Pelabuhan Tanjung Priok. - JIBI/Nurul Hidayat
Deretan mobil di Pelabuhan Tanjung Priok. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan pasar kendaraan di China yang diprediksi terjadi pada tahun ini dinilai tidak akan berpengaruh langsung ke industri otomotif Indonesia. Namun, ada kemungkinan hal tersebut membawa dampak negatif di kemudian hari.

China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) memproyeksikan pasar akan turun 2% pada tahun ini yang dipicu perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat tensi perang dagang dengan Amerika Serikat.

Pemerhati industri otomotif Fransiscus Soerjopranoto mengatakan dampak perang dagang terbukti menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan industri otomotif. Hal yang sama, katanya, juga bisa terjadi pada industri otomotif di Indonesia.

“Kalau kita lihat fenomena market China, itu kan jelas bahwa ada sesuatu dalam industri otomotif, jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa industri otomotif itu kebal terhadap faktor eksternal. Walupun di satu sisi, APM [agen pemegang merek] melakukan strategi dengan produk baru, perbaikan layanan, dan sebagainya,” katanya kepada Bisnis, Selasa (14/1/2020).

Dia memperkirakan kondisi yang sama bisa terjadi dengan kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan. Meski ada sentimen positif dari berlalunya Pemilu, hal ini dinilai tidak akan menjadi faktor utama dalam mendorong penjualan pada 2020.

Meski begitu, dia menilai pengaruh perang dagang sejauh ini belum terlalu berdampak negatif bagi Indonesia. Bahkan, dalam hal tertentu menurutnya hal ini cenderung menguntungkan. Contohnya dari sisi nilai tukar yang menguat karena tren dedolarisasi.

“Perang dagang itu dampaknya ke mana-mana, tapi kita bisa bilang kita beruntung, karena ada aksi dedodalirasi, itu yang membuat rupiah menguat. Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang positif saat ini,” katanya.

Hal ini menurutnya akan menjadi keuntungan bagi pelaku industri otomotif domestik, karena akan menurunkan biaya produksi, khususnya dari komponen yang masih harus diimpor. Namun, hal ini juga dapat menjadi tantangan dalam menggenjot ekspor.

Ancaman dari kondisi global saat ini menurutnya akan berimbas pada kinerja perdagangan sektor otomotif di pasar luar negeri. Perang dagang dinilai menjadi juga akan menjadi pemicu meningkatnya tren proteksionisme di sejumlah negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri otomotif
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top