Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Otomotif China Diproyeksi Turun 2 Persen, Pabrikan Global Waswas

Pada 2019 penjualan kendaraan di China turun 8,2% secara tahunan.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  16:24 WIB
 Pusat perakitan Volvo di China. - Volvo Cars
Pusat perakitan Volvo di China. - Volvo Cars

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri otomotif bakal mendapatkan tantangan berat setelah China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) memproyeksikan pasar pada 2020 akan terkontraksi 2%.

Adapun, pada 2019 total penjualan di pasar mobil terbesar dunia itu turun 8,2% secara tahunan. Hal ini dipicu oleh tekanan dari standar emisi baru, penyusutan pertumbuhan ekonomi, serta perang dagang dengan Amerika Serikat.

CAAM juga menyatakan bahwa penjualan mobil pada Desember kembali melanjutkan tren penurunan yang terjadi dalam 18 bulan terakhir. Penurunan penjualan dimulai pada 2018, sebesar 2,8%, menjadi tantangan bagi industri otomotif China yang mulai menggeliat sejak 1990-an.

Meski begitu, para pelaku industri otomotif di China masih berharap akan ada perbaikan penjualan pada tahun ini. Mereka menggantungkan harapannya pada ekspektasi perbaikan penjualan di sejumlah daerah, dan meredanya tensi perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Pejabat Senior CAAM Shi Jianhua mengatakan bahwa para pelaku industri otomotif di China harus membiasakan diri dengan perubahan ini. Menurutnya, era pertumbuhan tinggi sudah berganti ke era pertumbuhan rendah.

“Kita sudah tidak lagi berada pada fase pertumbuhan tinggi. Kita harus menerima kenyataan pertumbuhan yang lambat saat ini. Kita telah menikmati pertumbuhan tinggi selama 28 tahun, dan itu tidak buruk. Saya berharap semua pihak bisa dengan tenang mengamati kondisi pasar,” katanya, dikutip dari Reuters, Selasa (14/1/2020).

Penjualan mobil listrik di China turut mengalami penurunan sebesar 4% pada tahun lalu, menjadi 1,24 juta unit. Pada tahun sebelumnya, penjualannya meningkat 62%, namun hal itu tidak berlanjut pada 2019 setelah adanya pemotongan subsidi pada Juli.

Pada 2017, sejatinya pemerintah China menargetkan penjualan mobil listrik dapat mencapai 2 juta unit pada 2020. Melihat kondisi ini, Sekjen CAAM Xu Haidong mengatakan bahwa target itu tak mungkin lagi tercapai.

“Penjualan mobil listrik atau new energy vehicle [NEV] sepertinya akan bertahan pada angkan yang sama dengan tahun lalu,” ujarnya.

Sebagai pasar paling besar di dunia, tren penurunan penjualan di negara itu turut membuat khawatir para pelaku industri otomotif global. Jauh-jauh hari, sebagian produsen bahkan telah menyapih target produksi, menutup pabrik, hingga melakukan efisiensi pegawai.

Para petinggi pabrikan besar seperti Geely, Ford Motor Co. dan mitranya Chongqing Changan Automobile Co. Ltd. telah menyatakan proyeksinya tentang persaingan pasar 2020 yang dinilai akan jauh lebih ketat.

Ford sebelumnya menyatakan bahwa penjualan mereka di China pada tahun lalu kembali menyusut, melanjutkan tren 3 tahun terakhir. Penurunannya juga bahkan lebih tinggi dari 2018. Namun demikian, Ford mulai melihat celah pasar yang stabil di segmen premium.

Matt Tsien Presiden GM China juga berhati-hati dalam menyikapi proyeksi pasar 2020. Setelah mencatatkan penurunan penjualan 15% pada 2019, dia memperkirakan tren itu akan berlanjut pada tahun ini. Volkswagen AG juga memperkirakan bahwa pertumbuhan pasar China melambat dalam 5 tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri otomotif penjualan mobil
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top